Tampilkan postingan dengan label Bincang-bincang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bincang-bincang. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2019

Memetik Hikmah dari Puisi-puisi Transendental Karya Moh. Ghufron Cholid



Oleh Imron Tohari

“Sastra adalah jalan keempat untuk mencari kebenaran, setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.” ( Teeuw ).

Seperti yang dikatakan Teeuw di atas, seperti itulah yang saya temukan pada sajak-sajak Moh. Gufron Chalid yang terkumpul pada 17 sajak pilihan, yang di inbokkan ke saya untuk saya pelajari.

Setelah menelusuri setiap detak nafas sajak-sajak tadi, di sana saya dapat merasakan bagaimana penyair dalam menjalani proses pencarian jalan kebenaran melalui medium sastera.

Sebagai salah satu alat atau media untuk meletupkan rasa dan pemikiran-pemikiran yang diharapkan dapat mempengaruhi pola piker dan atau pola piker baru yang berdampak positip pada pribadi penyair serta penghayat selanjutnya, puisi,sajak, merupakan perwujudan yang tepat dari sekumpulan kata atau kalimat yang merupakan bagian dari yang namanya bahasa (baca: bahasa hati,bahasa piker,bahasa rasa, dll).

Bahwa Puisi sebagai reinkarnasi bahasa/samsara bahasa, pada kelahirannya kembali, tidak terlepas dari proses/ritus suasana baik buruk yang mempengaruhi rasa imajinatip pengkarya ciptanya. Dalam pengertian, melalui puisi penyair berusaha menghidupkan imaji tersembunyi ke dalam tubuh “bahasa”. Tubuh bahasa dari bayangan diri, baik bayangan diri penyairnya maupun bayangan diri penikmat bacanya yang sudah menyatu pada bayangan puisi itu sendiri!, maka jadilah bayangan diantara bayangan; diri membayang pada puisi, puisi membayang pada diri. Dan puisi yang baik, adalah puisi yang ditulis dengan penuh ketulusan, serta tetap mengacu pada estetika moral, sehingga nantinya bisa memberi pencerahan positip dan atau bisa menciptakan pola piker baru yang baik bagi pencipta maupun apresiator yang membacanya.

Bahkan Jhon F Kennedy mantan presiden Amerika yang fonumenal mengkaitkan puisi dengan kehidupan bernegara: “ bila politik bengkok, maka Puisi yang akan meluruskannya”. Dari statemen tersebut, betapa penting dan berpengaruhnya puisi yang baik, tidak hanya dikaitkan dari sudut agama atau keyakinan saja, tapi juga terkait kuat (bila mau menyelaminya) bagi tatanan Bangsa,Negara, dan perbaikan pola piker positip bagi masyarakat dan atau indifidu penghayat.

Latar belakang budaya, pendidikan, pola hidup, kejiwaan, keyakinan, dll, sangat berpengaruh sekali akan hasil perwujudan puisi, baik dalam kapasitas tekstual puisi maupun muatan makna yang tersurat dan atau tersirat pada karya sastra puisi,sajak bersangkutan.

Dan factor-faktor seperti itu juga yang mempengaruhi karya-karya Moh. Ghufron Cholid yang terkumpul pada 17 puisi pilihan “MENUJU PELABUHAN.” Dimana nuansa transendental (kemenonjolan hal-hal yang bersifat spiritual/kerohanian) sangat menonjol pada setiap karyanya. Tidak perlu heran, karena lingkungan agamis yang kuat dari keluarganya serta atmosfir kehidupan pesantren, secara tidak langsung telah membentuk pola pikernya dalam berkarya cipta.

Seperti yang tertuang pada enam buah puisi Moh.Ghufron Cholid “ Menuju Pelabuhan, Sholat, Pertemuan, Selepas Subuh, Perempuan malam,dan Pengakuan “ yang saya anggap paling kuat dari segi alur, bunyi, pemaknaan, sehingga sangat-sangat menyita perhatian saya selaku penghayat, bila dibandingkan dengan puisi lainnya yang tergabung dalam 17 puisi pilihan “MENUJU PELABUHAN”, yang menurut saya terkesan hanya mengalir biasa saja.

Tajuk puisi ““Menuju Pelabuhan” yang sekaligus dijadikan sebagai puisi pembuka pada 17 kumpulan puisi pilihan Moh.Ghufron Cholid, begitu kental dengan nuansa transendental, betapa aku lirik beserta segala ketidak berdayaannya dalam menghadapi tipu daya pesona dunia nan fana, dengan tiga hal sifat yang senantiasa melekat pada insan Tuhan ( suka berkeluh kesah, tak pernah merasa puas, dan penyakit iri ), di sini aku lirik berusaha melawannya dengan cara mendekatkan diri pada sang pencipta, serta menyadari dengan sepenuh rendah hati, betapa tiada yang patut dia sombongkan di hadapan Illaihi Rabbi, serta berharap mendapat Ijabah dengan cara sujud yang sebenar-benar sujud atas segala kebesaran-Nya.

