Sabtu, 27 Februari 2021

TENTANG PENYAIR DARI TIMUR

 

Foto Dokumentasi Saat di Gunung Kunci Sumedang, 2015


Penyair dari timur

Penyair tegak antara desir dan zikir

Aksara-aksara akur bukan sihir

Tumbuhkan tafakur


Penyair dari timur

Pada yang paling keranda

Sisipkan segala adalah fana

Selain pencipta


Penyair dari timur

Selaksa air mengalir

Hayutkan batang-batang getir

Hingga hilir paling zikir


Kamar Cinta, 2002-2012

-diambil dari Buku Puisi Menemukan Allah (Pena House, 2016)

MENUJU PELABUHAN




Menuju pelabuhan kasihMu
Aku terkepung
Antara riak rindu dan ombak nafsu
Terkadang badai dan topan menerjangku
Aku serupa kapas
Berdansa di samudera lepas
Hilang arah tanpa batas
Perlahan
Cahaya hidayahMu menghampiriku
Menerangi ruang gelap bilik hatiku
Lalu
Aku semakin tahu
Aku serba tak sempurna
Aku serba tak berarti tanpa berarti tanpaMu

Al-Amien, 2009 

-dimuat dalam buku puisi Menemukan Allah (Pena House, 2016)

Buku Puisi Menemukan Allah


 Buku ini diterbitkan oleh Pena House pada tahun 2016, terdiri atas dua bab yakni Menuju Pelabuhan dan bab yang kedua Menemukan Allah. 

Buku ini juga telah saya serahkan ke perpustakaan daerah sebagai wujud kecintaan saya, kepada generasi berikutnya atau bagi siapa saja yang hendak membaca. 

Moment puitik ini saya abadikan sebagai tanda bahwa sebuah pemikiran mesti diarsipkan agar setelah tiada, masih ada yang mengenali bahwa yang kita curahkan dalam sebuah buku adalah nama lain pemikiran yang utuh.

Imam Syafi'i berkata dalam petikan syairnya, "manusia adalah cerita bagi grnerasi berikutnya # maka jadilah cerita yang baik bagi orang yang berakal."

Menulis puisi adalah cara saya bersyukur, cara saya menggali semesta untuk dimasukkan dalam dunia ide yang lambat laun bisa dipetik mutiara yang berada di dalamnya. 

Akhir kata, selamat menelusuri dan selamat menemukan sesuatu yang tersembunyi, yang lambat laun menjadi bekal inspirasi.

Saya percaya tak ada karya yang sempurna selama itu karya manusia, termasuk karya saya. Keberadaan andalah yang membuat buku ini lebih bermakna.

Salam Literasi dan salam puisi yang menginspirasi
Moh. Ghufron Cholid
Pengurus LESBUMI Kedungdung
Junglorong, 28 Februari 2021



Senin, 22 Februari 2021

BAWAH KIBARAN BENDERA


 


bawah kibaranmu
cinta dan restu
saling lenyapkan ragu

bawah kibaranmu
pohon-pohon mahabbah
tumbuh dan tumbuh

bersama para masyaikh
berpasang mata teduh
memalingkan gelisah

Moh. Ghufron Cholid
Junglorong, 23 Februari 2021

Jumat, 09 Oktober 2020

PROSES LAHIRNYA LUKISAN PERCAKAPAN SEMESTA

 


Lukisan Percakapan Semesta Karya Moh. Ghufron Cholid

(dipamerkan di Gedung Kesenian Sampang, 2017

 

Oleh

Moh. Ghufron Cholid


Proses Kreatif sehingga terciptanya lukisan percakapan semesta yang merupakan karya pertama saya, selepas perkenalan saya dengan komunitas perupa sampang, saya lebih sering kumpul dengan perupa bukan dengan penyair.

Percakapan berjalan dengan inten, Chairil Alwan, Sanusi Kaconk, Hendri R Sidik, Achmad Budi Cahyanto, Sathuman, dan Hardyerupakan nama-nama yang pernah saya jumpai.

Berbincang seputar lukisan saya hanya bisa memandang karya temanteman seraya gelenggeleng kepala, terlebih berbicara ragam teknik dan pewarnaan. Nun ada keasyikan tersendiri yang saya rasakan.

Provokasi untuk melukis bermunculan disampaikan pada saya untuk segera melukis, rasanya terlalu egois bila saya hanya sebagai penonton saja, mengingat pelaksanaan pameran bergengsi sudah semakin dekat. Pameran lukisan jejak olle ollang di Dewan Kesenian Sampang yang dimotori oleh Komunitas Perupa Sampang (22-26 April 2017).

Berulang kali saya bermain ke rumah para perupa Sampang untuk mengetahui secara langsung proses pembuatannya, rupanya sayapun tak kunjung berpapasan.

Chairil Alwan adalah sahabat yang paling sering diskusi, sayapun diberikan kanvas untuk segera membuat lukisan, ada perasaan senang sekaligus debar yang tak bisa ditaklukkan, senang karena saya memiliki jalan untuk melukis berdebar kencang karena tak tahu cara melukis. Akhir kata kanvas saya bawa pulang, saya perlihatkan pada istri. Kanvas saya foto, anehnya bukan warna putih yang munculsaat saya foto melainkan buram. Saya diamkan kanvas di kamar, saya pandangi tiap berada di kamar. 

Saya tinggalkan kanvas dalam kamar untuk pulang ke ketapang ngantar istri. Teringin melukis namun saya tak biasa buat sket, lagi pula potlot 2 B saya dipegang murid saya. 

Selepas pulang dari rumah istri, berdiam sejenak di Robatal, berdiam di Kedungdung dan berangkat ke Barisan Sampang menemui Rosi dan Ballah. 

Perjumpaan telah selesai saya pulang ke rumah berniat memulai melukis. Tiba di kamar saya pandangi kanvas dan saya berniat melukis dengan judul Percakapan Semesta. Saya belum menemukan bahan dan alat yang cocok untuk melukis di kanvas. Saya posting foto kanvas di group Komunitas Perupa Sampang dan memberikan judul Percakapan Semesta. Kanvas tetap polos tanpa disentuh oleh bahan dan alat lukis karena memang tidak punya. 

Chairil Alwan mengusulkan judul belum hitam katena kanvasnya memang polos, lalu saya pun menjawab mesti ada sentuhan sebagai bentuk pertanggungjawaban melukis, akhir kata saya menemukan bintik-bintik putih di bagian kanvas, bintik-bintik itulah saya sentuh dan saya pindah ke tengah lalu di bentuk alif. Bekas bintik-bintik kanvas di. pinggir berwajah muram sedang alif di tengah berbinar cahaya padahal dari kanvas yang sama. 

Bentuk pertanggungjawaban melukis telah saya lakukan dengan bahan yang saya temukan sendiri di bagian pinggir kanvas setelah jadi banyak semut yang mengerumuni dan saya sendiri tak tahu bahan apa yang saya sentuhkan ke kanvas. Percakapan Semesta telah mantap saya pilih sebagai judul dan pahala lukisan jika ada yang merasa bahagia saat memandang lukisan ini lalu mengingat kebesaran Allah maka pahalanya saya hadiahkan pada sesepuh Junglorong dan Blega beserta guru-guru. 


Biodata Pelukis

Moh. Ghufron Cholid merupakan nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986 M, menulis puisi, cerpen, pantun dan esai. Percakapan Semesta merupakan lukisan pertamanya yang dibuat di Junglorong, 18 April 2017. Berkhidmat di Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. 

