Tampilkan postingan dengan label Mata Pena Moh. Ghufron Cholid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mata Pena Moh. Ghufron Cholid. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Januari 2019

Pemimpin Sejati dan Rintangan yang Mesti Ditaklukkan

(Telaah Atas Puisi Thantowi Tohir Berjudul Pemimpin Sejati)
Oleh. Moh. Ghufron Cholid
Puisi bisa menjadi jalan alternatif bagi terciptanya keseimbangan hidup baik berbangsa maupun dalam beragama. Ianya bisa memuat jalan yang indah bagi terciptanya hidup yang bermartabat. Moh. Ghufron Cholid

Berhadapan dengan puisi Thantowi Tohir bejudul Pemimpin Sejati, adalah mencari cara lain yang lebih membuat hidup lebih bermartabat. Thantowi Tohir seakan tak ingin carut marut terus menampakkan taringnya. Bagi Thantowi sudah saatnya bersuara lantang, mengungkap segala yang kerap meraung di kedalaman bathinnya.
Puisi yang kehadirannya selalu dipertanyakan, di tangan seorang Thantowi mulai bisa dirasakan keberadaannya, harapan telah mengalahkan ketakutan dalam dirinya. Kerinduan telah mengalahkan pilu yang telah merias sumsum hidupnya.
Pemimpin Sejati, demikian Thantowi Tohir menai puisinya. Mengenalkan harapannya. Mengasingkan ketakutan dalam dirinya, menguraikan caranya berbahagia dalam menghadirkan sosok pemimpin.
Diungkapnya segala rintangan yang akan bertamu, yang mau tak mau mesti ditaklukkan seorang pemimpin. Yang dengannya lambat laun gelar pemimpin sejati bisa diraih.
Thantowi Tohir, telah menjadi manusia yang merdeka. Sebab kebenaran mesti disuarakan, barangkali alasan inilah yang membuat puisi ini lahir. Mungkin pula lantaran carut marut tak lagi ingin ditumbuhsuburkan di negeri yang sangat dicintai penyair.

Hal-hal yang Mesti Ditempuh Pemimpin Sejati
Membaca puisi Thantowi Tohir, saya bertemu dengan syarat-syarat yang diajukan oleh penyair untuk mendapat gelar pemimpin sejati.
Dalam bait pertama, Thantowi memberikan semacam rambu yang mesti ada pada pemimpin sejati yakni melepas mahkota (sesuatu yang begitu dibanggakan, sesuatu yang dapat menjadikan seseorang bisa membusungkan dada), mengusung amanah (salah satu dari empat sifat rasul yang selalu melekat), titah dan tuah (bisa kita maknai sebagai sosok yang penuh kharismatik).
Bait kedua, penyair menegaskan bahwa pemimpin sejati memiliki jiwa petarung, karena tak jarang rintangan datang menjadi batu penghalang. Pemimpin sejati, tak pernah sepi dari ragam jalan terjal, oleh sebab itu seni menaklukkan masalah tampa masalah mesti dimiliki, atau dalam diksi penyair dituturkan, Banyak kerikil tajam/sekeras batu pualam/merintang jalan/benamkan saja dalam api/jadikan tulang belulang// lantaran bait kedua berisi perkara yang gawat, ianya tampak sebagai wanti-wanti dan di sisi lain tampak seperti perintah maka diksi-diksi yang melekat pada bait kedua bisa dimaklumi. Mengingat sebuah masalah dan solusi yang dihadirkan, tak bisa luput dari diksi-diksi yang tegas, yang memungkinkan menimbulkan persepsi variatif semacam menggurui, atau dengan bahasa yang lebih halus silang pendapatan namun hanya membutuhkan jawaban iya.
Dalam bait ketiga, memuat harapan seorang penyair kepada seorang pemimpin sejati yakni mesti gagah perkasa. Jika dikaji lebih dalam ini merupakan dari saripati ciri pemimpin sejati, yang ada dalam kitab suci al-Qur'an yakni azizun, harisun bikmukminina raufuurrahiem. Dengan kata lain, pemimpin sejati selalu menjadi sosok panutan dan selalu melindungi hak-hak kaum yang lebih lemah.
Penutup
Membaca puisi Thantowi Tohir dalam puisi Pemimpin Sejati, semacam merasakan permen nano-nano, semacam menikmati jalan yang penuh liku yang sangat dinikmati oleh para pembalap dalam memantik adrenalin.
Terlepas plus-minus yang lahir dari puisi ini, paling tidak kita melihat adanya kerinduan seorang Thantowi Tohir tentang sosok pemimpin sejati. Tak hanya itu, kita mendapatkan ciri-ciri pemimpin sejati berikut tantangan yang mesti ditaklukkan.