Dan nuansa seperti itu akan pembaca dapatkan pada Sajak “Menuju Pelabuhan” yang menjadi tajuk dan pembuka pada 17 kumpulan sajak terpilih Moh. Ghufron Cholid, saya petikan bait awal sajak tersebut, di bawah ini :

“Menuju pelabuhan kasihMu
Aku terkepung
Antara riak rindu dan ombak nafsu
Terkadang badai dan topan menerjangku
Aku serupa kapas
Berdansa di samudera lepas
Hilang arah tanpa batas”

Begitu kuatnya unsur transendental yang tersirat pada bait awal sajak tersebut. Dan saya yakin ini semua juga tidak terlepas dari pengaruh budaya hidup Moh.Ghufron Cholid yang sedikit tidak banyak dipengaruhi oleh atmosfir pesantren.

Puisi “Menuju Pelabuhan” ini, langsung mengingatkan saya dari sisi kekerabatan makna pada karya “CERITA BUAT IMANA TAHIRA” buah tangan penyair surealis spiritual Acep Zamzam Noor, yang sajak-sajak liris spiritualnya kebanyakan sering mengajak alam bawah sadar pemghayat untuk masuk ke dunia sufistik dalam mengungkap makna-makna yang bersifat transendental, melalui symbol-symbol alam, benda, cuaca, dll sebagai wujud pencitraan.

Seperti halnya “Menuju Pelabuhan”, Penyair Sepiritual Acep Zamzam Noor yang merupakan asset khasanah sastera tanah air ini, dalam “CERITA BUAT IMANA TAHIRA”, tersirat adanya suatu kekerabatan makna, yakni sama-sama tunduk dan tawaduk atas kebesaran Illaihi, betapa kita insan hanya serupa debu dihadapan Tuhan. Kurang lebih itu inti makna yang sama-sama ingin disampaikan. Mari kita baca dua bait yang saya kutip dari sajak Acep Zamzam Noor “CERITA BUAT IMANA TAHIRA”, di bawah ini :

“Memandang langit
Aku ingat wajah kekuasaan
Merah padam
Sedang menginjak bumi
Seperti kudengar suaraku yang sunyi

Di jalan setapak
Yang disediakan bumi tulus ini
Kata-kataku tumbuh dari udara
Kata-kataku membangun menara tinggi
Namun akhirnya runtuh juga” ( di petik dari sajak Acep Zamzam Noor )

Kekerabatan makna “Menuju Pelabuhan” ini juga bisa kita jumpai pada sajak “Doa” buah karya dari penyair D. Zawawi Imron, di mana pada karya “Doa”, penyair melalui aku lirik, betapa takjub akan kebesaran dan kekuasan Tuhan, dan betapa insan setiap mengingat kebesaranNya, terlihat kerdil tiada daya dibandingkan dengan segala kebesaran-Nya.

“bila kau tampakkan secercah cahaya di senyap malam
rusuh dan gemuruh mengharu biru seluruh tubuh
membangkitkan gelombang lautan rindu
menggebu menyala
dan lagu-Mu yang gemuruh
menyangkarku dalam garden-Mu” ( Dipetik dari sajak “Doa” D. Zawawi Imron ).

Suasana transendental juga akan kita jumpai pada karya “SHALAT” yang ada pada 17 sajak pilihan Moh. Gufron Chalid. Sajak pendek yang hanya satu bait dan terpeta terdiri 3 baris, saya rasa cukup berhasil membawa penghayat untuk masuk ke dalam dunia renung akan pentingnya menjalankan syariat Tuhan dengan sebaik-baiknya iman.
Secara makna, sajak ini mengingatkan saya pada tembang “Tamba Ati” karya Sunan Bonang yang sering saya nyanyikan saat saya masih kecil dan mengaji di mushola di desa saya Malang.

Sekali lagi saya katakana, secara makna, sajak Sholat ini sangat dalam, hanya secara puitika bahasa, karya ini terasa mengalir begitu saja, dalam arti, cengkeraman kuat yang bisa menghisap imaji penghayat kurang terbentuk, hal ini bisa jadi di karenakan puitisasi bahasanya yang terkesan standart ( umum).

Saya tidak membandingkan karya “Sholat” dengan” Tamba Ati” karya Sunan Bonang, namun saya hanya ingin menggambarkan betapa dengan pilihan diksi yang kuat dan susunan yang tepat, walau pendek, tembang “Tamba Ati” tetap mengemakan bunyi yang begitu mengesankan.

Saya petikan sajak “ Shalat “ dan “ Tamba Ati “, yang secara kekerabatan inti makna tidak jauh berbeda; yakni mengajak insan untuk menjalankan Syariat Tuhan dengan setulus-tulusnya ikhlas.

“Tuhan
Kau dan aku
Tak ada tabir rahasia”

Betapa di sini penyair dalam sajak “Sholat” ingin menyampaikan, bilamana kita menjalankan segala perintah-Nya ( Shalat ), ibarat pengantin dan atau bila dalam suatu rumah tangga, suami istri, tiada lagi penyekat untuk senantiasa berdekatan ( dalam koridor tanda kutip ). Sebuah pesan tersirat yang mengingatkan setiap insane ( penghayat ) untuk senantiasa tawaduk dan iklas dalam mendapatkan ijabah dari Tuhan, seperti yang ada pada larik lengkap tembang “ tamba Ati” karya Sunan Bonang dalam syiar islaminya.

