Tampilkan postingan dengan label Sastra yang Mendunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra yang Mendunia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2019

Antologi Puisi Mahrajan ke-2 di Malaysia)

KHULUQ

Takkan pernah sampai khuluqku
Kecup mahabbahMu
Saat aku, debu
Berdansa ikut irama angin

Takkan pernah sampai khuluqku
Gapai haqqul yakin
Saat aku, basah
Tenggelam dalam laut resah

Takkan pernah sampai Khuluqku
Takkan pernah Sampai
Saat aku, nurani
Padam, sepanjang desah waktu

Jakarta, 3 Sepetember 2013

TERBIT DI RADAR SURABAYA (1 MEI 2016)

Moh.GhufronCholid
MATA KEKASIH

inimataku, kekasih
mata yang tulus
mata yang takmembius

tatapmataku, kekasih
mataku; rumah
tempatmuberteduh

inimataku, kekasih
masuk, masuklahseutuh
senyummu yang rekah

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
AKULAH SENJA YANG RANUM

akulah senja yang ranum
bergegas, bergegaslahkaupulang
cukupkantualang
teguk, tegukakusepenuhsenyum
barangkalipitam
di matadanhatimu
taklagimenderu
hatimu, taklagiseteru
Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
ANUGERAH TERINDAH

kurundukkanlangitresah
takkankubiarkanangingundah
betahdalamtubuh
dalamruh
dan kubiarkan tatap mahabbah
menembus sukmamu
menyingkirkan benalu
dalam dirimu
sebab kau
anugerah terindahku

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
KELAK PERJUMPAAN TIBA

redam, redamlahlajurindu
biarkanmengalirbersamawaktu

kelakperjumpaantiba
bibirku, manismadu
kankulumatsegalapilu
yang bersarang di jiwamu

Biar, biarlah bibir restu
basah.Sampai hadirmu lengkapi nafasku

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
PENGABDIAN

kutandai kau
dalam tiap debar
dalam tiap zikir
sebab kau
imamku

kutandai kau
dalam tiap senyumku
kusambut hadirmu
sepenuh cintaku

menetap, menetaplah
dalam kamar ibadah
: cintaku
aku, rumahmu
selepas kau pulang

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
MALAM YANG RUNCING

malam, runcing
anginmenukarkenang

bulan, berlayarpelan
tegaskanpergantianrindu
hati yang pilu
: tabah yang kalah
padaletih yang rintih

malam, runcing
hilangbentuk
saatkeningmubegitukhusyuk
penandasembahyang
Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
DENGAN APA HARUS KUNAMAI

dengan apa harus kunamai
detak yang begitu murni
seperti air terjun
tak pernah ragu menentukan pilihan
semisal laut
begitu piawai taklukkan gelombang kemelut

dengan apa harus kunamai
detak yang begitu murni
selaksa mentari tak letih
menumbuhkan kehidupan baru
tanpa tunduk pada hujan pun kemarau

Junglorong, 2016

Senin, 14 Januari 2019

TIGA PUISI TERBIT DI UTUSAN BORNEO MALAYSIA 1 FEBRUARI 2015


PERJALANAN AIRMATA
: Tragedi AirAsia

ia yang menjemput cita
pulang berkerudung airmata

ia yang teguh genggam yakin
pulang membawa buah pengabdian

Madura, 2015

MENCARI LEZAT IMAN

antara impian dan kematian
bermukim keberkahan

antara doa dan perjuangan
menetap lezat iman

Madura, 2015

PANGKALANBUN

cinta menemukan rupa
doa

Madura, 2015

PUISI-PUISI MOH. GHUFRON TERBIT DI KORAN MADURA (18 /09/2015)

Teratai Abadi

rindu yang menguntum
ranum
bilakah terpetik
angin mengisahkan percakapan
sunyi pecah perlahan

dedaun mulai menguning
hari-hari menegaskan diri
hidup adalah keakraban
menyusun pengertian

menandai kenangan dalam degup
ada yang pindah perlahan, gugup
takut menyergap
kegetiran semakin karib

kenangan meraung dan terus meraung
jalan yang lengang
menegaskan pandang
yang pernah datang dan hilang

ketika jarak merentang
di manakah menegak keakraban
hanya dalam doa dan kesetiaan