 

Moh. Ghufron Cholid

Junglorong, 19 April 2017

 

sumber: http://maduraterdepan.blogspot.com/2017/04/proses-kreatif-lahirnya-lukisan.html

 

JUNGLORONG: MUTIARA YANG TERSEMBUNYI DI BUJUK KA' ENGKOK


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Paling tidak, hari Rabu 7 Oktober 2020 bertepatan 19 Shafar 1442 H merupakan hari yang sangat istimewa bagi saya, lantaran saya bisa menghadiri Haul Sayyid Abdurrahiem bin Raden Ronggo (Bujuk Ka' Engkok Seppo) di Tebbenah Banyuates Sampang.
Saya bisa berjumpa dengan berbagai keturunan beliau dari berbagai daerah, baik dari Madura maupun luar Madura, yang tidak kalah istimewanya, dari acara tersebut saya menjadi tahu bahwa ada pertalian nasab antara Masyaikh Junglorong dengan Bujuk Ka' Engkok.
Adapun pertalian nasab tersebut dimulai dari Kiai Hadiun (Montor) bin Bujuk Diun (Montor) yang menikah dengan Nyai Khotimah Sued (Junglorong) bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong).
Berikut silsilah lengkap yang saya peroleh dari acara haul Bujuk Ka' Engkok Tebbenah Banyuates Sampang,
1. Sunan Giri
2. Nyai Ageng Sewo
3. Raden Waringin Pitu
4. Raden Mas Panganten
5. Raden Ronggo (Nepa)
6. Sayyid Abdurrahiem (Bujuk Ka' Engkok Seppo)
7. Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)
8. Bujuk So'on (Banyusokah, Ketapang)
9. Bujuk Ghonem (Tlageh, Banyuates)
10. Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah
11. Bujuk Abdul Karim (Montor)
12. Bujuk Diun (Montor)
13. Kiai Hadiun (Montor) + Nyai Khotimah Sued (Junglorong) binti Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah
14. Kiai Ismail + Nyai Khotimah binti Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah
15. Nyai Nursiti + Kiai Sanusi (Prajjan)
16. KH. Mawardi + Nyai Subaidah binti Kiai Hadlori bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah
17. KH. Cholid Mawardi + Nyai Hj Munawwaroh (Blega) binti Kiai Munawwir bin Kiai Ali Bakri bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah
Di samping itu juga memiliki nasab yang bersambung kepada Sunan Ampel dengan perincian sebagai berikut,
1. Sunan Ampel
2. Raden Tumapel (Sayyid Hamzah)
3. Raden Kulkum (Sayyid Ghozali)
4. Raden Sewo Tanah (Sayyid Abdurrahman)
5. Raden Waringin Pitu (Sayyid Abdullah)
6. Raden Mas Panganten (Sayyid Ja'far Shodiq)
7. Raden Ronggo (Sayyid Muhammad)
8. Syarifah Ayu Ambami sesaudara dengan Bujuk Ka' Engkok Seppo
9. Ratu Ayu Wiranolo + Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)
10. Bujuk So'on (Banyusokah) sesaudara sekaligus besan Bujuk Burhanuddin (Montor)
11. Bujuk Ghonem Lakek + Bujuk Ghonem Binik (Tlageh Banyuates)
12. Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah
13. Bujuk Abdul Karim (Montor) + Caca Rattin
14. Bujuk Diun (Montor)
15. Kiai Hadiun (Montor) + Nyai Khotimah Sued (Junglorong)
16. Kiai Ismail + Nyai Khotimah Abdul Aziz (Junglorong)
17. Nyai Nursiti (Junglorong) + Kiai Sanusi (Prajjan)
18. KH. Mawardi + Nyai Subaidah binti Nyai Maisurah (Sesaudara Kiai Munawwir Blega) binti Kiai Ali Bakri (Junglorong) bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)
19. KH. Cholid Mawardi (Junglorong) + Nyai Hj Munawwaroh (Nyai Maftuhah) binti Kiai Munawwir bin Nyai Shofiyah binti Syarifah Marni binti Syeikh Abu Bakar al-Iraqy
Dalam haul yang dipenuhi berkah, saya menemukan Junglorong dan Mutiara yang Tersembunyi di Bujuk Ka' Engkok. Berdekatan dengan orang shaleh merupakan salah satu wasilah mendekatkan diri kepada Allah.
Bahwa ikut hadir dalam acara haul orang shaleh atau waliyullah merupakan cara lain menjarung berkah dan mengeratkan ikatan bathin. Yang semula tidak kenal menjadi kenal. Lalu berubah menjadi karib sekarib daun dan uratnya. Sekokoh pohon dan akarnya.




Junglorong, 09 Oktober 2020

KH. MUKHTAR SANUSI [JUNGLORONG] KEGEMARAN BERRIYADHAH DAN NASAB KE SUNAN AMPEL

 


Oleh Moh. Ghufron Cholid*

KH. MUKHTAR SANUSI merupakan salah satu putra dari pasangan Kiai Sanusi [Prajjan] dan Nyai Nursiti [Junglorong], saudara dari KH. Mawardi, KH. Abdul Adzim dan Nyai Rofiah ini merupakan terkenal dengan ceramah keagamaannya. Tahukah anda bahwa salah satu Masyaikh Junglorong ini juga memiliki kegemaran dalam berriyadhah. 
Bagi KH. Mukhtar berriyadha di makam waliyullah adalah sesuatu tirakat yang baik namun juga harus tetap menjaga keistiqamahan dalam molang (mengajar para santri). Baginya sama-sama penting merawat riyadhah bathiniah juga riyadhah lahiriyah. 

Adapun silsilah nasab dari KH. Mukhtar ke Sunan Ampel memiliki Empat Jalur yakni
1. Sunan Ampel
2. Sunan Bonang
3. Sayyid Husen (Bujuk Banyusangkah)
4. Sayyid Abdurrahman (Bujuk Bira)
5. Sayyid Syamsuddin (Bujuk Perreng Ngamuk, Ombul Kedungdung)
6. Sayyid Syarifuddin (Bujuk Sarebuh, Bajrehsokah, Kedungdung)
7. Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi)
8. Sayyid Sued
9. Nyai Khotimah Sued + Kiai Hadiun Montor bin Bujuk Diun (Montor) bin Bujuk Abdul Karim  (Montor) bin Bujuk Amir (Montor) bin Bujuk Ghonem (Tlageh, Banyuates) bin Bujuk So'on (Banyusokah, Ketapang) bin Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom, Tebbenah Banyuates) bin Sayyid Abdurrahiem (Bujuk Ka' Engkok Seppo) bin Raden Ronggo (Nepa) bin Raden Mas Peganten bin Raden Waringin Pitu bin Raden Sewo Tanah bin Raden Kulkum bin Raden Tumapel bin Sunan Ampel 
10. Kiai Ismail + Nyai Khotimah bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Syarifuddin bin Sayyid Syamsuddin bin Sayyid Abdurrahman bin Sayyid Husen bin Sunan Bonang bin Sunan Ampel
11. Nyai Nursiti + Kiai Sanusi (Prajjan) bin Kiai Sulaiman bin Nyai Rahmah bin Kiai Masajid bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam (Prajjan) bin Nyai Tepi Selase bin Nyai Kumala binti Sunan Cendana bin Sayyid Moh. Khotib bin Sunan Derajat bin Sunan Ampel
12. KH. Mukhtar menikah dengan istri pertamanya bernama Nyai Muqimah diberkahi keturunan 
1. KH. Mahrus Mukhtar menikah dengan Nyai Hj Marwah Aly Zahrawi diberkahi keturunan a) Lora H. Dhoifi menikah dengan Fatimatuzzahra b) Luthfiyah Mahrus + KH. Rahmatullah c) Affan Mahrus + Nurul Ilmiyah Muzanni d) Moh. Yasin Mahrus. 
2. Maftuhah Mukhtar + KH. Suaidi Asy'ari dikarunia keturunan a) Dzurriyah + KH. Mukhlis (Malakah Meteng) b) Ali Husnan + Nur Afifah Muzanni c) A Rofik + Muarrofah Fawaid d) Siti Mughirorah + Lora Umar Faruq e) Faiqatul Bariroh + Fathurrahman Amin Jakfar f) Khoiriyah 
3. KH. Muzanni Mukhtar menikah dengan Nyai Hj Noer Hayati dikarunia keturunan a) Nor Afifah + Ali Husnan b) Nurul Ilmiyah + Affan Mahrus c) Masrurorah d) Moh. Khoiron
4. Nyai Hj Halimah (Kinaah) Mukhtar menikah dengan KH. Fawaid Mawardi diberkahi keturunan
5. KH, Noer Cholis Mukhtar + Nyai Musyarrofah Khozin diberkahi keturunan a) Muhammad Iqbal b) Subhan Noer Cholis c) Dania 
Sementara pernikahan KH. Mukhtar Sanusi dengan Nyai Hj Aminah diberkahi dua putra dan satu putri yakni Lora Latif (wafat ketika kecil) b) Fadol Mukhtar + Ida Zubaida Noer Hasan Abdul Adzim c) Nyai Raudoh + Kiai Sakur (Omben)

Junglorong, 10 Oktober 2020
*Bergiat di LESBUMI KEDUNGDUNG, alumni TMI AL-AMIEN PRENDUAN (2006) bermukim di Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. 