“Tombo ati iku lima perkarane
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang soleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah ngijabahi

Kurang lebih maknanya seperti ini :

Obat hati itu ada lima macamnya.
Pertama membaca Al-Qur’an dengan mengamalkan artinya,
Kedua mengerjakan shalat malam ( sunnah Tahajjud ),
Ketiga menjalin silahturahmi dengan orang saleh ( berilmu ),
Keempat menjalankan ibadah berpuasa, agar bisa memetik hikmah dari penderitaan kaum miskin.
Kelima sering-sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam,
Siapa saja yang mampu mengerjakannya,
Insya’ Allah Tuhan dari segala Tuhannya umat akan mengabulkan. “

Jadi secara implisit seperti itulah pesan yang terkandung pada puisi pendek yang hanya 3 baris di luar judul, mempunyai kandungan makna seperti pemaknaan yang ada pada tembang “tamba Ati”, khususnya dalam pencapaian tingkat ijabah Tuhan “Siapa saja yang mampu mengerjakannya,
Insya’ Allah Tuhan dari segala Tuhannya umat akan mengabulkan”.

Terlepas dari kurang kuatnya daya hisap imaji karya, sajak “Sholat” ini patut untuk dibaca sebagai bahan renung agar kita senantiasa ingat dan bisa lebih dekat dengan Tuhan. Amin.

Dan pembaca akan semakin diajak bertilawah hati dalam menangkap pesan-pesan transendental yang ada pada 17 sajak pilihan karya Moh.Ghufron Cholid, yang dengan bahasa lugas dan membumi. Walau dalam kesederhanaan puitisasi bahasa, dan minimnya penggunaan majas metaphora, tapi ketotalan penyair dalam menjiwai setiap gores baris sajaknya, menjadikan sajak-sajak tersebut serasa punya roh untuk bercerita, serta memudahkan setiap pembaca dalam menerjemahkan pesan tekstual sajak dengan mudah. Seperti pada sajak “ SELEPAS SUBUH” yang merupakan bentuk penghormatan dan kekaguman penyair pada gurunya yang telah berpulang ke Rahmattullah, saya kutip penuh , seperti di bawah ini:

SELEPAS SUBUH
Teruntuk guru tercinta Alm. KH. Moh. Tidjani Djauhari

Guru
Selepas subuh
Rumput-rumput bertahlilan
Beburung membaca yasin
Di sekitar nisanmu
Lalu
Kusaksikan pohon-pohon doa semakin lebat daunnya
Lantas
Meneduhi nisanmu
Kemudian
Aku mengerti
Suatu hari nanti
Wajahku berganti nisan
Namun
Aku belum tahu
Apakah nisanku akan seteduh nisanmu
Namun
Aku belum tahu
Jika wajahku telah berganti nisan
Apakah rumput-rumput akan bertahlilan
Dan beburung akan membaca yasin
Semisal yang kusaksikan selepas subuh ini (Al-Amien, 2009)

( andai saja mau sedikit menyentuh tipograpi puitikanya/pemetaan baitnya, saya yakin sajak ini akan kian bernas dan semakin enak dibaca)

Akhir kata, terlepas dari segala plus minus karya sajak ini,tidaklah berlebihan bila saya katakan 17 karya pilihan Moh.Gufron Cholid ini layak untuk dibaca, sebagai salah satu jalan mencari kebenaran melalui pemikiran-pemikirannya yang dia tuangkan dalam sajak bernuansa spiritual.

Memang pembaca tidak akan menemukan permainan-permainan symbol bahasa/majas sekuat dan sekental karya-karya Acep Zamzam Noor dan D. Zawawi Imron pada kumpulan sajak-sajak “ Menuju Pelabuhan “ ini, namun begitu, dalam kelugasan puitisasi bahasa sajaknya, pembaca akan diajak bertilawah pada keteduhan iman yang dalam.

Biodata Penyair :

Moh. Ghufron Cholid, lahir di Bangkalan 07 Januari 1986 M dari pasangan KH. Cholid Mawardi dan Nyai Hj. Munawwaroh. Ia adalah salah seorang Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), selain itu adalah seorang tenaga edukatif di MTs TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura 69465 dan ditengah kesibukannya menjadi ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Pondok Pesantren Al-Amien, ia menjadikan menulis puisi sebagai kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang.

Karya-karyanya bisa dibaca di Antologi.Net, Puitika.Net, penulisindonesia.com, www.kopisastra.co.cc dan diberbagai situs online lainnya.

Mengasah Alief (2007),Antologi puisinya yang mendapat kata sambutan positip dari D. Zawawi Imron, KH. Moh. Idris Jauhari, dan Penyair Jerman. Selain itu Antologi Puisi Yaasin (2007), Antologi Puisi Toples (2009), merupakan karya-karyanya yang telah berhasil dia bukukan.

