Jumat, 09 Oktober 2020
KH. MUKHTAR SANUSI [JUNGLORONG] KEGEMARAN BERRIYADHAH DAN NASAB KE SUNAN AMPEL
BIOGRAFI SINGKAT KH. MAWARDI [JUNGLORONG] DAN SILSILAHNYA KE BUJUK KA' ENGKOK TEBBENAH
KH. MAWARDI merupakan salah satu Masyaikh dari sekian Masyaikh yang ada di Junglorong. Tahukah anda, bahwa ulama kharismatik yang satu ini juga memiliki jalur nasab ke Bujuk Ka' Engkok Tebbenah Banyuates Sampang. Jalur nasab tersebut diperoleh dari ibunya yang bernama Nyai Nursiti [Junglorong]. Dengan perincian sebagai berikut
KH. MAWARDI bin Nyai Nursiti bin Kiai Ismail bin Kiai Hadiun [Montor] bin Bujuk Diun [Montor] bin Bujuk Abdul Karim [Montor] bin Bujuk Amir [Montor] bin Bujuk Ghonem [Tlageh, Banyuates] bin Bujuk So'on [Banyusokah, Ketapang] bin Sayyid Abdurrahman [Bujuk Ka' Engkok Anom, Tebbenah] bin Sayyid Abdurrahiem [Ka' Engkok Seppo, Tebbenah] bin Raden Ronggo [Nepa] bin Raden Mas Paganten [Pamekasan], bin Mas Waringin Pitu bin Nyai Ageng Sewo bin Sunan Giri.
Atau KH. MAWARDI [JUNGLORONG] bin Nyai Nursiti bin Kiai Ismail bin Kiai Hadiun [Montor] bin Bujuk Diun [Montor] bin Bujuk Abdul Karim [Montor] bin Bujuk Amir [Montor] bin Bujuk Ghonem [Tlageh, Banyuates] bin Bujuk So'on [Banyusokah, Ketapang] bin Sayyid Abdurrahman [Bujuk Ka' Engkok Anom, Tebbenah] bin Sayyid Abdurrahiem [Ka' Engkok Seppo, Tebbenah] bin Raden Ronggo [Nepa] bin Raden Mas Paganten [Pamekasan], bin Mas Waringin Pitu bin Raden Sewo Tanah bin Raden Kulkum bin Raden Tumapel bin Sunan Ampel.
Paling tidak antara Sayyid Abdurrahman [Ka' Engkok Anom] dengan istrinya masih ada ikatan nasab sebab Ratu Ayu Wironolo masih keturunan dari Syarifah Ambami [Arosbaya] yang merupakan saudara dari Sayyid Abdurrahiem [Ka' Engkok Seppo]sama-sama keturunan dari Raden Ronggo.
KH. MAWARDI sendiri bersaudara dengan KH. Mukhtar Sanusi [Junglorong], KH, Abdul Adzim [Junglorong] dan Nyai Rofiah [Nangger, Ketapang]. KH. MAWARDI sendiri menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertamanya yang bernama Nyai Subaidah [Blega] bin Kiai Hadlori bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah [Bujuk Ambessi, Junglorong] memiliki keturunan
1. Nyai Hamidah Mawardi menikah dengan KH. Mustain memiliki keturunan a) Nyai Nurhasanah + KH. Noer Hasan Abdul Adzim, b) Nyai Nurhayati menikah dengan KH, Muzanni Mukhtar, c) Nyai Asmawati menikah dengan KH. Abdul Karim Aly Zahrawi, d) KH, Rahmatullah menikah dengan Nyai Luthfiyah Mahrus, e) Nyai Noer Izzati menikah dengan Iwan, f) Nyai Muniroh, g) Kiai Abdurrahiem menikah dengan Nyai Rizqon Auliya, h) Nyai Nurus Sholehah menikah dengan Lora Shofiyullah Jailani.