BIOGRAFI SINGKAT KH. MAWARDI [JUNGLORONG] DAN SILSILAHNYA KE BUJUK KA' ENGKOK TEBBENAH

 


Oleh Moh. Ghufron Cholid

KH. MAWARDI merupakan salah satu Masyaikh dari sekian Masyaikh yang ada di Junglorong. Tahukah anda, bahwa ulama kharismatik yang satu ini juga memiliki jalur nasab ke Bujuk Ka' Engkok Tebbenah Banyuates Sampang. Jalur nasab tersebut diperoleh dari ibunya yang bernama Nyai Nursiti [Junglorong]. Dengan perincian sebagai berikut

KH. MAWARDI bin Nyai Nursiti bin Kiai Ismail bin Kiai Hadiun [Montor] bin Bujuk Diun [Montor] bin Bujuk Abdul Karim [Montor] bin Bujuk Amir [Montor] bin Bujuk Ghonem [Tlageh, Banyuates] bin Bujuk So'on [Banyusokah, Ketapang] bin Sayyid Abdurrahman [Bujuk Ka' Engkok Anom, Tebbenah] bin Sayyid Abdurrahiem [Ka' Engkok Seppo, Tebbenah] bin Raden Ronggo [Nepa] bin Raden Mas Paganten [Pamekasan], bin Mas Waringin Pitu bin Nyai Ageng Sewo bin Sunan Giri.

 Atau KH. MAWARDI [JUNGLORONG] bin Nyai Nursiti bin Kiai Ismail bin Kiai Hadiun [Montor] bin Bujuk Diun [Montor] bin Bujuk Abdul Karim [Montor] bin Bujuk Amir [Montor] bin Bujuk Ghonem [Tlageh, Banyuates] bin Bujuk So'on [Banyusokah, Ketapang] bin Sayyid Abdurrahman [Bujuk Ka' Engkok Anom, Tebbenah] bin Sayyid Abdurrahiem [Ka' Engkok Seppo, Tebbenah] bin Raden Ronggo [Nepa] bin Raden Mas Paganten [Pamekasan], bin Mas Waringin Pitu bin Raden Sewo Tanah bin Raden Kulkum bin Raden Tumapel bin Sunan Ampel.

Paling tidak antara Sayyid Abdurrahman [Ka' Engkok Anom] dengan istrinya masih ada ikatan nasab sebab Ratu Ayu Wironolo masih keturunan dari Syarifah Ambami [Arosbaya] yang merupakan saudara dari Sayyid Abdurrahiem [Ka' Engkok Seppo]sama-sama keturunan dari Raden Ronggo. 

KH. MAWARDI sendiri bersaudara dengan KH. Mukhtar Sanusi [Junglorong], KH, Abdul Adzim [Junglorong] dan Nyai Rofiah [Nangger, Ketapang]. KH. MAWARDI sendiri menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertamanya yang bernama Nyai Subaidah [Blega] bin Kiai Hadlori bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah [Bujuk Ambessi, Junglorong] memiliki keturunan 

1. Nyai Hamidah Mawardi menikah dengan KH. Mustain memiliki keturunan a) Nyai Nurhasanah + KH. Noer Hasan Abdul Adzim, b) Nyai Nurhayati menikah dengan KH, Muzanni Mukhtar, c) Nyai Asmawati menikah dengan KH. Abdul Karim Aly Zahrawi, d) KH, Rahmatullah menikah dengan Nyai Luthfiyah Mahrus, e) Nyai Noer Izzati menikah dengan Iwan, f) Nyai Muniroh, g) Kiai Abdurrahiem menikah dengan Nyai Rizqon Auliya, h) Nyai Nurus Sholehah menikah dengan Lora Shofiyullah Jailani. 

2. Lora Hasyim (wafat ketika muda), 

3. KH. Cholid Mawardi menikah dengan Nyai Hj Munawwaroh memiliki keturunan a) Halimatus Sya'diyah (wafat ketika kecil), b) Moh. Ghufron Cholid menikah dengan Farrohah Ulfa (Paopale Daya) diberkahi krturunan (Ashlihatul Millah (wafat ketika kecil) dan Nailun Najah), c) Ahmad bin Cholid (wafat ketika kecil), d) M. Farhan Cholid, S.Pd.I menikah dengan Noer Faizah Fawaid, e) Ali Fahmi Cholid, M.Pd.I menikah dengan Neng Ifroh (Jember), f) Ulfatun Ni'mah Cholid, g) Asror Cholid (wafat ketika kecil), h) Ahwar bin Cholid (wafat ketika kecil).  

4. KH. Fawaid Mawardi menikah dengan Nyai Hj Halimah Mukhtar memiliki keturunan a) Fatimatuzzahra menikah dengan Lora H Dhoifi, b) Noer Faizah Fawaid menikah dengan Farhan Cholid, c) Muarrofah menikah dengan A Rofiq Suaidi, d) Zulfa Azizah 

5. KH. Fathurrozi Mawardi menikah dengan Nyai Hj Fauziyah (Prajjan) memiliki keturunan KH. Kholilurrahman menikah dengan Nyai Gunung Paraoh Omben, b) Sofyan Assyauri, c) Rizqan Auliya menikah dengan Kiai Abdurrahiem Mustain d) Lora Abbas 

Sementara pernikah KH. MAWARDI dengan istri keduanya yang bernama Nyai Hj Zainiyah (Junglorong) memiliki 2 keturunan yakni

1, Nyai Hj Intan Mawaddan (Mutmainnah) menikah dengan KH. Badrus Sholeh (Jrengoan)

2. Nyai Khomisatul Badriyah

Semasa hidup KH. Mawardi dikenal sebagai seorang ulama kharismatik yang tegas dalam istilah Maduranya disebut tatak. Dalam mengaji Surat Fatihah para santri-santrinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, bisa hitungan bulan bisa juga hitungan tahun. Paling sulit mengaji suratul fatihah kepada KH. Mawardi demikian yang sempat dituturkan santri kuna almarhum KH. Mawardi


Makam Bujuk Amir (Montor) berada di daerah Tebbenah, 
Tepatnya sebelah timur congkok Bujuk Ka' Engkok



Sewaktu ziarah ke Sayyid Abdurrahiem bin Raden Ronggo
(Bujuk Ka' Engkok, Tebbenah)


Depan Congkop Bujuk Ka' Engkok
Tebbenah, 07 Oktober 2020


Raden Ronggo
(Ayah dari Sayyid Abdurrahiem, Bujuk Ka' Engkok)
Nepa, 07 Oktober 2020 selepas Isyak

Junglorong, 10 Oktober 2020

*Alumni TMI Al-Amien Prenduan juga seorang Pengurus LESBUMI KEDUNGDUNG yang sangat menyukai dunia sastra juga ziarah.  



Kamis, 08 Oktober 2020

BUJUK KA' ENGKOK TEBBENAH DAN PERTALIAN NASAB DENGAN MASYAIKH PLANGGEREN BLEGA BANGKALAN

 Mengetahui nasab itu penting, paling tidak sebagai jalan untuk bersyukur, biar ketika mengirimkan fatihah bisa menyebutkan nama yang akan dihadiahi fatihah secara pasti dan sebagai upaya meneladani keistiqomahan dalam bertaqarrub kepada Allah. Moh. Ghufron Cholid

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Dalam kesempatan yang telah lalu, saya telah membahas tentang Bujuk Ka' Engkok dan Pertalian Nasab dengan Masyaikh Junglorong. Dalam kesempatan kali ini, saya juga akan membahas Bujuk Ka' Engkok Tebbenah dan Pertalian Nasab dengan Masyaikh Planggeren Blega. 

Adapun pertalian silsilahnya sebagai berikut:

1. Sunan Giri

2. Nyai Ageng Sewo

3. Sayyid Abdullah (Waringin Pitu)

4. Mas Panganten (Pamekasan)

5. Raden Ronggo di Nepa

6. Sayyid Abdurrahiem (Bujuk Ka' Engkok Seppo)

7. Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)

8. Bujuk Burhanuddin (Montor)

9. Sayyid Abdurrahman Sloros

10. Kiai Fathullah

11. Kiai Imam Djuwaini (Planggeren) + Nyai Karimah binti Kiai Hadlori bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)

12. Kiai Musaddad (Planggeren, Blega)

13. Ibrohim Musaddad



(Ibrohim Musaddad didampingi Moh. Ghufron Cholid (Junglorong) sewaktu ziarah ke Bujuk Ka' Engkok Tebbenah)




Selepas shalat isyak, sewaktu ziarah ke Raden Ronggo (Nepa), ayah dari Bujuk Ka' Engkok (Tebbenah Banyuates Sampang)


Sefamilian dari jalur Bujuk Burhanuddin (Montor) diabadikan di Mushalla Bindereh Mukhlis (Montor) pada hari Rabu, 7 Oktober 2020

Sementara Silsilah Bujuk Ka' Engkok ke Sunan Ampel sebagai berikut

1. Sunan Ampel

2. Raden Tumapel (Sayyid Hamzah)

3. Raden Kulkum (Sayyid Ghozali)

4. Raden Sewo Tanah (Sayyid Abdurrahman)

5. Raden Waringin Pitu (Sayyid Abdullah)

6. Raden Mas Panganten (Sayyid Ja'far Shodiq)

7. Raden Ronggo (Sayyid Muhammad)

8. Syarifah Ayu Ambami sesaudara dengan Bujuk Ka' Engkok Seppo

9. Ratu Ayu Wiranolo + Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)

10. Bujuk Burhanuddin (Montor)

11. Sayyid Abdurrahman Sloros

12. Kiai Fathullah

13. Kiai Imam Djuwaini (Planggeren) + Nyai Karimah binti Kiai Hadlori bin Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)

14. Kiai Musaddad (Planggeren, Blega)

15. Ibrohim Musaddad


Demikian catatan ini dibuat sebagai pengingat juga sebagai renungan, semoga percik berkah dan karomah Allah yang diberikan kepada Bujuk Ka' Engkok (Sayyid Abdurrahiem bin Raden Ronggo) mengalir kepada kita semua, Amien ya Rabbal 'Alamien. 