Paopale Daya, 31 Januari 2019

Selasa, 29 Januari 2019

Imam Bonjol dan PR yang Belum Selesai

(Sebuah Telaah Atas Puisi Bambang Widiatmoko Berjudul Sajadah Batu) 
Oleh Moh. Ghufron Cholid

Berbicara puisi adalah berbicara nafas lain dari waktu, yang di masa yang lain masih menjadi ingatan yang kuat dan menjadi jalan mempertajam kepekaan. Moh. Ghufron Cholid

Bertemu dan berhadapan secara langsung dengan puisi, semacam pertarungan yang tak usai. Saya kerap diserbu rasa penasaran dan tak jarang pula didekap kegelisahan.
Puisi selalu menjadi jalan kesaksian yang antik dari seorang penyair. Ianya bisa menjadi harapan, kecaman bisa pula menjadi jalan menjadikan dari lebih peka dan lebih menghargai perjuangan orang lain.
Bambang Widiatmoko dengan puisinya berjudul SAJADAH BATU, semakin mempertegas anggapan bahwa jiwa yang jawara takkan pernah sujud kepada ketakberdayaan. Jiwanya selalu memiliki pancaran cahaya yang mampu memikat sukma.
Kalau boleh saya ingin mengistilahkan puisi ini sebagai tafsir penyair atas sosok kharismatik bernama Imam Bonjol, jenisnya puisi persembahan jika meminjam istilah penyair Saifuddin Kojeh,  meski tak diimbuhkan hands (:)  selepas judul sebagai tujuan dipersembahkan pada seseorang.
Jiwa yang petarung,  selalu memiliki cara unik dan menarik untuk menunjukkan keistiqamahan dan ini dipotret secara apik oleh penyair Bambang Widiatmoko, Dulu Tuanku Imam Bonjol diasingkan/Dan melakukan salat lima waktu beralas batu//.
Saya pun telah menemukan kunci mengapa puisi ini diberi judul SAJADAH BATU, namun yang lebih penting dua larik ini juga menjadi penegas bahwa bumi adalah sajadah,  tempat seorang hamba menerjemahkan diri sebagai sosok yang memiliki Tuhan yang layak disembah. Di samping itu juga, berfungsi sebagai penegas bahwa sejatinya Allah tidak memberi kerumitan dalam beribadah. Salat bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja sesuai waktu salat yang telah ditegaskan.
Ada yang pelan-pelan membuat saya mengernyitkan dahi,  meski dua larik ini (Kini aku mencoba salat did atas batu itu/Tapi entahlah-bagaimana memaknai sejarah kelu?) menjadi semacam autokritik penyair tetap saja menjadi tamparan yang dahsyat bagi saya selaku pembaca.
Betapa cinta bukan sekedar kata, ianya mesti menjadi laku yang menggugah sukma. Betapa Imam Bonjol memang sangat layak menjadi tokoh dan ditokohkan. Dan betapa jalan cinta yang terang benderang telah dicontohkan oleh leluhur baik sebagai seorang hamba maupun seorang pejuang. Tinggal kita menentukan posisi masing-masing. Pilihan tersebut kembali kepada tiap diri dalam memaknai.
Secara keseluruhan, Bambang Widiatmoko bisa dikatakan berhasil dalam menghadirkan sosok Imam Bonjol selebihnya adalah PR kita dalam menentukan posisi baik sebagai seorang hamba maupun sebagai seorang pejuang.

People Daya, 30 Januari 2019

Sisi yang Paling Artistik dari Cinta

(Sebuah Telaah Atas Puisi Bairus Saliem Berjudul Demokrasi Cinta)
Oleh. Moh. Ghufron Cholid*

Kali ini saya memilih puisi karya Bairus Saliem berjudul Demokrasi Cinta,  sebuah puisi yang dilahirkan tahun 1999, berikut saya posting utuh puisi, agar bisa kita nikmati,
"Demokrasi Cinta"

Dari cinta aku lahir
Oleh cinta aku diasuh dan dibesarkan
Untuk cinta kemudian aku pulang ke asal aku diciptakan

Al Amien, 1999
Puisi yang dihadirkan dalam sebait berisi sebuah pengakuan tentang Cinta. Bahwa hakikatnya penyair lahir dari Cinta. Jika Nabi Adam diciptakan dari tanah maka generasi berikutnya lahir dari cinta. Cinta yang suci yang diawali restu dan doa-doa paling kasmaran.