Madura, 2013-2015

Selepas Idris Sardi

biola itu masih memperkenalkan diri
menyapa segenap hati

nyaring nurani
mengurai nyeri
mengisahkan keprihatinan tak bertepi

pemuda dari negeri kertas
tegak menerjemah cahaya
membuat jejak cita
tapak doa
dalam biola
Madura, 24 Februari 2015
Malam Manis

menjilbab hati
cinta suci abadi
warisan nabi

Madura, 22 Februari 2015

Menujumu

aku menujumu
bermukimkah rindu
adakah kamar untukku
dalam hatimu
aku menujumu
gerimis berganti hujan
bertukarkah hatimu
layaknya bunglon
yang bertahan

2015

TERBIT DI UTUSAN BORNEO MALAYSIA (27/09/2015)


MEMANDANG TENANG TELAGA

memandang tenang telaga
cinta berbaris rapi
merias hati

alam begitu teduh
menetap dalam tubuh

pedih, perih juga riuh
tak lagi singgah

memandang tenang telaga
serupa membaca riwayat cinta
 pengembara yang telah temukan rusuknya

 Junglorong, 28 Agustus 2015


MELEPAS

melepasmu di bandara
membiarkanmu kecup angkasa
getir, khawatir
adalah debar
tak bisa kuhindar

aku; burung
patah sayap

aku coba mengubur gugup
sekedar menafasi ketegaran
tak ingin ditumbuhi khawatir
sebab membakar semangat
memalingkan segala kemungkinan
menyematkan yakin
jalan yang mesti kutempuh
biar kau-aku tak rapuh

Bandara-Junglorong, 2014-2015

LUKISAN HATI SEORANG KEKASIH

rindu ini menua
bayangmu tempati sukma

waktu: kesepian
aku kesetiaan
berjalan mengintimi detak
mengintimi tapak

ketiadaanmu: kehampaan
cintamu menguatkan
senyummu meneduhkan

tiada kau
suaramu membangkitkan
aku tak sendiri
puisi-puisimu mengakar
buatku sabar

wangi kenangan
tak henti kukenakan
sampai segala
kembali bermula
semoga pertemuan kedua
segera tiba

 Junglorong, 17 Agustus 2015

TIGA PUISI DALAM BUKU PUISI SANG PENEROKA


Moh. Ghufron Cholid
DOA YANG BERJALAN
: Kurniawan Junaedhie

enam puluh tahun doa berjalan
mencari istijab
merayapi keraguan
menginsafi ketakberdayaan
menyalakan api pengabdian

aksara-aksara rapatkan barisan
membentuk peradaban
mengakarkan kebudayaan
sepanjang tanah perjuangan

enam puluh tahun doa berjalan
ibarat daun telah menguning
selaksa purnama mengencani kamar remang-remang
bimbang tak datang
segala semakin benderang

Madura, 2014

Moh. Ghufron Cholid
KISAH HATI SEORANG SABBY

telah kau tanam cinta begitu megah
melepas kepergian dengan hamdalah
tabah begitu tumbuh
di matamu
di hatimu
sabby

telah kau tancapkan tiang anugerah
kepergian buah hati
kau maknai sebagai titipan
yang sudah habis puncak percaya
dan kau
jadi mata doa buat buah hatimu
sabby

betapa pohon kagum
rindang, di mataku
di hatiku
ketika kau letakkan kematian
tanda cinta Tuhan
yang paling anggun
kesabaran, begitu mengakar di hatimu
sabby

Madura, 25 Agustus 2014
Sabby nama seorang rekan yang sudah saya anggap saudara dari Malaysia,
begitu tabah melepas kepergian (kematian) buah hatinya.

Moh. Ghufron Cholid
LANGIT YANG GUGUP

kabar dari seberang
menyemat linang
kepergianmu, merindang kenang

tak mampu tegak di batas sabar
ada belukar gusar
menjalari tubuh, aku gemetar

kematian telah mendekap
langit dalam tubuhku, gugup
doa-doa kubariskan
semoga tenang di pembaringan

Madura, 22 Agustus 2014
(terbit di Indonesia untuk mengenang ultah KJ 60, 2014

ANGIN YANG SAMA

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Ini angin yang sama
Menyalami jiwa begitu mesra
Membuka kembali lembaran masa
Tempat kita mengeja
Airmata
Tempat kita menerjemahkan
Doa

Ini angin yang sama
Bawa kabar duka
Kau daun gugur dari ranting
Kecup tanah sembahyang
Lalu berwajah nisan
Memusiumkan harapan

Ini angin yang sama
Bumi kuyup doa
Hari pemakaman penuh ridha
Namamu bergema di kamar jiwa
Berkat ikhlasmu berdharma

Madura, 26 Januari 2014
(Salah satu puisi dari tiga puisi yang termuat dalam mengenang r hamzah dua, terbit di Malaysia, 2014)