Junglorong, 8 Oktober 2020

*Alumni TMI AL-AMIEN PRENDUAN (2006), Pengurus LESBUMI KEDUNGDUNG yang juga menyukai dunia sastra. Bermukim di Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura.




BUJUK KA' ENGKOK TEBBENAH DAN PERTALIAN NASAB DENGAN MASYAIKH JUNGLORONG


Foto Dokumentasi Depan Congkop Bujuk Ka' Engkok

               Oleh Moh. Ghufron Cholid*

Rabu, 7 Oktober 2020 merupakan perjalanan istimewa bagi saya, lantaran Allah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti haul Bujuk Ka' Engkok yang berlokasi di Tebbenah.

Saya terus dikejar pertanyaan, siapakah bujuk Ka' Engkok sebenarnya dan adakah pertalian nasab Masyaikh Junglorong ke bujuk yang saya hadiri acara haulnya.

Berulang kali saya mencari jawaban dan saya lancarkan pandangan ke segenap sisi untuk menjawab rasa penasaran saya. 


Silsilah yang terpampang di dinding Bujuk Ka' Engkok.

Saya mulai menemukan jawaban atas rasa penasaran saya bahwa ada pertalian nasab antara Masyaikh Junglorong dengan Bujuk Ka' Engkok (Tebbenah, Banyuates Sampang) yakni

1. Sunan Giri + Nyai Murtasiyah binti Sunan Ampel

2. Nyai Ageng Sewo

3. Sayyid Abdullah (Waringin Pitu)

4. Mas Panganten (Pamekasan)

5. Raden Ronggo di Nepa

6. Sayyid Abdurrahiem (Bujuk Ka' Engkok Seppo)

7. Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)

8. Bujuk So'on (Banyusokah) & Bujuk Burhanuddin (Montor)

9. Bujuk Ghonem (Tlageh, Banyuates)

10. Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah

11. Bujuk Abdul Karim (Montor)

12. Bujuk Diun (Montor)

13. Kiai Hadiun (Montor) + Nyai Khotimah binti Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)

14. Kiai Ismail + Nyai Khotimah binti Kiai Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah

15. Nyai Nursiti (Junglorong) + Kiai Sanusi (Prajjan) bin Kiai Sulaiman bin Nyai Rahmah binti Kiai Masajid bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam (Prajjan)

16. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong) sesaudara dengan KH. Mukhtar, KH. Abdul Adzim dan Nyai Rofiah (Nangger, Ketapang)

17. KH. Cholid Mawardi (Pendiri Lembaga Assanusi Torjunan Robatal Sampang sesaudara dengan Kiai Hasyim Mawardi (wafat ketika muda), Nyai Hamidah Mawardi, KH. Fawaid Mawardi dan Fathurrozi Mawardi (Keturunan KH. Mawardi dan Nyai Subaidah (istri pertama). Sesaudara dengan Nyai Hj Intan Mawaddah (Nyai Mutmainnah) & Nyai Khomisatul Badriyah ( Keturunan KH. Mawardi dan Nyai Hj Zainiyah (istri kedua))

18. Moh. Ghufron Cholid sesaudara dengan Halimatus Sa'diyah (wafat ketika kecil), Ahmad bin Cholid (wafat ketika kecil), M. Farhan Cholid, S.Pd.I, Ali Fahmi Cholid, M.Pd, Ulfatun Ni'mah Cholid, S.Pd.I

19. Ashlihatul Millah (wafat ketika bayi) & Nailun Najah

Atau 

1. Sunan Ampel

2. Raden Tumapel (Sayyid Hamzah)

3. Raden Kulkum (Sayyid Ghozali)

4. Raden Sewo Tanah (Sayyid Abdurrahman)

5. Raden Waringin Pitu (Sayyid Abdullah)

6. Raden Mas Panganten (Sayyid Ja'far Shodiq)

7. Raden Ronggo (Sayyid Muhammad)

8. Syarifah Ayu Ambami sesaudara dengan Bujuk Ka' Engkok Seppo

9. Ratu Ayu Wiranolo + Sayyid Abdurrahman (Bujuk Ka' Engkok Anom)

10. Bujuk So'on (Banyusokah) sesaudara sekaligus besan Bujuk Burhanuddin (Montor)

11. Bujuk Ghonem Lakek + Bujuk Ghonem Binik (Tlageh Banyuates)

12. Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah

13. Bujuk Abdul Karim (Montor) + Caca Rattin

14. Bujuk Diun (Montor)

15. Kiai Hadiun (Montor) + Nyai Khotimah binti Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)

16. Kiai Ismail + Nyai Khotimah binti Abdul Aziz bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah  (Bujuk Ambessi, Junglorong)

17. Nyai Nursiti (Junglorong) + Kiai Sanusi (Prajjan) bin Kiai Sulaiman bin Nyai Rahmah binti Kiai Masajid bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam (Prajjan) bin Nyai Tepi Selase binti Nyai Kumala binti Sunan Cendana bin Nyai Gede Kedaton binti Panembahan Kulon bin Sunan Giri

18. KH. Mawardi + Nyai Subaidah binti Nyai Maisurah (Sesaudara Kiai Munawwir Blega) binti Kiai Ali Bakri (Junglorong) bin Sayyid Sued bin Sayyid Abdullah (Bujuk Ambessi, Junglorong)

19. KH. Cholid Mawardi (Junglorong) + Nyai Hj Munawwaroh (Nyai Maftuhah) binti Kiai Munawwir bin Nyai Shofiyah binti Syarifah Marni binti Syeikh Abu Bakar al-Iraqy



                  (Bujuk Amir (Montor) dimakamkan di Tebbenah Banyuates Sampang)

                                      
Asta Sayyid Abdurrahiem bin Raden Ronggo (Bujuk Ka' Engkok, Tebbenah Banyuates Sampang)
                              Nama-nama Bujuk yang ada di Madura yang sudah diziarahi 

HAKEKATNYA, Masyaikh Junglorong memiliki pertalian nasab ke Bujuk Ka' Engkok bisa lewat dua jalur yakni lewat Jalur Bujuk So'on [Banyusokah] dan Bujuk Burhanuddin {Montor} sebab di samping bersaudara juga satu besan yang sama-sama menurunkan Bujuk Ghonem Lakek dan Bujuk Ghonem Binik. Jika mengacu pada data ini

  

Demikian catatan yang bisa saya sajikan, semoga bermanfaat dan bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang ingin mengarsipkan lalu mengembangkan catatan ini. Selebihnya wallahu'alam Bisshowab sebab sejatinya kebenaran hanya milik Allah. 

Junglorong, 8 Oktober 2020
 *Alumni TMI Al-Amien Prenduan (2006)& Pengurus LESBUMI KEDUNGDUNG bermukim di Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura.

Selasa, 06 Oktober 2020

SAYYID ABDUL ALLAM (BUJUK PRAJJAN) DAN PERTALIAN NASAB DENGAN MASYAIKH JUNGLORONG

 


                                               Sayyid Abdul Allam (Bujuk Prajjan)

                Oleh Moh. Ghufron Cholid


Sayyid Abdul Allam (Bujuk Prajjan) merupakan murid dari Raden Qabul (Aji Gunung). Sayyid Abdul Allam juga merupakan salah satu sesepuh dari Masyaikh Junglorong yang memangku Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong. 

Paling tidak, Sayyid Abdul Allam memiliki tiga jalur nasab ke Sunan Giri yakni:

1. Sayyid Abdul Allam bin Nyai Tepi Selase binti Nyai Kumala binti Sunan Cendana bin Nyai Gede Kedaton binti Panembahan Kulon bin Sunan Giri.

2. Sayyid Abdul Allam bin Nyai Tepi Selase binti Kiai Abdullah bin Sayyid Khotib Pesapen bin Sayyid Khotib Mantoh bin Panembahan Kulon bin Sunan Giri.

3. Sayyid Abdul Allam bin Nyai Tepi Selase binti Nyai Kumala binti Istri Sunan Cendana bin Pangeran Bukabuh bin Nyai Gede Kentil binti Panembahan Kulon bin Sunan Giri.