Bisa juga kita maknai sejatinya kelahiran yang ingin dikenalkan penyair adalah kelahiran yang membahagiakan.
Kelahiran yang tak menimbulkan pengingkaran. Kelahiran yang jika diumumkan menumbuhkan rasa syukur baik dari pihak yang mengumumkan maupun yang menerima pengumuman kelahiran.
Bairus Salim​​ juga mengungkapkan bahwa penyair diasuh dan dibesarkan dengan cinta maka memandang hal demikian,  rasanya tidak berlebihan bila dikategorikan bahwa ibu madrasah pertama bagi pendidikan anak.
Bisa jadi lahirnya puisi ini sebagai bagian proses bersyukur penyair atas lahirnya ke dunia. Puisi ini pula menjadi semacam jalan ungkapan syukur,  sekaligus penegasan betapa bertuahnya cinta.
Bisa juga puisi ini berfungsi sebagai dalil tentang betapa pentingnya, cinta diperkenalkan sebagai urat nadi bagi kehidupan, agar tak ada lagi kelahiran yang terabaikan.
Di tangan Bairus Saliem dunia yang luas dirangkum dengan demikian padat dalam sebait. Jika membaca sampai tuntas puisi ini, kita seaman mendapat kode alam betapa pendidikan pesantren ikut andil dalam pembuatan puisi ini. Maknanya begitu dalam dan begitu tegas dalam pengakuan.
Puisi ini semacam mengandung saripati firman Allah yang menegaskan, "Tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah yang abadi."
Betapa prinsip ketawadluan dan ketaatan terlukis secara apik dalam puisi yang diperkenalkan oleh Bairus Saliem. Penyair telah melakukan takaran diksi yang seimbang. Barangkali tualang bathin seputar ilmu agama yang ditekuni telah meresap,  masuk menjadi tulang rusuk.
Semakin saya baca berulang puisi ini, semakin saya alami makna dari cinta yang kian dalam. Puisi ini dalam keterangbenderangan menyimpan makna yang artistik dari cinta.

Paopale Daya,  30 Januari 2019
*Pendiri Pesantren Penyair Nusantara di FB, yang juga penikmat puisi.

Selasa, 15 Januari 2019

PUISI DAN PENYAIR BERNAFAS CINTA

Telaah Atas Cara Penyair Mahroso Doloh (Penyair Patani) dan Penyair Kurnia Hidayati Mengungkap Cinta)
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Mahroso Doloh
Kiblat Cinta

Kemana akan kusimpan sebuah cinta
jika aksara tak menjadi kata-kata
bahkan terucap hanya terpaksa
menjadi ombak hanya ketika

dalam puisi menggunung cinta
mencari arah tak terhingga
tak ingin cinta;
yang menjadi titi neraka

dengan cinta; beribu cinta
membuat taubat di sela-sela malam
menderai gerimis hitam
menjadi secawan zamzam

dengan cinta; beribucinta
angin, panas, dan hujan
semua terasa pada telubuk kalbu
hanya mencari kiblat cinta

Patani, September 2014

Kurnia Hidayati
Batang, Suatu Malam

lengang jalan ini, senantiasa memajang lanskap muram
lampu-lampu berbaris haru
mengeram masygul dan sesunggukan, menangisi anak-anak puisi yang piatu

mobil-mobil melintas menyuguhkan suara klakson yang lekas
dirampas udara tanpa aba-aba
seperti pekik tajam bunyi yang memecah membran sunyi
ketika malam bagai lambaian tangannaik turun,
mengingkari detik jam yang berdegup
diintai mimpi

Batang, 2014
Dalam sebuah buku judul merupakan bagian inti yang menjadi sorotan oleh sebab ianya begitu memiliki peranan vital dan dalam judul pulalah seorang penyair dituntut memiliki cita rasa seni.