Salam lifespirit! 20 Maret 2010
Sumber: http://sastra-tanah-air.blogspot.com/2010/09/memetik-hikmah-dari-puisi-puisi.html?m=1

ZIARAH DAN RAHASIA YANG TERSEMBUNYI



Oleh Dimas Indianto S
Tulisan ini hanya sebentuk catatan kecil atas kekaguman saya kepada penyair santri dari Madura bernama Moh. Ghufron Cholid (MGC), membaca puisi-puisi alitnya saya memasuki dunia asing di mana kata-kata menjadi sedemikian mahal, hingga di setiap puisinya kita menemukan kata-kata yang terkesan begitu selektif.

Bagaimanapun Puisi ditulis oleh seorang penyair minimal karena dua alasan. Pertama, adalah dorongan hati penyair untuk mengejawantahkan kemampuan mencipta, merealisasikan bakat dengan mewujudkan sebuah karya puitis, mencapai kepuasan karena memberikan isi dan makna kepada suatu tindakan, semacam peninggalan dari perasaan dan pengalamannya atau rapor bakat dan kemampuannya. Kedua, puisi dimanfaatkan sebagai medium untuk menyampaikan sesuatu yang lain. Dalam pada ini, MGC menjadikan kebolehannya memilah-memilih-membuang kata untuk mencipta puisi alit sebagai media menyampaikan sesuatu yang besar.

Metafora ziarah
Di sini saya akan mengaji dua puisi ziarah MGC. Sebagaimana kita tahu ziarah adalah perenungan panjang sebagai kunjungan untuk daya spiritualitas manusia dalam membersihkan pikiran, perasaan, dan jiwanya. Dalam pada ini, makam memiliki banyak simbol yang dapat dipahami dalam berbagai terminologi. Makam-makam para wali selalu menjadi kunjungan banyak orang untuk berdoa karena diyakini sebagai tempat suci. Bagi MGC berziarah adalah sebagai pengingat eksistensi manusia di dunia ini yang akan melewati alam kubur.

DI MAKAM SYEICHONA CHOLIL

Di makam Syeichona Cholil
Reruh tak lagi binal
Dalam merapal masa depan
Yang penuh keridlaan

Di makam Syeichona Cholil
Runtuh langit keangkuhan
Saksikan makam yang anggun
Lukiskan kefanaan

Kamar Hati, 13 Mei 2012

MGC mengingatkan bahwa ketika sudah berhadapan dengan Tuhan—dengan jalan mengingat kematian melalui ziarah—seketika itu juga / Reruh tak lagi binal/, hati menjadi tertata sehingga dalam merapal masa depan, manusia seyogyanya melewati jalan yang penuh keridlaan Tuhan. Ketika maqom (baca; tingkatan) itu sudah didapatkan, maka Runtuh Langit Keangkuhan, sebab segala yang ada di dunia ini pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan, maka apalah artinya sebuah keangkuhan? Toh semuanya akan ditinggalkan saat menghadapTuhan?
Dalam perspektif budaya, makam adalah sebuah tempat suci yang mengandung aura yang berbeda dengan kekuatan tempat lainnya yang dianggap tidak sakral. Sebagai tempat suci, makam memiliki aura yang berbeda sehingga penghormatan yang diberikan tentunya juga berbeda (Syam, 128: 2011). Maka, di hampir semua makam, tidak diperkenankan untuk berkata kotor, membuang sampah sembarang, dan di makam-makam tertentu—seperti halnya makam-makam para wali—bahkan diselubungi lambu putih juga wewangian dan bunga-bunga. Dari situ dengan ziarah, kita saksikan makam yang anggun¸sebagai media muhasabah (introspeksi diri) untuk mengerti lukisan kefanaan yang sebenar-benarnya.

Ziarah juga sebagai cara untuk menapak tilas tentang spiritualitas seseorang, bahkan tentang kepahlawanan (baca; ketokohan) seseorang, yang dapat diambil pelajaran untuk bisa mengilhami dalam menghadapi kehidupan. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Hal itu dapat ditemukan dalam ziarah para wali, selain dijadikan momen berdoa, ziarah juga untuk mempelajari kehidupan terdahulu para wali, sehingga bisa dijadikan motivasi dalam menjalani kehidupan di dunia.
TENTANG KWANYAR

Memuncak cerita jejak surga
Sunan Cendana, rahasia

Kamar Cinta, 2006-2013
MGC—dengan keeksotisan puisi alitnya—mengajak kita untuk merenungi apa yang ia sembunyikan dalam puisinya. Dalam “Tentang Kwanyar”, MGC mangabarkan betapa abadi sebuah nama yang telah memberikan kontribusi konkrit kepada masyarakat, yaitu dengan jalan penyebaran agama Islam, yaitu Sunan Cendana.
Dalam puisi ini MGC mengajak kita “napak tilas” kehidupan Sunan Cendana, sebab apa nama Sunan Cendana menjadi nama yang selalu dikenang, dan makamnya selalu menjadi salah satu tujuan wisata religi, tentu ada sejarah yang melatarbelakanginya dan tujuan yang melatardepaninya. Satu hal yang khas adalah MGC memotret realitas yang tidak biasa, jika judul “Tentang Kwanyar” diterawang, barangkali kita hanya akan menemukan informasi tentang apa itu Kwanyar secara definitive, namun MGC menyuguhkan sesuatu yang lain, bahwa ada “rahasia yang tersembunyi” di sebuah tempat bernama Kwanyar. MGC mengatakan bahwa di Kwanyar memuncak cerita jejak surga. yaitu jejak suci yang telah ditinggalkan Sunan Cendana.
Di baris terakhir MGC menuliskan /Sunan Cendana, rahasia/. Kata “rahasia” mengingatkan saya pada kitab “Nashoihul ‘ibad” karangan Muhammad Nawawi Bin ‘umar al Jawi yang dalam salah satu babnya mengatakan bahwa salah satu yang dirahasisakan Tuhan adalah perihal “waliyullah”. Menurut kitab itu, bahwa “waliyullah” diistimewakan Tuhan, sehingga keberadaannya dirahasiakan. Untuk kemudian orang-orang saling mencari “rahasia itu” dan seketika telah ditemukan, “Rahasia” itu menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, dikagumi dan dilestarikan.

