Jumat, 13 Maret 2020

MENYOAL KATA TERBAIK YANG MELEKAT DALAM BUKU KAU PERGI HIMPUNAN PUISI TERBAIK L.K. ARA


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Temu Sastra Indonesia Malaysia di Bandung merupakan pertemuan pertama saya dengan buku L.K. Ara berjudul Kau Pergi Himpunan Puisi Terbaik yang dikata pengantari oleh Narudin Pituin.

Sebagai buku yang dijudul dilebeli terbaik, tentu bisa diberi beberapa kemungkinan, berarti selama menulis puisi L.K. Ara maka buku inilah adalah puisi terbaiknya, bagi saya sah-sah saja, pelebelan terbaik itu sebagai upaya menjadi pusat penasaran kita sebagai pembaca.

Ada yang mesti dipertaruhkan ketika kita melebelkan karya dengan kata terbaik, yakni harus jauh dari ketidak sempurnaan, baik dalam penyajian maupun dalam pemberian judul pada puisi-puisi yang ada dalam buku.

Memanglah benar ada kata-kata yang barangkali tak asing untuk didengar di telinga kita yakni apalah arti sebuah nama namun kita pun tak boleh mengabaikan atau pura-pura lupa bahwa penamaan adalah sangat penting sebab dari sebuah nama sesuatu bisa cepat dikenal.

Marilah kita mulai mengintimi puisi yang ada dalam buku ini yang isinya begini, cahaya merebak ke laut/dan laut malu tapi bahagia/dan kau tentu tahu aku di mana/memang tak nampak/karena wajahku tertutup ombak/tapi suara desir itu/adalah nyanyian pedih (hal, 20).

Barangkali sebagai sebuah karya, isinya bisa kita rasakan kehadirannya, kalau diletakkan dalam status facebook akan menjadi sangat lumrah, namun jika dimasukkan dalam buku yang dilebeli terbaik, tentu bisa dikatakan sangat berlebihan sebab terbaik memiliki makna paling dan sesuatu yang di dalamnya terdapat kekurangan tidak bisa dikatakan terbaik.

Namun saya menyaari tiap orang atau pembaca pastilah memiliki pandangan yang berbeda dan saya menyadari perbedaan adalah hikmah, amun di sini lain saya juga seorang pembaca yang berhak menyatakan ataupun mengungkap apa yang saa rasakan tentang kejanggalan yang saya temukan, paling tidak dari sudut pandang saya selaku pembaca.

Saya pun takkan mempersoalkan siapa yang lebih dulu melebelkan terbaik dalam buku itu, apakah penyairnya sendiri ataupun Narudin karena melebelkan kata terbaik dalam sebuah karya tentulah memiliki pandangan yang bisa dipertanggung jawabkan, namun jangan lupa dari suatu sudut pandang yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain, tersebab orang lain melihat suatu sudut yabg barangkali terluput dari pandangan kita, jendati kita telah mengintimi lebih akrab dan cermat.

Berikut saya hadirkan pandangan Narudin atas puisi karya L.K. Ara yang berada dalam buku yang dihadirkan tanpa judul, Narudin berkata, "Judul tak dibutuhkan lagi ketika perasaan telah demikian pekat. Bukankah kegelapan (kepekatan) tak diperlukan ketika matahari dini hari hendak terbit? bukankah cahaya dan kegelapan takkan berada dalam satu wadah? salah satu harus mau tak mau pasrah pada nasib untuk diusir?"

Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat mengenal sesuatu hanya mempercayakan pada perasaan saja, tanpa mengenal nama atau memberi nama. Barangkali jika berkaitan dengan hal individu bisa dimaklumi namun bagaimana cara memecahkan persoalan tersebut dengan khalayak.

Allah saja sebagai Tuhan Yang Maha Esa memperkenalkan namaNya terlebih kita hambaNya, sebab nama itu memegang peranan vital, tanpa nama seseorang belum bisa mengenal dengan baik. Manusia diangkat menjadi khalifah di bumi karena salah satunya manusia mampu memperkenalkan nama-nama (baca surat al-baqarah tentang penunjukan manusia sebagai khalifah).

Atau coba baca surat al-ikhlas yang menegaskan bahwa Tuhan itu satu. Bahwa Tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dengan kata lain semakin kita bisa hadirkan sebuah nama dengan segala kevitalannya untuk menjelaskan peran vitalnya.