2. Lora Hasyim (wafat ketika muda),
3. KH. Cholid Mawardi menikah dengan Nyai Hj Munawwaroh memiliki keturunan a) Halimatus Sya'diyah (wafat ketika kecil), b) Moh. Ghufron Cholid menikah dengan Farrohah Ulfa (Paopale Daya) diberkahi krturunan (Ashlihatul Millah (wafat ketika kecil) dan Nailun Najah), c) Ahmad bin Cholid (wafat ketika kecil), d) M. Farhan Cholid, S.Pd.I menikah dengan Noer Faizah Fawaid, e) Ali Fahmi Cholid, M.Pd.I menikah dengan Neng Ifroh (Jember), f) Ulfatun Ni'mah Cholid, g) Asror Cholid (wafat ketika kecil), h) Ahwar bin Cholid (wafat ketika kecil).
4. KH. Fawaid Mawardi menikah dengan Nyai Hj Halimah Mukhtar memiliki keturunan a) Fatimatuzzahra menikah dengan Lora H Dhoifi, b) Noer Faizah Fawaid menikah dengan Farhan Cholid, c) Muarrofah menikah dengan A Rofiq Suaidi, d) Zulfa Azizah
5. KH. Fathurrozi Mawardi menikah dengan Nyai Hj Fauziyah (Prajjan) memiliki keturunan KH. Kholilurrahman menikah dengan Nyai Gunung Paraoh Omben, b) Sofyan Assyauri, c) Rizqan Auliya menikah dengan Kiai Abdurrahiem Mustain d) Lora Abbas
Sementara pernikah KH. MAWARDI dengan istri keduanya yang bernama Nyai Hj Zainiyah (Junglorong) memiliki 2 keturunan yakni
1, Nyai Hj Intan Mawaddan (Mutmainnah) menikah dengan KH. Badrus Sholeh (Jrengoan)
2. Nyai Khomisatul Badriyah
Semasa hidup KH. Mawardi dikenal sebagai seorang ulama kharismatik yang tegas dalam istilah Maduranya disebut tatak. Dalam mengaji Surat Fatihah para santri-santrinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, bisa hitungan bulan bisa juga hitungan tahun. Paling sulit mengaji suratul fatihah kepada KH. Mawardi demikian yang sempat dituturkan santri kuna almarhum KH. Mawardi
Junglorong, 10 Oktober 2020
*Alumni TMI Al-Amien Prenduan juga seorang Pengurus LESBUMI KEDUNGDUNG yang sangat menyukai dunia sastra juga ziarah.
Kamis, 08 Oktober 2020
BUJUK KA' ENGKOK TEBBENAH DAN PERTALIAN NASAB DENGAN MASYAIKH PLANGGEREN BLEGA BANGKALAN
Mengetahui nasab itu penting, paling tidak sebagai jalan untuk bersyukur, biar ketika mengirimkan fatihah bisa menyebutkan nama yang akan dihadiahi fatihah secara pasti dan sebagai upaya meneladani keistiqomahan dalam bertaqarrub kepada Allah. Moh. Ghufron Cholid
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Dalam kesempatan yang telah lalu, saya telah membahas tentang Bujuk Ka' Engkok dan Pertalian Nasab dengan Masyaikh Junglorong. Dalam kesempatan kali ini, saya juga akan membahas Bujuk Ka' Engkok Tebbenah dan Pertalian Nasab dengan Masyaikh Planggeren Blega.