Ada yang mencoba peruntungan dengan memberikan judul yang sudah familiar sehingga judulnya mudah diingat oleh pembacanya, ada pula yang membuat judul yang kadang tak diambil dari puisi yang ada di dalam buku guna untuk menyedot perhatian.

Tampaknya Mahroso Doloh dan Kurnia Hidayati adalah dua penyair yang memiliki cita rasa yang sama yakni memilih salah satu puisi dari sekian puisi yang ada dalam buku untuk judul buku. Yang berbeda adalah Mahroso Doloh lebih memilih judul buku yang mudah diucapkan dan mudah diingat seperti Kiblat Cinta, sementara Kurnia Hidayati mempertaruhkan seni judul yang menarik dan mengundang penasaran sebab ianya jarang kita dengar dalam keseharian yakni Senandika Pemantik Api.

Dalam tulisan ini saya memilih satu puisi milik Mahroso Doloh sebab puisi tersebut adalah puisi yang dijadikan judul buku lewat pertimbangan bahwa Kiblat Cinta adalah puisi yang menjadi pusat atau intisari pandangan penyairnya dalam mengurai hidup dari sisi cinta. Namun dalam buku senandika pemantik api karya Kurnia Hidayati saya sengaja memilih puisi Batang, Suatu Malam sebagai bahan bahasan tulisan ini karena pertimbangan Batang adalah tanah kelahiran penyair dan saya ingin mengungkap pandangan penyair atas tanah kelahirannya.

PUISI YANG MENGUNGKAP MISTERI

KIBLAT CINTA adalah judul buku puisi Mahroso Doloh (Penyair Patani), yang kini bermukim di Purwokerto. Buku ini terdiri atas empat sub bab yakni 1. Lorong-lorong Cinta berisi 50 puisi, 2. Untukmu Patani berisi 11 puisi, 3. Untuk Pohon Cinta berisi 7 puisi, 4. Catatan Indonesia berisi 32 puisi.

Mahroso Doloh terbilang penyair yang menyorot tanah airnya Patani juga menyorot tanah rantaunya bernama Indonesia meski porsi sorotan pada Patani hanya berisi 11 puisi yang diletakkan khusus dalam sub bab Untukmu Patani dan 32 puisi membahas Indonesia yang diletakkan khusus di sub bab Catatan Indonesia secara porsi isi lebih banyak membahas rupa Indonesia dalam puisi, tak menutupi semangat juang Mahroso untuk memulihkan cinta Patani dan upaya meredakan hujan hujan airmata dengan jalan puisi.

Kiblat Cinta sengaja saya pilih sebagai bahan bahasan karena dalam hemat saya puisi ini mewakili beragam pandangan dari puisi-puisi yang dilahirkan dan diabadikan dalam buku bernama Kiblat Cinta yang memiliki misi utama untuk menebar cinta, meredakan hujan airmata dan menggugat ketimpangan yang ada.

Senandika Pemantik Api adalah buku puisi karya Kurnia Hidayati, seorang penyair perempuan kelahiran Batang. Dalam mengenalkan pandangannya, Kurnia Hidayati juga membagi puisi-puisinya ke dalam beberapa sub bab yakni 1. Senandika berisi 16 puisi, 2. Petilasan Waktu berisi 11 puisi, 3. Labirin Sunyi berisi 19 puisi, 3. Ziarah Kembang Kamboja berisi 7 puisi, 4. Tulang Rusuk Payung berisi 5 puisi.

Mahroso Doloh (Penyair Patani) dan Kurnia Hidayati (Penyair Batang), memiliki kesamaan yakni mengambil judul buku puisi dari salah satu puisi yang dimuat ke dalam buku. Kesamaan kedua membagi bukunya ke dalam empat sub pembahasan. Namun dalam pembahasan ini saya memilih puisi Kiblat Cinta karya Mahroso Doloh dan Batang, Suatu Malam karya Kurnia Hidayati atas pertimbangan, Kiblat Cinta merupakan intisari dari tema cinta yang diusung oleh Mahroso Doloh dalam bukunya, sementara Batang, Suatu Malam karya Kurnia Hidayati dipilih karena Batang merupakan tanah kelahiran penyair dan mengungkap nafas penyair akan tanah kelahirannya menjadi hal yang menarik.