Apa yang telah saya urai dari puisi alit MGC meyakinkan saya bahwa puisi sebagai media ekspresi spiritual, memberikan substansi bagi keindahan di dalam kata-kata, tetapi tidak mengurangi sisi moralitasnya. Puisi menjadi menarik karena adanya keterbatasan bahasa untuk menerangkan sisi keindahan, yakni keindahan pengalaman mistis yang telah dialami penyair. Sesungguhnya, pada sisi lain dunia, masih banyak kejadian-kejadian yang tidak dapat diterima oleh panca indera manusia tentang keindahan, pengetahuan, pemahaman dan wawasan.
Pengalaman religiusitas penyair telah mengendap di alam bawah sadarnya akan membentuk karakter bagi karya-karyanya. Ada keterkaitan antara religiusitas penyair dengan karyanya. Religiusitas penyair menghidupi teks, walaupun saat tertuliskan dan berada dalam pembacaan oranglain religiusitas teks tidak menjadi hilang, teks akan dihidupkan kembali oleh pembacanya menggunakan perspektif pembaca yang sangat mungkin tidak berbeda jauh dengan makna yang dikehendaki penyair, karena dalam ekspresinya penyair juga dibatasi ruang pemahaman publik dalam kebudayaan tertentu. Wallohu a’lam.

Dimas Indianto S. Penyair dan Esais, Lurah Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Pengelola Komunitas Pondok Pena Purwokerto

MELIHAT SUNSET PADA SEBUAH SENJA




Oleh Aiyu NaRa

Berjalan-jalan di dokumen grup puisi 2,7, saya tertarik dengan dua puisi milik dua penyair. Puisi ini unik di mata sad ya, ditulis oleh dua penyair yang mempunyai nama depan yang sama, Moh Ghufron Cholid dan Muhammad J, serta memakai diksi "senja" pada masing-masing puisinya. Meskipun diksi "senja" secara umum sudah lazim dipakai oleh para penyairi, namun saya melihat puisi kedua penyair ini mempunyai benang merah yang kuat, meski dengan latar yang berbeda.
Perhatikan dua puisi berikut ini:

MENERJEMAHKAN RANTAU                 
: pipiet senja                                     

Tanah rantau telah pukau                   
Kau seharum tembakau                   

Moh. Ghufron Cholid, 2013                   

SUNSET

ditatap seorang senja
senyum dan tangis disatukannya

Muhammad J, 1.8.2013

Biografi singkat Pipiet Senja
Pipiet Senja, nama yang tidak asing lagi bagi kalangan penulis. Sastrawati dari sunda yang lebih akrab dipanggil "manini" ini disebut sebagai ratu fiksi Indonesia. Puluhan buku novel, kumcer, dan puisi, lahir dari tangannya. Ia juga dikenal sebagai Teroris (tukang teror menulis) dan juga motivator di kalangan BMI (Buruh Migran Indonesia). Namun siapa sangka, ditengah aktifnya ia sebagai seorang penulis, ia harus bergelut dengan penyakit seumur hidupnya, Thalasemia, penyakit kelainan darah bawaan yang dideritanya sejak umur 11 tahun. Penyakit ini tak bisa disembuhkan, dan seumur hidupnya Pipiet Senja harus melakukan transfusi darah.
Namun penyakit ini, justru mendorong Pipiet Senja semakin giat menulis sampai sekarang.

Fisiknya yang lemah tak menghentikan niatnya untuk terus memberikan teror menulis ke penjuru dunia. Ia sering diundang ke berbagai daerah dan negara untuk memberikan seminar dan motivasi menulis. Buruh Migran Indonesia adalah salah satu sasaran teror menulisnya. Bersama BMI Hongkong, di tahun 2011, Pipiet Senja menerbitkan sebuah buku yang berjudul "SURAT BERDARAH UNTUK PRESIDEN. '


Kembali kep puisi Moh. Ghufron Cholid
MENERJEMAHKAN RANTAU
: pipiet senja

Tanah rantau telah pukau
Kau seharum tembakau

Madura, 2013

Puisi ini, saya masih ingat, ditulis bertepatan dengan kunjungan Pipiet Senja ke Madura. Bisa jadi hal inilah yang mendorong MGC untuk menuliskannya.
MGC, mengambil judul "MENERJEMAHKAN RANTAU" dengan anak judul "pipiet senja"
"menerjemahkan"...> menyalin, mengalihbahasakan.
"rantau"...> daerah di luar daerah atau kampung halaman sendiri. Bisa luar kota, luar pulau, atau luar negri.