Sementara talian nasab Masyaikh Junglorong ke Sayyid Abdul Allam

1. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Al-Ittihad Junglorong) bin Kiai Sanusi bin Kiai Sulaiman bin Nyai Rahmah binti Kiai Masajid bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam. 

2. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Al-Ittihad Junglorong) bin Kiai Sanusi bin Nyai Ummu Khomsyien binti Nyai Ratnady binti Kiai Safina bin Nyai Temor Songai binti Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam. 

3. 1. KH. Mawardi (Pimpinan dan Pengasuh Al-Ittihad Junglorong) bin Kiai Sanusi binti Nyai Ummu Khomsyien binti Kiai Qashim bin Kiai Rumajak bin Kiai Abdul Kamal bin Sayyid Abdul Allam. 

  
                    

Generasi Muda Junglorong (PMJ) menziarahi makam sesepuhnya yakni Sayyid Abdul Allam

Sangat penting mengetahui nasab namun lebih penting lagi beristiqamah meneruskan perjuangan leluhur. Paling tidak dengan mengetahui jalur nasab mengirimkan fatihah kepada leluhur lebih jelas dengan menyebutkan nama-namanya. Semoga dengan begitu berkah Allah yang diturunkan lewat para waliyullah bisa dengan mudah kecipratan perciknya.



Junglorong, 6 Oktober 2020

Jumat, 13 Maret 2020

MENYOAL KATA TERBAIK YANG MELEKAT DALAM BUKU KAU PERGI HIMPUNAN PUISI TERBAIK L.K. ARA


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Temu Sastra Indonesia Malaysia di Bandung merupakan pertemuan pertama saya dengan buku L.K. Ara berjudul Kau Pergi Himpunan Puisi Terbaik yang dikata pengantari oleh Narudin Pituin.

Sebagai buku yang dijudul dilebeli terbaik, tentu bisa diberi beberapa kemungkinan, berarti selama menulis puisi L.K. Ara maka buku inilah adalah puisi terbaiknya, bagi saya sah-sah saja, pelebelan terbaik itu sebagai upaya menjadi pusat penasaran kita sebagai pembaca.

Ada yang mesti dipertaruhkan ketika kita melebelkan karya dengan kata terbaik, yakni harus jauh dari ketidak sempurnaan, baik dalam penyajian maupun dalam pemberian judul pada puisi-puisi yang ada dalam buku.

Memanglah benar ada kata-kata yang barangkali tak asing untuk didengar di telinga kita yakni apalah arti sebuah nama namun kita pun tak boleh mengabaikan atau pura-pura lupa bahwa penamaan adalah sangat penting sebab dari sebuah nama sesuatu bisa cepat dikenal.

Marilah kita mulai mengintimi puisi yang ada dalam buku ini yang isinya begini, cahaya merebak ke laut/dan laut malu tapi bahagia/dan kau tentu tahu aku di mana/memang tak nampak/karena wajahku tertutup ombak/tapi suara desir itu/adalah nyanyian pedih (hal, 20).

Barangkali sebagai sebuah karya, isinya bisa kita rasakan kehadirannya, kalau diletakkan dalam status facebook akan menjadi sangat lumrah, namun jika dimasukkan dalam buku yang dilebeli terbaik, tentu bisa dikatakan sangat berlebihan sebab terbaik memiliki makna paling dan sesuatu yang di dalamnya terdapat kekurangan tidak bisa dikatakan terbaik.

Namun saya menyaari tiap orang atau pembaca pastilah memiliki pandangan yang berbeda dan saya menyadari perbedaan adalah hikmah, amun di sini lain saya juga seorang pembaca yang berhak menyatakan ataupun mengungkap apa yang saa rasakan tentang kejanggalan yang saya temukan, paling tidak dari sudut pandang saya selaku pembaca.

Saya pun takkan mempersoalkan siapa yang lebih dulu melebelkan terbaik dalam buku itu, apakah penyairnya sendiri ataupun Narudin karena melebelkan kata terbaik dalam sebuah karya tentulah memiliki pandangan yang bisa dipertanggung jawabkan, namun jangan lupa dari suatu sudut pandang yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain, tersebab orang lain melihat suatu sudut yabg barangkali terluput dari pandangan kita, jendati kita telah mengintimi lebih akrab dan cermat.

Berikut saya hadirkan pandangan Narudin atas puisi karya L.K. Ara yang berada dalam buku yang dihadirkan tanpa judul, Narudin berkata, "Judul tak dibutuhkan lagi ketika perasaan telah demikian pekat. Bukankah kegelapan (kepekatan) tak diperlukan ketika matahari dini hari hendak terbit? bukankah cahaya dan kegelapan takkan berada dalam satu wadah? salah satu harus mau tak mau pasrah pada nasib untuk diusir?"

Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat mengenal sesuatu hanya mempercayakan pada perasaan saja, tanpa mengenal nama atau memberi nama. Barangkali jika berkaitan dengan hal individu bisa dimaklumi namun bagaimana cara memecahkan persoalan tersebut dengan khalayak.

Allah saja sebagai Tuhan Yang Maha Esa memperkenalkan namaNya terlebih kita hambaNya, sebab nama itu memegang peranan vital, tanpa nama seseorang belum bisa mengenal dengan baik. Manusia diangkat menjadi khalifah di bumi karena salah satunya manusia mampu memperkenalkan nama-nama (baca surat al-baqarah tentang penunjukan manusia sebagai khalifah).

Atau coba baca surat al-ikhlas yang menegaskan bahwa Tuhan itu satu. Bahwa Tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dengan kata lain semakin kita bisa hadirkan sebuah nama dengan segala kevitalannya untuk menjelaskan peran vitalnya.

Atau bahasa yang lebih sederhana jika kita ingin tahu rumah seseorang namun kita lupa nama orangnya atau alamatnya betapa kita takkan pernah menemukan. Atau jika kita kaitkan dengan zaman kekinian, zaman yang serba teknologi jika kita tidak menyematkan alamat atau nama secara benar di internet maka tentulah yang kita cari takkan pernah kita temui.

PENTINGNYA SEBUAH NAMA ATAU JUDUL

Sebagai manusia kita terkadang cendrung diburu penasaran jika kita ingin mengenal secara intim, misalkan kita hendak mencari sekolahan ternama yang telah menghasilkan murid-murid atau para mahasiswa yang membanggakan namun kita tak tahu namanya, atau yang kita tanya tak tahu namanya maka yang kita rasakan hanyalah ketersesatan.

Pernahkah kita ingin tahu sebuah nama atau sebuah alamat yang ingin kita ketahui secara tepat dan akurat, lalu kita mencari di sebuh internet maka ianyapun akan memperhatikan ejaan huruf yang ada dengan benar terlebih hanya berdasarkan terkaan yang didapat hanyalah kekecewaan.

Memberikan alasan demi alasan, hanya mengandalkan rabaan hati untuk mengetahui  segala yang kita rasakan untuk diketahui khalayak hanyalah tindakan konyol. Pengenalan kita tentulah berbeda dengan kita dan apa yang kita harapkan akan sangat sulit untuk sama dengan sudut pandang orang lain.

Bagi saya pemuatan kata terbaik dalam judul biku adalah terlalu terburu-buru kalau tidaknya disebut sangat konyol karen adanya pemuatan puisi tampa judul.

Terlepas dari itu semua, bagaimanapun buku ini telah lahir, saya ucapkan selamat menjadi saksi mata dan selamat mengapresiasi buku ini dari sudut pandang berbeda. Barangkali bisa dipertimbangkan lagi jika hendak menerbitkan biku di masa mendatang utamanya jika hendak menyematkan kata terbaik di judul buku.