Kiblat Cinta disampaikan dalam empat bait yang membahas tentang cinta berikut kemelut yang menyertainya sementara Batang, Suatu Malam oleh Kurnia Hidayati disampaikan dalam dua bait yang menggambarkan hidup di Batang beserta kegetiran yang meriasnya.

Dalam bait pertama Mahroso Doloh, penyair dari Patani menulis, Kemana akan kusimpan sebuah cinta/jika aksara tak menjadi kata-kata/bahkan terucap hanya terpaksa/menjadi ombak hanya ketika//

Ada masa getir di mana seorang manusia tak henti ditumbuhi bimbang, ianya menemukan jalan buntu dan kehilangan cara terbaik dalam mengekalkan cinta. Masa sulit tersebut membuat manusia dalam posisi serba salah. Keterpaksaan yang dipelihara hanya menimbulkan gejolak dalam jiwa dan tak ada ketenangan menerpa.

Dalam bait kedua Mahroso Doloh mengungkap kemungkinan dan harapan yang hendak diraih, ianya pun menulis, dalam puisi menggunung cinta/mencari arah tak terhingga/tak ingin cinta;/yang menjadi titi neraka//

Kemungkinan tentang adanya cinta yang menggunung diungkapkan Mahroso Doloh bermukim dalam puisi. Puisi dipercaya bisa menjadi jalan alternatif untuk menemukan dan menebarkan cinta dengan harapan tak ada lagi jalan kepedihan memanjang dan dipajang.

Bait ketiga merupakan ketegasan yang ditampakkan Mahroso Doloh dalam menepikan duka, mengusir segenap kemelut dan menukar kamar yang gelap, pengap dengan jalan cahaya, yakni menjadikan sela-sela malam sebagai waktu bertaubat. Sela-sela malam bisa kita tafsirkan waktu malam bisa pula kita tafsirkan saat melakukan kesalahan kita mengkondisikan diri untuk bertaubat, demikian yang ditegaskan oleh Mahroso agar kita tak terlalu larut dalam jalan kelam.

Bait keempat adalah bait pamungkas yang menggambarkan kehidupan manusia yang tak henti berada dalam pencarian dan yang menjadi pusat pencarian adalah kiblat cinta. Mengapa mesti Kiblat Cinta yang tak pernah usai dicari karena Kiblat Cinta adalah bagian tervital dari hidup. Jika dalam agama Islam kiblat shalat adalah ka'bah maka sejatinya kiblat cinta adalah Allah sebab ianya pusat segala cinta. Sebab ampunanNya lebih besar dari amarahNya, sebab karuniaNya tak pernah tuntas diceritakan meski laut jadi tinta dan langit jadi kertasnya.

Intisari dari puisi kiblat cinta adalah gambaran manusia dalam mencari kiblat cinta dan ketika jalan yang ditempuh sangat kelam, sangat menakutkan maka taubat bisa dijadikan jalan untuk menemukan kiblat cinta sementara kiblat cinta itu sendiri adalah Allah.

Kurnia memotret kehidupan di Batang dalam dua bait. Ada rupa perih pedih yang diperkelkan semacam suasana hidup yang muram. Ada gambaran yang menarik di samping Batang yang muram yakni lampu-lampu berbaris haru. Lalu muncul dalam benak seperti apakah lampu-lampu berbaris haru? apakah ianya kiasan tentang perjuangan di lampu merah tentang bocah-bocah yang tak menyerah pada ketakberbadayaan atau ibu-ibu yang mempertaruhkan diri berjuang demi kembali menghadirkan senyum putra-putrinya atau pula lukisan para lelaki yang tak lelah berjuang demi membahagiakan orang-orang yang dicintai sehingga ianya melahirkan haru bagi tiap mata hati yang berhasil terketuk oleh tangan takjub. Tak hanya itu, Kurnia juga mengabarkan  tentang nasib anak-anak puisi yang piatu di bait pertamanya, berikut penuturan Kurnia lengang jalan ini, senantiasa memajang lanskap muram/lampu-lampu berbaris haru/mengeram masygul dan sesunggukan, menangisi anak-
anak puisi yang piatu//

Ternyata Batang juga memiliki rupa yang dirias kesibukan  dan kehidupan yang tak pernah sepi dari pertarungan-pertarungan yang memilukan dan ratapan bocah-bocah terabaikan, yang dalam  penuturan penyair digambarkan menangisi anak-anak puisi yang piatu.