Lalu apa yang dapat dibaca dan dipahami dari judul dan sub judul tersebut? Dari biografi singkat tersebut telah sedikit dijelaskan bagaimana semangat Pipiet Senja dalam menebar virus menulisnya, baik di dalam negri maupun di luar negri. dalam sebuah kutipannya, Pipiet Senja menyebutkan "Menulislah, maka kau akan dikenang"
Tentu saja hal ini benar adanya. Apa yang akan ditinggalkan penulis ketika ia wafat? Adalah buah karya, pemikiran-pemikiran penulislah yang akan dikenang dan diwariskan. Seperti Chairil, yang selalu hidup lewat puisi-puisinya.

Dalam setiap kesempatan menebar virus menulis, Pipiet Senja selalu mengatakan "tulislah apa yang ingin kau tulis. Tulis... tulis... dan tulis. Dan MGC, dengan cermat merangkaikannya dalam sebuah judul yang tepat. Ini tentu saja erat hubungannya dengan  bagaimana seorang Pipiet senja, mengajak dan mendorong orang-orang di manapun, untuk menulis perasaan, emosi, imajinasi, menyalin dan mengalih bahasakan apa yang dilihat dan dirasakan ke dalam sebuah tulisan.

Masuk ke dalam tubuh puisi:
"Tanah rantau telah pukau
Kau  seharum tembakau"

Bagaimana tidak, seorang Pipiet Senja, di dalam keterbatasan kesehatannya, dia tetap aktif berkarya, menulis dan berbagi, di mana pun dan kapan pun. Tak hanya di daerah-daerah dalam negri, tapi juga sampai ke luar negri. Tak hanya kepada pelajar, mahasiswa, atau pun santri. Tapi juga kepada pekerja, ibu rumah tangga sampai BMI. Penyakit Thalasemia yang dideritanya bukan menjadi penghalangnya untuk terus berkarya. Namun dijadikannya kekuatan untuk tetap berkarya.

Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu..." (QS. Ali Imron: 200)

"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguha berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orsng-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-NYA." (QS. al Baqoroh,2:45-46)

Ketidak menyerahan seorang Pipiet Senja, menjadikan penyakitnya sebagai teman kolaborasi dalam menulis, sungguh telah menarik mata dunia kepadanya.

Masih dalam "senja", kali ini saya ingin menyelami puisi dari Muhammad J.
Sama-sama menggunakan diksi "senja", MJ mengemas puisinya dalam pola tuang 2,7 dengan judul yang cantik.

SUNSET

di tatap seorang senja
senyum dan tangis disatukannya

MJ 1.8.13

Berbeda dengan MGC, dalam puisi MJ tidak terdapat sub judul. Memasuki judul puisi "SUNSET" pembaca akan ditarik ke dalam ruang imajinasi, matahari tenggelam dengan rona-rona jingga di selelilingnya, dan cahaya keemasan di garis horizon.
Peristiwa terbenamnya matahari adalah masa transisi antara terang dan gelap. Terang yang merupakan  tanda-tanda kehidupan, di mana makhluk hidup beraktifitas dan bergerak di siang hari. Manusia bekerja, tumbuhan berfoto sintesis, hewan-hewan beraktifitas mencari makan, semuanya dilakukan pada siang hari.
Gelap, yang merupakan tanda-tanda beristirahatnya denyut kehidupan. Makhluk hidup: manusia, tumbuhan, hewan pada umumnya akan mengistirahatkan tubuhnya pada malam hari.
Dalam filosofi, SUNSET sering dianalogikan sebagai masa transisi kehidupan dan kematian.

Memasuki tubuh puisi:
"ditatap seorang senja
senyum dan tangis disatukannya"

Antara judul dan larik pertama, terdapat korelasi yang kuat. SUNSET,peristiwa matahari tenggelam ini terjadi pada waktu senja. Di mana hal ini di tandai dengan munculnya cahaya jingga keemasan pada garis horizon. Dalam puisi di atas , MJ menyebut "senja" sebagai "seorang". Lalu siapakah "senja" di mata MJ?
Mari kita lihat lebih dekat.

Sunset terjadi pada waktu senja. Namun pada waktu senja belum tentu terlihat sunset. Hal ini bisa saja terjadi karena cuaca yang tidak bagus, seperti mendung, hujan, kabut dan sebagainya. Artinya hanya ketika waktu cerah, sunset dapat terlihat. Warna jingga emas pada horizon, bisa dianalogikan sebagai tingkat kematangan seseorang. Bisa kedewasaan, kemapanan dalam hal kerohanian atau keimanan.