Adapun pertalian silsilahnya sebagai berikut:
1. Sunan Giri
2. Nyai Ageng Sewo
3. Sayyid Abdullah (Waringin Pitu)
4. Mas Panganten (Pamekasan)
5. Raden Ronggo di Nepa
6. Sayyid Abdurrahiem (Bujuk Ka' Engkok Seppo)
7. Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)
8. Bujuk Burhanuddin (Montor)
9. Sayyid Abdurrahman Sloros
10. Kiai Fathullah
11. Kiai Imam Djuwaini (Planggeren) + Nyai Karimah binti Kiai Hadlori bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)
12. Kiai Musaddad (Planggeren, Blega)
13. Ibrohim Musaddad
(Ibrohim Musaddad didampingi Moh. Ghufron Cholid (Junglorong) sewaktu ziarah ke Bujuk Ka' Engkok Tebbenah)
Selepas shalat isyak, sewaktu ziarah ke Raden Ronggo (Nepa), ayah dari Bujuk Ka' Engkok (Tebbenah Banyuates Sampang)
Sefamilian dari jalur Bujuk Burhanuddin (Montor) diabadikan di Mushalla Bindereh Mukhlis (Montor) pada hari Rabu, 7 Oktober 2020
1. Sunan Ampel
2. Raden Tumapel (Sayyid Hamzah)
3. Raden Kulkum (Sayyid Ghozali)
4. Raden Sewo Tanah (Sayyid Abdurrahman)
5. Raden Waringin Pitu (Sayyid Abdullah)
6. Raden Mas Panganten (Sayyid Ja'far Shodiq)
7. Raden Ronggo (Sayyid Muhammad)
8. Syarifah Ayu Ambami sesaudara dengan Bujuk Ka' Engkok Seppo
9. Ratu Ayu Wiranolo + Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)
10. Bujuk Burhanuddin (Montor)
11. Sayyid Abdurrahman Sloros
12. Kiai Fathullah
13. Kiai Imam Djuwaini (Planggeren) + Nyai Karimah binti Kiai Hadlori bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)
14. Kiai Musaddad (Planggeren, Blega)
15. Ibrohim Musaddad
Demikian catatan ini dibuat sebagai pengingat juga sebagai renungan, semoga percik berkah dan karomah Allah yang diberikan kepada Bujuk Ka' Engkok (Sayyid Abdurrahiem bin Raden Ronggo) mengalir kepada kita semua, Amien ya Rabbal 'Alamien.
Junglorong, 8 Oktober 2020
*Alumni TMI AL-AMIEN PRENDUAN (2006), Pengurus LESBUMI KEDUNGDUNG yang juga menyukai dunia sastra. Bermukim di Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura.
BUJUK KA' ENGKOK TEBBENAH DAN PERTALIAN NASAB DENGAN MASYAIKH JUNGLORONG
Oleh Moh. Ghufron Cholid*
Rabu, 7 Oktober 2020 merupakan perjalanan istimewa bagi saya, lantaran Allah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti haul Bujuk Ka' Engkok yang berlokasi di Tebbenah.
Saya terus dikejar pertanyaan, siapakah bujuk Ka' Engkok sebenarnya dan adakah pertalian nasab Masyaikh Junglorong ke bujuk yang saya hadiri acara haulnya.
Berulang kali saya mencari jawaban dan saya lancarkan pandangan ke segenap sisi untuk menjawab rasa penasaran saya.
Silsilah yang terpampang di dinding Bujuk Ka' Engkok.
Saya mulai menemukan jawaban atas rasa penasaran saya bahwa ada pertalian nasab antara Masyaikh Junglorong dengan Bujuk Ka' Engkok (Tebbenah, Banyuates Sampang) yakni
1. Sunan Giri + Nyai Murtasiyah binti Sunan Ampel
2. Nyai Ageng Sewo
3. Sayyid Abdullah (Waringin Pitu)
4. Mas Panganten (Pamekasan)
5. Raden Ronggo di Nepa
6. Sayyid Abdurrahiem (Bujuk Ka' Engkok Seppo)
7. Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)
8. Bujuk So'on (Banyusokah) & Bujuk Burhanuddin (Montor)
9. Bujuk Ghonem (Tlageh, Banyuates)
10. Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah
11. Bujuk Abdul Karim (Montor)
12. Bujuk Diun (Montor)
13. Kiai Hadiun (Montor) + Nyai Khotimah binti Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)
14. Kiai Ismail + Nyai Khotimah binti Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah
15. Nyai Nursiti (Junglorong) + Kiai Sanusi (Prajjan) bin Kiai Sulaiman bin Nyai Rahmah binti Kiai Masajid bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam (Prajjan)
16. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong) sesaudara dengan KH. Mukhtar, KH. Abdul Adzim dan Nyai Rofiah (Nangger, Ketapang)
17. KH. Cholid Mawardi (Pendiri Lembaga Assanusi Torjunan Robatal Sampang sesaudara dengan Kiai Hasyim Mawardi (wafat ketika muda), Nyai Hamidah Mawardi, KH. Fawaid Mawardi dan Fathurrozi Mawardi (Keturunan KH. Mawardi dan Nyai Subaidah (istri pertama). Sesaudara dengan Nyai Hj Intan Mawaddah (Nyai Mutmainnah) & Nyai Khomisatul Badriyah ( Keturunan KH. Mawardi dan Nyai Hj Zainiyah (istri kedua))
18. Moh. Ghufron Cholid sesaudara dengan Halimatus Sa'diyah (wafat ketika kecil), Ahmad bin Cholid (wafat ketika kecil), M. Farhan Cholid, S.Pd.I, Ali Fahmi Cholid, M.Pd, Ulfatun Ni'mah Cholid, S.Pd.I
19. Ashlihatul Millah (wafat ketika bayi) & Nailun Najah
Atau
1. Sunan Ampel
2. Raden Tumapel (Sayyid Hamzah)
3. Raden Kulkum (Sayyid Ghozali)
4. Raden Sewo Tanah (Sayyid Abdurrahman)
5. Raden Waringin Pitu (Sayyid Abdullah)
6. Raden Mas Panganten (Sayyid Ja'far Shodiq)
7. Raden Ronggo (Sayyid Muhammad)
8. Syarifah Ayu Ambami sesaudara dengan Bujuk Ka' Engkok Seppo
9. Ratu Ayu Wiranolo + Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)
10. Bujuk So'on (Banyusokah) sesaudara sekaligus besan Bujuk Burhanuddin (Montor)
11. Bujuk Ghonem Lakek + Bujuk Ghonem Binik (Tlageh Banyuates)
12. Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah
13. Bujuk Abdul Karim (Montor) + Caca Rattin
14. Bujuk Diun (Montor)
15. Kiai Hadiun (Montor) + Nyai Khotimah binti Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)
16. Kiai Ismail + Nyai Khotimah binti Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)
17. Nyai Nursiti (Junglorong) + Kiai Sanusi (Prajjan) bin Kiai Sulaiman bin Nyai Rahmah binti Kiai Masajid bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam (Prajjan) bin Nyai Tepi Selase binti Nyai Kumala binti Sunan Cendana bin Nyai Gede Kedaton binti Panembahan Kulon bin Sunan Giri
18. KH. Mawardi + Nyai Subaidah binti Nyai Maisurah (Sesaudara Kiai Munawwir Blega) binti Kiai Ali Bakri (Junglorong) bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)
19. KH. Cholid Mawardi (Junglorong) + Nyai Hj Munawwaroh (Nyai Maftuhah) binti Kiai Munawwir bin Nyai Shofiyah binti Syarifah Marni binti Syeikh Abu Bakar al-Iraqy
(Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah Banyuates Sampang)
Demikian catatan yang bisa saya sajikan, semoga bermanfaat dan bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang ingin mengarsipkan lalu mengembangkan catatan ini. Selebihnya wallahu'alam Bisshowab sebab sejatinya kebenaran hanya milik Allah.
Junglorong, 8 Oktober 2020
*Alumni TMI Al-Amien Prenduan (2006)& Pengurus LESBUMI KEDUNGDUNG bermukim di Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura.
Selasa, 06 Oktober 2020
SAYYID ABDUL ALLAM (BUJUK PRAJJAN) DAN PERTALIAN NASAB DENGAN MASYAIKH JUNGLORONG
Sayyid Abdul Allam (Bujuk Prajjan)
Sayyid Abdul Allam (Bujuk Prajjan) merupakan murid dari Raden Qabul (Aji Gunung). Sayyid Abdul Allam juga merupakan salah satu sesepuh dari Masyaikh Junglorong yang memangku Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong.
Paling tidak, Sayyid Abdul Allam memiliki tiga jalur nasab ke Sunan Giri yakni:
1. Sayyid Abdul Allam bin Nyai Tepi Selase binti Nyai Kumala binti Sunan Cendana bin Nyai Gede Kedaton binti Panembahan Kulon bin Sunan Giri.