Dalam bait kedua, Kurnia menuturkan kehidupan di Batang yang sudah  modern, mobil-mobil melintas menyuguhkan suara klakson yang
lekas
dirampas udara tanpa aba-aba
seperti pekik tajam bunyi yang memecah membran sunyi
ketika malam bagai lambaian tangannaik turun,
mengingkari detik jam yang berdegup
diintai mimpi

Kehidupan modern tak bisa ditolak kiranya demikian yang hendak ditegaskan oleh Kurnia dan hal itulah yang kini dialami oleh Batang, tempat penyair Kurnia dilahirkan. Di sisi yang lain Kurnia juga mengungkap keprihatinan pada Batang sebab kemodernan menelan keakraban, harta warisan moyang yang paling mahal.

Madura, 4 Juli 2015
Biodata Penulis
Hanya seorang penikmat puisi, yang lahir dan dibesarkan di dunia pesantren.

MENGGAMBAR DUNIA PEREMPUAN DAN PERGOLAKAN BATINNYA

           Novy Noorhayati Syahfida, Penyair

Oleh. Moh. Ghufron Cholid

Membaca puisi PREMPUAN KEDUA karya Novy Noorhayati Syahfida penyair Tangerang memberikan saya kembara yang penuh pergolakan batin.

Perempuan yang penyair mencoba menggambar dunia kaumnya dengan memposisikan diri menjadi perempuan kedua dalam bercinta.

Sebuah ide yang sangat kental dengan wilayah sensitif dan tak banyak diekspos namun Novy tak ingin pandangan ini dirasakan sendiri, Novy seakan tak mau nasib perempuan kedua menjadi buah bibir tanpa pernah diketahui keperihan yang dialami.

Perempuan yang selalu menjadi yang pertama dalam bercinta, pernahkah membayangkan menjadi perempuan kedua?

Perempuan yang selalu menguasai cinta seutuhnya dari suaminya, yang tak rela ada tempat perempuan lain di bilik hati, pernahkah memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi untuk sedikit berbagi bahagia, semisal memberikan ruang pada istri kedua untuk mendapatkan porsi yang sama dalam berbakti dan mengabdi pada suami yang sama, tentu sangat sulit, kalaupun ada bisa dihitung jari.

Dalam al-Qur'an perihal kehidupan berumah tangga laki-laki mendapat perlakuan istimewa yakni bisa beristri empat, itulah di masa Islam datang lain lagi masa sebelum Islam menikah berapapun boleh, tentu perlakuan ini secara kasat mata tidak adil bagi perempuan, namun agama Islam pun memperhatikan perasaan perempuan, maka jika tidak mampu berlaku adil cukuplah beristri satu, barangkali inilah yang lebih melegakan hati perempuan.

Dalam kitab bulughul maram pernah dikisahkan bahwa ada sahabat yang memiliki istri 10 ketika ada pengaduan pada nabi maka nabi menganjurkan cukup empat saja, pertimbangan demi pertimbangan diambil hingga akhirnya sahabat mentalak 6 orang istrinya dan hanya memilih istri yang lebih layak.

Islam sangat ketat dalam menjaga kehormatan perempuan agar tidak selalu menjadi kambing hitam atau kelinci percobaan dalam bercinta.

Islam begitu memuliakan perempuan dalam hal percintaan terlebih dalam hubungan yang sangat serius yakni menjalin hubungan untuk hidup dalam ikatan suami istri.

Mulai dari taarruf, tunangan sampai pernikahan diatur begitu ketat agar kaum perempuan tidak dirugikan.

Dalam masa taarruf (perkenalan), laki-laki hanya diperkenankan melihat wajah dan telapak tangan, jika ada hal-hal yang meragukan terkait dengan organ tubuh yang dimiliki pasangan maka pihak laki-laki harus mengutus mahramnya atau perempuan yang dapat dipercaya untuk melihat bagian-bagian yang paling rahasia sehingga keraguan tersebut bisa hilang dan hubungan tetap berlanjut.

Perempuan yang sudah dilamar tak boleh dilamar oleh laki-laki kedua tanpa persetujuan pihak pertama atau tanpa ada kabah bahwa perempuan tersebut tidak lagi berstatus tunangan.