Bandung, 21 September 2015

Sabtu, 23 Februari 2019

SENYUM KEKASIH

Moh. Ghufron Cholid
Senyum Kekasih
: Farrohah Ulfa


jalan bahagia
tak dapat kuingkari

jalan airmata
tak terbaca lagi

Junglorong, 24 Februari 2019

Rabu, 30 Januari 2019

Pemimpin Sejati dan Rintangan yang Mesti Ditaklukkan

(Telaah Atas Puisi Thantowi Tohir Berjudul Pemimpin Sejati)
Oleh. Moh. Ghufron Cholid
Puisi bisa menjadi jalan alternatif bagi terciptanya keseimbangan hidup baik berbangsa maupun dalam beragama. Ianya bisa memuat jalan yang indah bagi terciptanya hidup yang bermartabat. Moh. Ghufron Cholid

Berhadapan dengan puisi Thantowi Tohir bejudul Pemimpin Sejati, adalah mencari cara lain yang lebih membuat hidup lebih bermartabat. Thantowi Tohir seakan tak ingin carut marut terus menampakkan taringnya. Bagi Thantowi sudah saatnya bersuara lantang, mengungkap segala yang kerap meraung di kedalaman bathinnya.
Puisi yang kehadirannya selalu dipertanyakan, di tangan seorang Thantowi mulai bisa dirasakan keberadaannya, harapan telah mengalahkan ketakutan dalam dirinya. Kerinduan telah mengalahkan pilu yang telah merias sumsum hidupnya.
Pemimpin Sejati, demikian Thantowi Tohir menai puisinya. Mengenalkan harapannya. Mengasingkan ketakutan dalam dirinya, menguraikan caranya berbahagia dalam menghadirkan sosok pemimpin.
Diungkapnya segala rintangan yang akan bertamu, yang mau tak mau mesti ditaklukkan seorang pemimpin. Yang dengannya lambat laun gelar pemimpin sejati bisa diraih.
Thantowi Tohir, telah menjadi manusia yang merdeka. Sebab kebenaran mesti disuarakan, barangkali alasan inilah yang membuat puisi ini lahir. Mungkin pula lantaran carut marut tak lagi ingin ditumbuhsuburkan di negeri yang sangat dicintai penyair.

Hal-hal yang Mesti Ditempuh Pemimpin Sejati
Membaca puisi Thantowi Tohir, saya bertemu dengan syarat-syarat yang diajukan oleh penyair untuk mendapat gelar pemimpin sejati.
Dalam bait pertama, Thantowi memberikan semacam rambu yang mesti ada pada pemimpin sejati yakni melepas mahkota (sesuatu yang begitu dibanggakan, sesuatu yang dapat menjadikan seseorang bisa membusungkan dada), mengusung amanah (salah satu dari empat sifat rasul yang selalu melekat), titah dan tuah (bisa kita maknai sebagai sosok yang penuh kharismatik).
Bait kedua, penyair menegaskan bahwa pemimpin sejati memiliki jiwa petarung, karena tak jarang rintangan datang menjadi batu penghalang. Pemimpin sejati, tak pernah sepi dari ragam jalan terjal, oleh sebab itu seni menaklukkan masalah tampa masalah mesti dimiliki, atau dalam diksi penyair dituturkan, Banyak kerikil tajam/sekeras batu pualam/merintang jalan/benamkan saja dalam api/jadikan tulang belulang// lantaran bait kedua berisi perkara yang gawat, ianya tampak sebagai wanti-wanti dan di sisi lain tampak seperti perintah maka diksi-diksi yang melekat pada bait kedua bisa dimaklumi. Mengingat sebuah masalah dan solusi yang dihadirkan, tak bisa luput dari diksi-diksi yang tegas, yang memungkinkan menimbulkan persepsi variatif semacam menggurui, atau dengan bahasa yang lebih halus silang pendapatan namun hanya membutuhkan jawaban iya.
Dalam bait ketiga, memuat harapan seorang penyair kepada seorang pemimpin sejati yakni mesti gagah perkasa. Jika dikaji lebih dalam ini merupakan dari saripati ciri pemimpin sejati, yang ada dalam kitab suci al-Qur'an yakni azizun, harisun bikmukminina raufuurrahiem. Dengan kata lain, pemimpin sejati selalu menjadi sosok panutan dan selalu melindungi hak-hak kaum yang lebih lemah.
Penutup
Membaca puisi Thantowi Tohir dalam puisi Pemimpin Sejati, semacam merasakan permen nano-nano, semacam menikmati jalan yang penuh liku yang sangat dinikmati oleh para pembalap dalam memantik adrenalin.
Terlepas plus-minus yang lahir dari puisi ini, paling tidak kita melihat adanya kerinduan seorang Thantowi Tohir tentang sosok pemimpin sejati. Tak hanya itu, kita mendapatkan ciri-ciri pemimpin sejati berikut tantangan yang mesti ditaklukkan.

Paopale Daya, 31 Januari 2019

Selasa, 29 Januari 2019

Imam Bonjol dan PR yang Belum Selesai

(Sebuah Telaah Atas Puisi Bambang Widiatmoko Berjudul Sajadah Batu) 
Oleh Moh. Ghufron Cholid

Berbicara puisi adalah berbicara nafas lain dari waktu, yang di masa yang lain masih menjadi ingatan yang kuat dan menjadi jalan mempertajam kepekaan. Moh. Ghufron Cholid

Bertemu dan berhadapan secara langsung dengan puisi, semacam pertarungan yang tak usai. Saya kerap diserbu rasa penasaran dan tak jarang pula didekap kegelisahan.
Puisi selalu menjadi jalan kesaksian yang antik dari seorang penyair. Ianya bisa menjadi harapan, kecaman bisa pula menjadi jalan menjadikan dari lebih peka dan lebih menghargai perjuangan orang lain.
Bambang Widiatmoko dengan puisinya berjudul SAJADAH BATU, semakin mempertegas anggapan bahwa jiwa yang jawara takkan pernah sujud kepada ketakberdayaan. Jiwanya selalu memiliki pancaran cahaya yang mampu memikat sukma.
Kalau boleh saya ingin mengistilahkan puisi ini sebagai tafsir penyair atas sosok kharismatik bernama Imam Bonjol, jenisnya puisi persembahan jika meminjam istilah penyair Saifuddin Kojeh,  meski tak diimbuhkan hands (:)  selepas judul sebagai tujuan dipersembahkan pada seseorang.
Jiwa yang petarung,  selalu memiliki cara unik dan menarik untuk menunjukkan keistiqamahan dan ini dipotret secara apik oleh penyair Bambang Widiatmoko, Dulu Tuanku Imam Bonjol diasingkan/Dan melakukan salat lima waktu beralas batu//.
Saya pun telah menemukan kunci mengapa puisi ini diberi judul SAJADAH BATU, namun yang lebih penting dua larik ini juga menjadi penegas bahwa bumi adalah sajadah,  tempat seorang hamba menerjemahkan diri sebagai sosok yang memiliki Tuhan yang layak disembah. Di samping itu juga, berfungsi sebagai penegas bahwa sejatinya Allah tidak memberi kerumitan dalam beribadah. Salat bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja sesuai waktu salat yang telah ditegaskan.
Ada yang pelan-pelan membuat saya mengernyitkan dahi,  meski dua larik ini (Kini aku mencoba salat did atas batu itu/Tapi entahlah-bagaimana memaknai sejarah kelu?) menjadi semacam autokritik penyair tetap saja menjadi tamparan yang dahsyat bagi saya selaku pembaca.
Betapa cinta bukan sekedar kata, ianya mesti menjadi laku yang menggugah sukma. Betapa Imam Bonjol memang sangat layak menjadi tokoh dan ditokohkan. Dan betapa jalan cinta yang terang benderang telah dicontohkan oleh leluhur baik sebagai seorang hamba maupun seorang pejuang. Tinggal kita menentukan posisi masing-masing. Pilihan tersebut kembali kepada tiap diri dalam memaknai.
Secara keseluruhan, Bambang Widiatmoko bisa dikatakan berhasil dalam menghadirkan sosok Imam Bonjol selebihnya adalah PR kita dalam menentukan posisi baik sebagai seorang hamba maupun sebagai seorang pejuang.

People Daya, 30 Januari 2019

Sisi yang Paling Artistik dari Cinta

(Sebuah Telaah Atas Puisi Bairus Saliem Berjudul Demokrasi Cinta)
Oleh. Moh. Ghufron Cholid*

Kali ini saya memilih puisi karya Bairus Saliem berjudul Demokrasi Cinta,  sebuah puisi yang dilahirkan tahun 1999, berikut saya posting utuh puisi, agar bisa kita nikmati,
"Demokrasi Cinta"

Dari cinta aku lahir
Oleh cinta aku diasuh dan dibesarkan
Untuk cinta kemudian aku pulang ke asal aku diciptakan

Al Amien, 1999
Puisi yang dihadirkan dalam sebait berisi sebuah pengakuan tentang Cinta. Bahwa hakikatnya penyair lahir dari Cinta. Jika Nabi Adam diciptakan dari tanah maka generasi berikutnya lahir dari cinta. Cinta yang suci yang diawali restu dan doa-doa paling kasmaran.