2. Sayyid Abdul Allam bin Nyai Tepi Selase binti Kiai Abdullah bin Sayyid Khotib Pesapen bin Sayyid Khotib Mantoh bin Panembahan Kulon bin Sunan Giri.
3. Sayyid Abdul Allam bin Nyai Tepi Selase binti Nyai Kumala binti Istri Sunan Cendana bin Pangeran Bukabuh bin Nyai Gede Kentil binti Panembahan Kulon bin Sunan Giri.
Sementara talian nasab Masyaikh Junglorong ke Sayyid Abdul Allam
1. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Al-Ittihad Junglorong) bin Kiai Sanusi bin Kiai Sulaiman bin Nyai Rahmah binti Kiai Masajid bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam.
2. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Al-Ittihad Junglorong) bin Kiai Sanusi bin Nyai Ummu Khomsyien binti Nyai Ratnady binti Kiai Safina bin Nyai Temor Songai binti Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam.
3. 1. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Al-Ittihad Junglorong) bin Kiai Sanusi binti Nyai Ummu Khomsyien binti Kiai Qashim bin Kiai Rumajak bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam.
Sangat penting mengetahui nasab namun lebih penting lagi beristiqamah meneruskan perjuangan leluhur. Paling tidak dengan mengetahui jalur nasab mengirimkan fatihah kepada leluhur lebih jelas dengan menyebutkan nama-namanya. Semoga dengan begitu berkah Allah yang diturunkan lewat para waliyullah bisa dengan mudah kecipratan perciknya.
Junglorong, 6 Oktober 2020
Jumat, 13 Maret 2020
MENYOAL KATA TERBAIK YANG MELEKAT DALAM BUKU KAU PERGI HIMPUNAN PUISI TERBAIK L.K. ARA
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Temu Sastra Indonesia Malaysia di Bandung merupakan pertemuan pertama saya dengan buku L.K. Ara berjudul Kau Pergi Himpunan Puisi Terbaik yang dikata pengantari oleh Narudin Pituin.
Sebagai buku yang dijudul dilebeli terbaik, tentu bisa diberi beberapa kemungkinan, berarti selama menulis puisi L.K. Ara maka buku inilah adalah puisi terbaiknya, bagi saya sah-sah saja, pelebelan terbaik itu sebagai upaya menjadi pusat penasaran kita sebagai pembaca.
Ada yang mesti dipertaruhkan ketika kita melebelkan karya dengan kata terbaik, yakni harus jauh dari ketidak sempurnaan, baik dalam penyajian maupun dalam pemberian judul pada puisi-puisi yang ada dalam buku.
Memanglah benar ada kata-kata yang barangkali tak asing untuk didengar di telinga kita yakni apalah arti sebuah nama namun kita pun tak boleh mengabaikan atau pura-pura lupa bahwa penamaan adalah sangat penting sebab dari sebuah nama sesuatu bisa cepat dikenal.
Marilah kita mulai mengintimi puisi yang ada dalam buku ini yang isinya begini, cahaya merebak ke laut/dan laut malu tapi bahagia/dan kau tentu tahu aku di mana/memang tak nampak/karena wajahku tertutup ombak/tapi suara desir itu/adalah nyanyian pedih (hal, 20).
Barangkali sebagai sebuah karya, isinya bisa kita rasakan kehadirannya, kalau diletakkan dalam status facebook akan menjadi sangat lumrah, namun jika dimasukkan dalam buku yang dilebeli terbaik, tentu bisa dikatakan sangat berlebihan sebab terbaik memiliki makna paling dan sesuatu yang di dalamnya terdapat kekurangan tidak bisa dikatakan terbaik.
Namun saya menyaari tiap orang atau pembaca pastilah memiliki pandangan yang berbeda dan saya menyadari perbedaan adalah hikmah, amun di sini lain saya juga seorang pembaca yang berhak menyatakan ataupun mengungkap apa yang saa rasakan tentang kejanggalan yang saya temukan, paling tidak dari sudut pandang saya selaku pembaca.