Lain lagi jika hendak ingin menikah maka yang harus ditempuh pihak laki-laki jika hendak menikahi perempuan perawan maka harus atas persetujuan orang tua dan perawan yang bersangkutan namun jika janda maka harus persetujuan janda tersebut, meski tanpa persetujuan orang tua pihak perempuan pernikahan masih bisa dilaksanakan.

Mengingat pernikahan adalah hal yang sangat sakral dalam bercinta maka muruah pernikahan sangat dijaga ketat oleh ajaran agama Islam.

Kalau mau menikah haruslah dengan yang sekufuk (setara) hal ini untuk menghindari segala kemungkinan yang tak dikehendaki.

Untuk menjadikan pernikahan bermartabat maka dikabarkan kepada pemeluk agama Islam bahwa talak itu halal namun paling dibenci Allah.

Pemahaman seperti ini perlu diberitahukan agar tiap diri yang menjalani pernikahan tidak main-main. Baik laki-laki dan perempuan akan memiliki bahan pertimbangan untuk lebih memuruahkan pernikahan.

Talak dalam Islam hanya diperbolehkan sebanyak 3 kali, hal ini dimaksudkan agar pasangan suami istri dapat lebih bijak dalam menentukan masa depan keluarga.

Jika talak sudah mencapai 3 kali maka hubungan suami istri tak dapat dilanjutkan lagi meski setelah talak 3 kali ada keinginan rujuk kembali karena cinta kembali menggebu, tentu untuk rujuk atau merajut cinta tak semudah membalikkan telapak tangan.

Perempuan yang sudah ditalak 3 kali oleh suami tidak bisa dinikahi oleh mantan suaminya yang sudah mentalaknya kecuali perempuan tersebut harus menikah lagi dengan lelaki lain yang disebut mahallil(suami pengganti) sebagai bonus dari agama bagi perempuan bagaimana menjadi istri baru dari suami yang baru.

Kalau ada kecocokan dan mahallil mau melanjutkan hubungan hingga seumur hidup maka talak takkan terjadi dan menikah lagi dengan lelaki yang sudah mentalak 3 kali pun takkan terwujud. Namun jika mahallil mentalaknya maka perempuan tersebut bisa menikah lagi dengan lelaki yang pernah mentalaknya 3 kali.

PEREMPUAN KEDUA

kulepas kau tanpa air mata
tanpa kata berpisah
kubungkam kata-kata
agar sepi tak terlalu jauh singgah

kubunuh kerinduan demi kerinduan
sebab jarak adalah kutukan kematian
senantiasa menggoda
di saat kau-aku jauh dari mata

kuusap nyeri yang merasuk di dada
kutandai luka dan bahagia saat bersama
karena aku hanya perempuan kedua
yang tak pantas mengharap apa-apa

Tangerang,2014

WATAK DASAR MANUSIA DAN SKETSA KEHIDUPAN KEDUA


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Berhadapan dengan puisi FARUK TRIPOLI berjudul
MAKA HIDUP PUN ABADI di malam yang hening, saya serupa diajak mengembara ke alam semesta tepatnya merenungi kembali gejala alam. Merenungi daun yang jatuh atau merenungi kibas sayap burung yang kemudian mendarat kembali.

Membaca bait pertama Faruk Tripoli saya seakan mendapat isyarat dalam daun yang jatuh atau dalam kibas burung yang mendarat kembali, perihal kehidupan yang tak abadi.

Latar suasana yang terdapat dalam puisi Faruk menuntun saya merenungi muasal kehidupan. Saya pun teringat penolakan iblis yang tak mau mengakui manusia sebagai pemimpin di bumi dikarenakan iblis merasa lebih sempurna dari manusia, iblis yang tercipta dari api tak mau tunduk pada manusia yang tercipta dari tanah, berikut latar suasana yang dibangun Faruk Tripoli.

apa artinya daun jatuh
atau sekedar kibas sayap burung
lalu mendarat kembali
dalam hening
dalam dingin
tanah lembab
lalu mengendap
begitu perlahan