"daitatap seorang senja/ senyum dan tangis disatukannya"
Senja yang dapat menghadirkan sunset, matahari tenggelam dengan cahaya jingga keemasan  pada garis horizon adalah senja yang cerah tanpa kabut tanpa hujan. Dari sini seolah penyair igin menyampaikan pesan, bahwa tingkat kematangan kerohanian/ keimanan seseoranglah yang mampu menghadirkan cahaya/ aura yang berpendar. Seseorang yang mempunyai keimanan yang kuat dan matang, akan mampu menghadapi segala bentuk ujian. Baik itu dalam bentu kesenangan maupun kesedihan. Seseorang yang beriman, dia akan mampu tetap tersenyum di dalam kesedihannya.


hadapi dengan senyuman
semua yang terjadi biar terjadi
hadapi dengan tenang jiwa
semua 'kan baik-baik saja

bila ketetapan Tuhan
sudah ditetapkan, tetaplah sudah
tak ada yang bisa merubah
dan takkan bisa berubah
... *)

Hal inilah yang dilakukan Pipiet Senja. Ia, telah mengajarkan bagaimana tetap tersenyum dan tetap semangat di dalam menghadapi segala ujian. Pipiet senja dengan Thalasemia, dalamsakitnya, ia tetap mendedikasikan waktunya untuk berbagi dalam sastra.

Aiyu Nara, Madiun 21.8.14

Referensi Biografi Pipiet Senja: dari berbagai sumber
Lirik lagu Dewa 19, "Dengan Senyuman"
Firman Allah tentang sabar

Sumber:  http://mohghufroncholid.blogspot.com/2014/10/melihat-sunset-pada-sebuah-senja.html?m=1

MENYANDINGKAN PUISI MOH. GHUFRON "MENGGAMBAR RUPA CINTA BANGSA" DAN PUISI SUTARDJI "TANAH AIRMATA" DALAM PERSPEKTIF MENCINTAI INDONESIA


Oleh Janus A Setya

"Indonesia lahir dari puisi. Teks Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 1928 adalah puisi yang berisi tentang imajinasi Indonesia yang satu."
(Sutardji Calzoum Bachri)
-----
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.
-----
Saya kutip 2 (dua) transkrip di atas dalam rangka membangun sebuah korespondensi antara puisi di satu sisi dan cinta tanah air di sisi yang lain. Betapa puisi telah menjadi benih dari kelahiran Indonesia sebagai sebuah tanah air dan bangsa. Indonesia meng-ada dari sebuah puisi. Maka tidaklah berlebihan apabila puisi pada gilirannya selalu menjadi pengawal dan kekasih sejati Indonesia. Hingga kapanpun akan tercipta puisi untuk Indonesia. Ungkapan rasa cinta dari penyair tentang mencintai Indonesia. Cinta yang berawal dari rasa memiliki Indonesia seutuhnya. Cinta bangsa cinta tanah air: Indonesia. Cinta yang menurut Erich Fromm sebagai cinta yang memberi, memberikan diri, hidup, sukacita dan dukacita.
-----
MENGGAMBAR RUPA CINTA BANGSA

Ketika cinta jadi sukma
Segala duka tiada berbunga
Ketika bangsa adalah nyawa
Menyematkan muruah tiada kecewa

Retak bangsa retak tubuh
Tiada utuh segala mahabbah
Kibarkan merah putih di hati
Nyeri menepi tiada henti

Cinta bangsa tanda iman
Gugur perang tanda pahlawan
Menyemai merdeka sepenuh pengabdian
Tiadalah gusar menempati badan

Indonesia bangsa besar jaya
Jangan dilepas ragam daerah
Biarkan tapa segala cinta
Saatnya bersatu kalahkan penjajah

Madura, 12 Oktober 2014
Moh. Ghufron Cholid
Puisi 444

TANAH AIRMATA
tanah airmata tanah tumpah darahku
mataair airmata kami
airmata tanah air kami

di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka kami
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak ke manamana

bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke mana pun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di airmata kami

ke mana pun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman airmata kami

1997
Sutardji Calzoum Bachri

Membaca puisi Moh. Ghufron berjudul MENGGAMBAR RUPA CINTA BANGSA, saya membayangkan Moh Gufron sebagai seorang pelukis yang telah membuat sebuah lukisan naturalis bertemakan kecintaan terhadap Indonesia yang dituangkannya dalam sebuah puisi pola 444.
Saya mencoba menyandingkan lukisan naturalis Moh. Ghufron tersebut dengan puisi Sutardji Calzoum Bachri berjudul TANAH AIRMATA yang dalam imajinasi saya adalah sebuah lukisan ekspresionis. Rasa baca saya bergeser menjadi rasa penghayatan sebagaimana jika menikmati sebuah lukisan.

Ternyata kesimpulan awal saya mengatakan bahwa kedua lukisan tersebut memiliki kesamaan tema dan cita rasa. Keduanya mampu memberi resapan rasa cinta terhadap tanah air Indonesia. Yang satu dalam gaya naturalis dan satunya lagi dalam gaya ekspresionis. Keduanya sama-sama memberi imaji yang kuat tentang cinta Indonesia.
Moh. Ghufron membesut tajuk puisinya dengan judul yang bertumpu pada diksi /bangsa/. Diksi bangsa yang diasosiasikan sebagai Indonesia terus dipergunakan penyair dalam isi puisi. Galibnya ciri lukisan naturalis sejak judul hingga isi, puisi ini sangat kental dengan kecermatan detail obyek lukis. Penyair melalui judul puisi sudah mulai mengimajinasikan cinta Indonesia. Jika kita rujuk makna bangsa dalam KBBI, bangsa adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.