Saya pun takkan mempersoalkan siapa yang lebih dulu melebelkan terbaik dalam buku itu, apakah penyairnya sendiri ataupun Narudin karena melebelkan kata terbaik dalam sebuah karya tentulah memiliki pandangan yang bisa dipertanggung jawabkan, namun jangan lupa dari suatu sudut pandang yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain, tersebab orang lain melihat suatu sudut yabg barangkali terluput dari pandangan kita, jendati kita telah mengintimi lebih akrab dan cermat.
Berikut saya hadirkan pandangan Narudin atas puisi karya L.K. Ara yang berada dalam buku yang dihadirkan tanpa judul, Narudin berkata, "Judul tak dibutuhkan lagi ketika perasaan telah demikian pekat. Bukankah kegelapan (kepekatan) tak diperlukan ketika matahari dini hari hendak terbit? bukankah cahaya dan kegelapan takkan berada dalam satu wadah? salah satu harus mau tak mau pasrah pada nasib untuk diusir?"
Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat mengenal sesuatu hanya mempercayakan pada perasaan saja, tanpa mengenal nama atau memberi nama. Barangkali jika berkaitan dengan hal individu bisa dimaklumi namun bagaimana cara memecahkan persoalan tersebut dengan khalayak.
Allah saja sebagai Tuhan Yang Maha Esa memperkenalkan namaNya terlebih kita hambaNya, sebab nama itu memegang peranan vital, tanpa nama seseorang belum bisa mengenal dengan baik. Manusia diangkat menjadi khalifah di bumi karena salah satunya manusia mampu memperkenalkan nama-nama (baca surat al-baqarah tentang penunjukan manusia sebagai khalifah).
Atau coba baca surat al-ikhlas yang menegaskan bahwa Tuhan itu satu. Bahwa Tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dengan kata lain semakin kita bisa hadirkan sebuah nama dengan segala kevitalannya untuk menjelaskan peran vitalnya.
Atau bahasa yang lebih sederhana jika kita ingin tahu rumah seseorang namun kita lupa nama orangnya atau alamatnya betapa kita takkan pernah menemukan. Atau jika kita kaitkan dengan zaman kekinian, zaman yang serba teknologi jika kita tidak menyematkan alamat atau nama secara benar di internet maka tentulah yang kita cari takkan pernah kita temui.
PENTINGNYA SEBUAH NAMA ATAU JUDUL
Sebagai manusia kita terkadang cendrung diburu penasaran jika kita ingin mengenal secara intim, misalkan kita hendak mencari sekolahan ternama yang telah menghasilkan murid-murid atau para mahasiswa yang membanggakan namun kita tak tahu namanya, atau yang kita tanya tak tahu namanya maka yang kita rasakan hanyalah ketersesatan.
Pernahkah kita ingin tahu sebuah nama atau sebuah alamat yang ingin kita ketahui secara tepat dan akurat, lalu kita mencari di sebuh internet maka ianyapun akan memperhatikan ejaan huruf yang ada dengan benar terlebih hanya berdasarkan terkaan yang didapat hanyalah kekecewaan.
Memberikan alasan demi alasan, hanya mengandalkan rabaan hati untuk mengetahui segala yang kita rasakan untuk diketahui khalayak hanyalah tindakan konyol. Pengenalan kita tentulah berbeda dengan kita dan apa yang kita harapkan akan sangat sulit untuk sama dengan sudut pandang orang lain.
Bagi saya pemuatan kata terbaik dalam judul biku adalah terlalu terburu-buru kalau tidaknya disebut sangat konyol karen adanya pemuatan puisi tampa judul.
Terlepas dari itu semua, bagaimanapun buku ini telah lahir, saya ucapkan selamat menjadi saksi mata dan selamat mengapresiasi buku ini dari sudut pandang berbeda. Barangkali bisa dipertimbangkan lagi jika hendak menerbitkan biku di masa mendatang utamanya jika hendak menyematkan kata terbaik di judul buku.
Bandung, 21 September 2015
Sabtu, 23 Februari 2019
SENYUM KEKASIH
Senyum Kekasih
: Farrohah Ulfa
jalan bahagia
tak dapat kuingkari
jalan airmata
tak terbaca lagi
Junglorong, 24 Februari 2019