Bisa juga kita maknai sejatinya kelahiran yang ingin dikenalkan penyair adalah kelahiran yang membahagiakan.
Kelahiran yang tak menimbulkan pengingkaran. Kelahiran yang jika diumumkan menumbuhkan rasa syukur baik dari pihak yang mengumumkan maupun yang menerima pengumuman kelahiran.
Bairus Salim​​ juga mengungkapkan bahwa penyair diasuh dan dibesarkan dengan cinta maka memandang hal demikian,  rasanya tidak berlebihan bila dikategorikan bahwa ibu madrasah pertama bagi pendidikan anak.
Bisa jadi lahirnya puisi ini sebagai bagian proses bersyukur penyair atas lahirnya ke dunia. Puisi ini pula menjadi semacam jalan ungkapan syukur,  sekaligus penegasan betapa bertuahnya cinta.
Bisa juga puisi ini berfungsi sebagai dalil tentang betapa pentingnya, cinta diperkenalkan sebagai urat nadi bagi kehidupan, agar tak ada lagi kelahiran yang terabaikan.
Di tangan Bairus Saliem dunia yang luas dirangkum dengan demikian padat dalam sebait. Jika membaca sampai tuntas puisi ini, kita seaman mendapat kode alam betapa pendidikan pesantren ikut andil dalam pembuatan puisi ini. Maknanya begitu dalam dan begitu tegas dalam pengakuan.
Puisi ini semacam mengandung saripati firman Allah yang menegaskan, "Tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah yang abadi."
Betapa prinsip ketawadluan dan ketaatan terlukis secara apik dalam puisi yang diperkenalkan oleh Bairus Saliem. Penyair telah melakukan takaran diksi yang seimbang. Barangkali tualang bathin seputar ilmu agama yang ditekuni telah meresap,  masuk menjadi tulang rusuk.
Semakin saya baca berulang puisi ini, semakin saya alami makna dari cinta yang kian dalam. Puisi ini dalam keterangbenderangan menyimpan makna yang artistik dari cinta.

Paopale Daya,  30 Januari 2019
*Pendiri Pesantren Penyair Nusantara di FB, yang juga penikmat puisi.

Selasa, 15 Januari 2019

Rupa Kematian di Mata Penyair Rini Intama



Oleh :  Moh. Ghufron Cholid

Puisi bisa juga menjadi salah satu cara seseorang penyair untuk mengabadikan seluruh perasaannya agar senantiasa abadi. Perasaan ini bisa berupa perasaan senang maupun benci, bahagia maupun sedih. Hal semacam ini menunjukkan bahwa puisi sangat dekat dengan kehidupan kita. Puisi bisa menghadirkan segala pujian maupun gugatan.


Kali ini Rini Intama hadir dengan puisi yang bertema reliji. Puisi yang melukiskan betapa kematian itu, sangat rahasia dan tak ada seorang pun yang bisa mengetahui hari kematiaannya.


Puisi kematian yang diusung kali ini, adalah puisi kematian yang tak terkesan menggurui. Puisi kematian yang hanya mencoba getar jiwa dalam memaknainya. Marilah kita sejenak meluangkan waktu untuk bersama-sama membaca dan menelaah puisi di bawah ini;



LIMA NOVEMBER



Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun

Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak

Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku



Malam, kutanya di mana ibu?

Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.



November 2010

(diambil dari buku Gemulai Tarian Naz karya Rini Intama halaman 62)


Ketika membaca judul puisi di atas awalnya saya hanya menerka-nerka apa keistimewaan November di mata batin seorang Rini Intama sehingga harus diabadikan dalam puisi.


Perlahan saya mencoba mentadabburi aksara demi aksara yang disusun dan dijadikan puisi dengan dua bait yang utuh, dua bait yang mampu menjawab pada hakekatnya segala sesuatu akan menjadi fana tanpa pernah menduganya.



Dalam bait pertama yang hanya terdiri dari empat baris, Rini Intama membuka baitnya dengan sebuah sapaan yang membuat kita tersadar dari lena hidup yang kita jalani. Lupa pada senja yang menjadi matahari merebahkan diri. Lupa pada senja yang menjadi tempat kita kembali.


Bait pertama secara utuh hanya menggambarkan suasana jiwa saat mendebarkan dalam menghadapi kematian, saat-saat yang penuh dengan kegetiran. Saat-saat yang membuat ruh merenung kembali tentang keberadaan yang dijalani. Bait pertama disampaikan secara jujur dan tidak klise dengan membumbuhi sedikit metafora.


Pada hakekatnya kematian selalu memberikan cuaca hati yang beragam, bagi yang mengalami kematian menjadi tanda pintu ketiga dalam sebuah perjalanan yang dilewati hamba telah dilalui. Pada pintu ini, biasanya seorang hamba hanya tinggal menunggu keputusan di padang mahsyar. Keputusan tentang segala amal. Dalam pintu ketiga perjalanan ini, bisa jadi penanda amal baik buruk seseorang dalam kamar baru yang dihuni. Apabila kelakuan baik yang lebih mendominasi paling tidak hamba yang berada dan telah memasuki pintu ini sangat riang gembira. Tidak merasakan gulita di kamar yang baru namun bagi yang banyak memiliki dosa menjadi tempat yang sangat menyeramkan.


Bait kedua dalam puisi ini, lebih memfokuskan pembahasannya pada kebimbangan seorang penyair dalam mencari tentang kabar keberadaan ibunya, Orang yang sangat dicintai dan sangat dirindui. Pertanyaan seperti ini wajar terjadi dan sering kita saksikan dalam hidup ini, utamanya saat kita sangat merindukan sosok ibu yang sering kita lihat, tiba-tiba hilang tanpa sebab.


Kegelisahan penyair dalam mencari sosok ibunya, yang tak kunjung mendapatkan jawaban, dari malam yang mejadi tempat pertanyaan. Malam yang menjadi tempat kesunyiaan untuk menanyakan hakekat keberaan sosok orang yang dicintai, akhirnya penyair mulai merasa lega dengan adanya jawaban tiba-tiba dari sosok bernama ayah. Ayah yang sangat memahami psikologi keadaan anak yang kehilangan ibunya sebisa mungkin akan mencari bahasa yang lebih menghibur buah hatinya, Ayah berbisik, sudah di surga nak sore tadi. Betapa indah penyair menutup baitnya.


Dari segala uraian yang telah saya paparkan, paling tidak Rini Intama dalam puisinya berjudul LIMA NOVEMBER telah berhasil menyampaikan tentang risalah kematian. Rini berbicara kematian namun tak terkesan menggurui. Kematangan penyair dalam menyampaikan imajinasi telah teruji dengan baik. Demikian kajian kematian yang bisa saya paparkan dalam puisi yang ditulis oleh penyair Rini Intama.


Terlepas dari plus minusnya penyampaian biarkan sejarah yang membahas dan menjelaskan kepada generasi berikutnya. Akhirnya saya haturkan selamat membaca, menelaah dan mengapresiasi. Untuk penyairnya saya haturkan alfu mabruk


Kamar Hati, 13 Juni 2011

PUISI DAN PENYAIR BERNAFAS CINTA

Telaah Atas Cara Penyair Mahroso Doloh (Penyair Patani) dan Penyair Kurnia Hidayati Mengungkap Cinta)
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Mahroso Doloh
Kiblat Cinta

Kemana akan kusimpan sebuah cinta
jika aksara tak menjadi kata-kata
bahkan terucap hanya terpaksa
menjadi ombak hanya ketika

dalam puisi menggunung cinta
mencari arah tak terhingga
tak ingin cinta;
yang menjadi titi neraka

dengan cinta; beribu cinta
membuat taubat di sela-sela malam
menderai gerimis hitam
menjadi secawan zamzam

dengan cinta; beribucinta
angin, panas, dan hujan
semua terasa pada telubuk kalbu
hanya mencari kiblat cinta

Patani, September 2014

Kurnia Hidayati
Batang, Suatu Malam

lengang jalan ini, senantiasa memajang lanskap muram
lampu-lampu berbaris haru
mengeram masygul dan sesunggukan, menangisi anak-anak puisi yang piatu

mobil-mobil melintas menyuguhkan suara klakson yang lekas
dirampas udara tanpa aba-aba
seperti pekik tajam bunyi yang memecah membran sunyi
ketika malam bagai lambaian tangannaik turun,
mengingkari detik jam yang berdegup
diintai mimpi

Batang, 2014
Dalam sebuah buku judul merupakan bagian inti yang menjadi sorotan oleh sebab ianya begitu memiliki peranan vital dan dalam judul pulalah seorang penyair dituntut memiliki cita rasa seni.

Ada yang mencoba peruntungan dengan memberikan judul yang sudah familiar sehingga judulnya mudah diingat oleh pembacanya, ada pula yang membuat judul yang kadang tak diambil dari puisi yang ada di dalam buku guna untuk menyedot perhatian.

Tampaknya Mahroso Doloh dan Kurnia Hidayati adalah dua penyair yang memiliki cita rasa yang sama yakni memilih salah satu puisi dari sekian puisi yang ada dalam buku untuk judul buku. Yang berbeda adalah Mahroso Doloh lebih memilih judul buku yang mudah diucapkan dan mudah diingat seperti Kiblat Cinta, sementara Kurnia Hidayati mempertaruhkan seni judul yang menarik dan mengundang penasaran sebab ianya jarang kita dengar dalam keseharian yakni Senandika Pemantik Api.