Sementara Sutardji melukis dalam gaya ekspresionis yang begitu kuat dengan sapuan kuas dan permainan warna yang sangat ekspresif. Tardji lebih memilih diksi /tanah air/ sebagai asosiasi Indonesia. Terasa lebih sublim dan tidak sekadar Indonesia secara fisik artifisial. Bahkan judul yang digoreskan dalam kanvas lukisnya sudah ditajuki "Tanah Air Mata". Tanah yang basah bukan hanya karena air tapi karena air mata. Dan air mata adalah simbolisme dari duka yang mendalam. Duka yang disebabkan oleh cinta yang mendalam.
Menurut KBBI, tanah air adalah negeri tempat kelahiran.
-----
Selanjutnya saya akan telisik bait perbait dari masing-masing puisi. Kebetulan keduanya sama-sama memiliki 4 bait puisi walau masing-masingnya berbeda pola tuang dan jumlah larik setiap baitnya.
-----
Bait 1 Puisi Moh. Ghufron:
Ketika cinta jadi sukma
Segala duka tiada berbunga
Ketika bangsa adalah nyawa
Menyematkan muruah tiada kecewa

Bait 1 Puisi Sutardji:
tanah airmata tanah tumpah darahku
mataair airmata kami
airmata tanah air kami

Bait 1 kedua puisi secara tersirat sama-sama menegaskan tentang klaim memiliki Indonesia dengan segala kehormatan dan harga diri. Jika Moh. Ghufron menegaskannya lewat "muruah tiada kecewa" maka Tardji menyatakannya dengan "tanah air mata tanah tumpah darahku".
Pernyataan Moh. Ghufron bahwa Indonesia adalah nyawanya dinyatakan oleh Tardji sebagai "air mata mata air kami"
Kedua puisi seolah sama-sama menegaskan bahwa cinta mereka kepada Indonesia bukanlah cinta yang ala kadarnya, tapi cinta yang bertaruhkan nyawa.
-----
Bait 2 Puisi Moh. Ghufron:
Retak bangsa retak tubuh
Tiada utuh segala mahabbah
Kibarkan merah putih di hati
Nyeri menepi tiada henti

Bait 2 Puisi Sutardji:
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka kami
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak ke manamana

Kedua puisi lagi-lagi membuat pernyataan yang sama, merintihkan sesuatu yang sama.
Kesakitan karena retak tubuh yang dirasakan oleh Moh. Ghufron dan perih yang dirasakan oleh Tardji di balik gembur subur tanah dan etalase megah gedung.

Di bait 2 inilah ungkapan rasa cinta kepada Indonesia berbuntut rasa khawatir kedua penyair disebabkan begitu banyaknya ketidak senonohan yang terjadi. Tersirat misalnya perilaku saling berebut kuasa, juga berlomba-lombanya anak bangsa korupsi dan manupulasi yang merongrong bangsa. Di bait inilah sesungguhnya duka terasa begitu pedih. Duka yang disebabkan oleh rasa cinta kedua penyair pada Indonesia.
-----
Bait 3 Puisi Moh. Ghufron:
Cinta bangsa tanda iman
Gugur perang tanda pahlawan
Menyemai merdeka sepenuh pengabdian
Tiadalah gusar menempati badan

Bait 3 Puisi Sutardji:
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke mana pun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di airmata kami
ke mana pun berlayar
kalian arungi airmata kami

Bait 3 menjadi semacam pernyataan sikap dari kedua penyair terhadap keadaan mutakhir yang terjadi di negeri ini. Kedua penyair sama-sama tak rela jika kekasihnya, Indonesia dikhianati dan disakiti, baik oleh bangsa lain maupun oleh perilaku anak bangsa sendiri.Moh. Ghufron menyatakannya dengan "gugur perang tanda pahlawan" sementara Tardji dengan lebih mengiris-iris menyatakan: "kalian tak bisa menyingkir, ke manapun melangkah kalian pijak air mata kami" Secara dramaturgi bait 3 kedua puisi menjadi klimaks dari perjalanan rasa cinta yang digambarkan oleh kedua penyair.
-----
Bait 4 Puisi Moh. Ghufron:
Indonesia bangsa besar jaya
Jangan dilepas ragam daerah
Biarkan tapa segala cinta
Saatnya bersatu kalahkan penjajah

Bait 4 Puisi Sutardji:
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman airmata kami

Pada bait 4 inilah kedua penyair sama-sama mendiskripsikan sebuah harapan tentang kelanggengan cinta keduanya kepada Indonesia. Cinta yang harus selalu diselamatkan dan terus disempurnakan sebagai cinta abadi.
Moh. Ghufron dengan pernyataannya "saatnya bersatu kalahkan penjajah" dan Sutardji dengan sebuah himbauan kalau tidak mau disebut sebuah ancaman: "menyerahlah pada kedalaman air mata kami".
-----
Sampai kapanpun puisi akan menjadi kekasih sejati Indonesia.

Sumber: http://mohghufroncholid.blogspot.com/2014/10/menyandingkan-puisi-moh-ghufron.html?m=1