Jadi tanah adalah muasal kehidupan manusia, benarkah manusia tercipta dari tanah? Mempertanyakan sesuatu yang tak rasional adalah watak dasar manusia, oleh sebab itu dalam surat al-baqoroh kita sangat dianjurkan mengimani yang ghaib itu ada, yang tak rasional itu benar adanya, paling tidak ketika kita menggosok kulit berkali-kali lalu menciumnya maka aroma tanah begitu akrab, ini bukti bahwa tanah tak terpisahkan dari diri kita sebab tanah punya hubungan erat dengan kita jadi benarlah muasal manusia tercipta dari tanah.
Lalu penyair mulai mengurai tentang keadaan kita yang selalu berada dalam perangkap senyap. Akhir cerita dari hidup berujung pada kematian dan kematian identik dengan kesenyapan, seperti yang dikabarkan penyair di bait keduanya.

seperti akhir cerita
selalu memerangkap kita
dalam senyap
membuat sesaat terlelap
sebelum kicauan burung hinggap di daun telinga
lalu merayap
dengan rangkaian gerbong dan getaran suara
apa saya

Rupanya Faruk tak hendak berlama-lama dalam senyap, bait ketiga ia sajikan untuk menggambarkan hidup di masa muda, hidup yang penuh semangat, penuh rasa penasaran, gambaran bait ketiga barangkali bisa lebih bermanfaat bagi yang hidup, seumpama talqin yang dibacakan di sekitar kuburan dan didengarkan telinga-telinga yang berada di sekitar makam untuk mendapatkan pelajaran kehidupan yang lebih baik.

lalu cahaya
mengasah pucuk pohon
dan kita pun berloncatan
ke tengah cerita
masa-masa muda yang bergelora
untuk berselancar
di atasnya

Barangkali pula bait ketiga mengisahkan keadaan yang dialami mayat di dalam kubur, mendapat cahaya bagi yang melakukan kebaikan semasa hidup, mendapat keriangan seperti saat masih muda, segala praduga ini bisa saja mengandung kebenaran.

Bukankah cahaya, atau tempat yang lapang juga merupakan hadiah atas amal baik bagi manusia yang telah wafat. Bukankah alam kubur adalah miniatur bahagia atau duka yang akan didapat oleh manusia yang telah meninggal bergantung amal perbuatan.

Lalu bait keempat penyair Faruk Tripoli mencoba menguak watak dasar manusia yang pelupa, yang buta (nurani yang tertutup lantaran belum dapat hidayah), mati rasa (melukiskan keadaan mayat) yang tak lagi merasakan perjuangan untuk meraih segala yang diinginkan.

dan lupa
dan buta
dan mati rasa
begitu tak menyangka
dari bawah kubur daun-daun itu
dari dingin tanah basah yang senyap
sebuah tunas yang menggeliat
merangkai jalan cerita
agar berderap ke akhir
yang sama

Kematian adalah penanda bahwa hidup telah berakhir, bahwa perjuangan telah berakhir bahwa yang bisa menolong hanyalah amal perbuatan yang baik meliputi sedekah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan orang tua.

Gambaran cerita akhir yang sama yang coba dikuak oleh Faruk Tripoli, betapa bait keempat tiap manusia memiliki akhir cerita yang sama dalam kubur yakni menunggu keajaiban yang lahir dari 3 perkara yang tak terputus amalnya. Dengan kata lain akhir yang sama merupakan gambaran bahwa kubur tempat penantian sebelum kita mendapatkan hadiah surga atau neraka atas amal yang kita lakukan semasa hidup.


karena kematian
sekedar jembatan yang sama
bagi abadi hidup selanjutnya
dan kebangkitan tak akan pernah lama
terjadi di tahun ketiga
setelah tahlil berakhir
setelah semua orang lupa
dan kembali bahagia

Adalah hal yang tak bisa disangkal bahwa kematian adalah jembatan fana bagi kehidupan selanjutnya, hidup yang diperoleh selepas kematian yakni kebangkitan.

Selepas mati manusia akan dihidupkan kembali menuju kehidupan yang lebih abadi, kehidupan yang akan mendapat balasan yang layak atas perbuatan semasa hidup.

Maka saya mendapatkan jawaban yang kongkrit atas judul puisi MAKA HIDUP PUN ABADI dinisbatkan pada kebangkitan selepas kita mati. Hidup abadi di surga atau neraka itulah yang akan dialami tiap manusia.

Bait pamungkas Faruk tak hanya mengurai yang dialami manusia selepas mati, melainkan juga membahas kebiasan yang dilakukan manusia yang masih hidup menyikapi kenalan atau kerabat yang telah mati yakni melupakan kesedihan dan kembali bahagia.

Madura, 13 Mei 2014