Dalam tulisan ini saya memilih satu puisi milik Mahroso Doloh sebab puisi tersebut adalah puisi yang dijadikan judul buku lewat pertimbangan bahwa Kiblat Cinta adalah puisi yang menjadi pusat atau intisari pandangan penyairnya dalam mengurai hidup dari sisi cinta. Namun dalam buku senandika pemantik api karya Kurnia Hidayati saya sengaja memilih puisi Batang, Suatu Malam sebagai bahan bahasan tulisan ini karena pertimbangan Batang adalah tanah kelahiran penyair dan saya ingin mengungkap pandangan penyair atas tanah kelahirannya.

PUISI YANG MENGUNGKAP MISTERI

KIBLAT CINTA adalah judul buku puisi Mahroso Doloh (Penyair Patani), yang kini bermukim di Purwokerto. Buku ini terdiri atas empat sub bab yakni 1. Lorong-lorong Cinta berisi 50 puisi, 2. Untukmu Patani berisi 11 puisi, 3. Untuk Pohon Cinta berisi 7 puisi, 4. Catatan Indonesia berisi 32 puisi.

Mahroso Doloh terbilang penyair yang menyorot tanah airnya Patani juga menyorot tanah rantaunya bernama Indonesia meski porsi sorotan pada Patani hanya berisi 11 puisi yang diletakkan khusus dalam sub bab Untukmu Patani dan 32 puisi membahas Indonesia yang diletakkan khusus di sub bab Catatan Indonesia secara porsi isi lebih banyak membahas rupa Indonesia dalam puisi, tak menutupi semangat juang Mahroso untuk memulihkan cinta Patani dan upaya meredakan hujan hujan airmata dengan jalan puisi.

Kiblat Cinta sengaja saya pilih sebagai bahan bahasan karena dalam hemat saya puisi ini mewakili beragam pandangan dari puisi-puisi yang dilahirkan dan diabadikan dalam buku bernama Kiblat Cinta yang memiliki misi utama untuk menebar cinta, meredakan hujan airmata dan menggugat ketimpangan yang ada.

Senandika Pemantik Api adalah buku puisi karya Kurnia Hidayati, seorang penyair perempuan kelahiran Batang. Dalam mengenalkan pandangannya, Kurnia Hidayati juga membagi puisi-puisinya ke dalam beberapa sub bab yakni 1. Senandika berisi 16 puisi, 2. Petilasan Waktu berisi 11 puisi, 3. Labirin Sunyi berisi 19 puisi, 3. Ziarah Kembang Kamboja berisi 7 puisi, 4. Tulang Rusuk Payung berisi 5 puisi.

Mahroso Doloh (Penyair Patani) dan Kurnia Hidayati (Penyair Batang), memiliki kesamaan yakni mengambil judul buku puisi dari salah satu puisi yang dimuat ke dalam buku. Kesamaan kedua membagi bukunya ke dalam empat sub pembahasan. Namun dalam pembahasan ini saya memilih puisi Kiblat Cinta karya Mahroso Doloh dan Batang, Suatu Malam karya Kurnia Hidayati atas pertimbangan, Kiblat Cinta merupakan intisari dari tema cinta yang diusung oleh Mahroso Doloh dalam bukunya, sementara Batang, Suatu Malam karya Kurnia Hidayati dipilih karena Batang merupakan tanah kelahiran penyair dan mengungkap nafas penyair akan tanah kelahirannya menjadi hal yang menarik.

Kiblat Cinta disampaikan dalam empat bait yang membahas tentang cinta berikut kemelut yang menyertainya sementara Batang, Suatu Malam oleh Kurnia Hidayati disampaikan dalam dua bait yang menggambarkan hidup di Batang beserta kegetiran yang meriasnya.

Dalam bait pertama Mahroso Doloh, penyair dari Patani menulis, Kemana akan kusimpan sebuah cinta/jika aksara tak menjadi kata-kata/bahkan terucap hanya terpaksa/menjadi ombak hanya ketika//

Ada masa getir di mana seorang manusia tak henti ditumbuhi bimbang, ianya menemukan jalan buntu dan kehilangan cara terbaik dalam mengekalkan cinta. Masa sulit tersebut membuat manusia dalam posisi serba salah. Keterpaksaan yang dipelihara hanya menimbulkan gejolak dalam jiwa dan tak ada ketenangan menerpa.

Dalam bait kedua Mahroso Doloh mengungkap kemungkinan dan harapan yang hendak diraih, ianya pun menulis, dalam puisi menggunung cinta/mencari arah tak terhingga/tak ingin cinta;/yang menjadi titi neraka//

Kemungkinan tentang adanya cinta yang menggunung diungkapkan Mahroso Doloh bermukim dalam puisi. Puisi dipercaya bisa menjadi jalan alternatif untuk menemukan dan menebarkan cinta dengan harapan tak ada lagi jalan kepedihan memanjang dan dipajang.

Bait ketiga merupakan ketegasan yang ditampakkan Mahroso Doloh dalam menepikan duka, mengusir segenap kemelut dan menukar kamar yang gelap, pengap dengan jalan cahaya, yakni menjadikan sela-sela malam sebagai waktu bertaubat. Sela-sela malam bisa kita tafsirkan waktu malam bisa pula kita tafsirkan saat melakukan kesalahan kita mengkondisikan diri untuk bertaubat, demikian yang ditegaskan oleh Mahroso agar kita tak terlalu larut dalam jalan kelam.

Bait keempat adalah bait pamungkas yang menggambarkan kehidupan manusia yang tak henti berada dalam pencarian dan yang menjadi pusat pencarian adalah kiblat cinta. Mengapa mesti Kiblat Cinta yang tak pernah usai dicari karena Kiblat Cinta adalah bagian tervital dari hidup. Jika dalam agama Islam kiblat shalat adalah ka'bah maka sejatinya kiblat cinta adalah Allah sebab ianya pusat segala cinta. Sebab ampunanNya lebih besar dari amarahNya, sebab karuniaNya tak pernah tuntas diceritakan meski laut jadi tinta dan langit jadi kertasnya.

Intisari dari puisi kiblat cinta adalah gambaran manusia dalam mencari kiblat cinta dan ketika jalan yang ditempuh sangat kelam, sangat menakutkan maka taubat bisa dijadikan jalan untuk menemukan kiblat cinta sementara kiblat cinta itu sendiri adalah Allah.

Kurnia memotret kehidupan di Batang dalam dua bait. Ada rupa perih pedih yang diperkelkan semacam suasana hidup yang muram. Ada gambaran yang menarik di samping Batang yang muram yakni lampu-lampu berbaris haru. Lalu muncul dalam benak seperti apakah lampu-lampu berbaris haru? apakah ianya kiasan tentang perjuangan di lampu merah tentang bocah-bocah yang tak menyerah pada ketakberbadayaan atau ibu-ibu yang mempertaruhkan diri berjuang demi kembali menghadirkan senyum putra-putrinya atau pula lukisan para lelaki yang tak lelah berjuang demi membahagiakan orang-orang yang dicintai sehingga ianya melahirkan haru bagi tiap mata hati yang berhasil terketuk oleh tangan takjub. Tak hanya itu, Kurnia juga mengabarkan  tentang nasib anak-anak puisi yang piatu di bait pertamanya, berikut penuturan Kurnia lengang jalan ini, senantiasa memajang lanskap muram/lampu-lampu berbaris haru/mengeram masygul dan sesunggukan, menangisi anak-
anak puisi yang piatu//

Ternyata Batang juga memiliki rupa yang dirias kesibukan  dan kehidupan yang tak pernah sepi dari pertarungan-pertarungan yang memilukan dan ratapan bocah-bocah terabaikan, yang dalam  penuturan penyair digambarkan menangisi anak-anak puisi yang piatu.

Dalam bait kedua, Kurnia menuturkan kehidupan di Batang yang sudah  modern, mobil-mobil melintas menyuguhkan suara klakson yang
lekas
dirampas udara tanpa aba-aba
seperti pekik tajam bunyi yang memecah membran sunyi
ketika malam bagai lambaian tangannaik turun,
mengingkari detik jam yang berdegup
diintai mimpi

Kehidupan modern tak bisa ditolak kiranya demikian yang hendak ditegaskan oleh Kurnia dan hal itulah yang kini dialami oleh Batang, tempat penyair Kurnia dilahirkan. Di sisi yang lain Kurnia juga mengungkap keprihatinan pada Batang sebab kemodernan menelan keakraban, harta warisan moyang yang paling mahal.

Madura, 4 Juli 2015
Biodata Penulis
Hanya seorang penikmat puisi, yang lahir dan dibesarkan di dunia pesantren.