Atau bahasa yang lebih sederhana jika kita ingin tahu rumah seseorang namun kita lupa nama orangnya atau alamatnya betapa kita takkan pernah menemukan. Atau jika kita kaitkan dengan zaman kekinian, zaman yang serba teknologi jika kita tidak menyematkan alamat atau nama secara benar di internet maka tentulah yang kita cari takkan pernah kita temui.

PENTINGNYA SEBUAH NAMA ATAU JUDUL

Sebagai manusia kita terkadang cendrung diburu penasaran jika kita ingin mengenal secara intim, misalkan kita hendak mencari sekolahan ternama yang telah menghasilkan murid-murid atau para mahasiswa yang membanggakan namun kita tak tahu namanya, atau yang kita tanya tak tahu namanya maka yang kita rasakan hanyalah ketersesatan.

Pernahkah kita ingin tahu sebuah nama atau sebuah alamat yang ingin kita ketahui secara tepat dan akurat, lalu kita mencari di sebuh internet maka ianyapun akan memperhatikan ejaan huruf yang ada dengan benar terlebih hanya berdasarkan terkaan yang didapat hanyalah kekecewaan.

Memberikan alasan demi alasan, hanya mengandalkan rabaan hati untuk mengetahui  segala yang kita rasakan untuk diketahui khalayak hanyalah tindakan konyol. Pengenalan kita tentulah berbeda dengan kita dan apa yang kita harapkan akan sangat sulit untuk sama dengan sudut pandang orang lain.

Bagi saya pemuatan kata terbaik dalam judul biku adalah terlalu terburu-buru kalau tidaknya disebut sangat konyol karen adanya pemuatan puisi tampa judul.

Terlepas dari itu semua, bagaimanapun buku ini telah lahir, saya ucapkan selamat menjadi saksi mata dan selamat mengapresiasi buku ini dari sudut pandang berbeda. Barangkali bisa dipertimbangkan lagi jika hendak menerbitkan biku di masa mendatang utamanya jika hendak menyematkan kata terbaik di judul buku.

Bandung, 21 September 2015

Sabtu, 23 Februari 2019

SENYUM KEKASIH

Moh. Ghufron Cholid
Senyum Kekasih
: Farrohah Ulfa


jalan bahagia
tak dapat kuingkari

jalan airmata
tak terbaca lagi

Junglorong, 24 Februari 2019

Rabu, 30 Januari 2019

Pemimpin Sejati dan Rintangan yang Mesti Ditaklukkan

(Telaah Atas Puisi Thantowi Tohir Berjudul Pemimpin Sejati)
Oleh. Moh. Ghufron Cholid
Puisi bisa menjadi jalan alternatif bagi terciptanya keseimbangan hidup baik berbangsa maupun dalam beragama. Ianya bisa memuat jalan yang indah bagi terciptanya hidup yang bermartabat. Moh. Ghufron Cholid

Berhadapan dengan puisi Thantowi Tohir bejudul Pemimpin Sejati, adalah mencari cara lain yang lebih membuat hidup lebih bermartabat. Thantowi Tohir seakan tak ingin carut marut terus menampakkan taringnya. Bagi Thantowi sudah saatnya bersuara lantang, mengungkap segala yang kerap meraung di kedalaman bathinnya.
Puisi yang kehadirannya selalu dipertanyakan, di tangan seorang Thantowi mulai bisa dirasakan keberadaannya, harapan telah mengalahkan ketakutan dalam dirinya. Kerinduan telah mengalahkan pilu yang telah merias sumsum hidupnya.
Pemimpin Sejati, demikian Thantowi Tohir menai puisinya. Mengenalkan harapannya. Mengasingkan ketakutan dalam dirinya, menguraikan caranya berbahagia dalam menghadirkan sosok pemimpin.
Diungkapnya segala rintangan yang akan bertamu, yang mau tak mau mesti ditaklukkan seorang pemimpin. Yang dengannya lambat laun gelar pemimpin sejati bisa diraih.
Thantowi Tohir, telah menjadi manusia yang merdeka. Sebab kebenaran mesti disuarakan, barangkali alasan inilah yang membuat puisi ini lahir. Mungkin pula lantaran carut marut tak lagi ingin ditumbuhsuburkan di negeri yang sangat dicintai penyair.

Hal-hal yang Mesti Ditempuh Pemimpin Sejati
Membaca puisi Thantowi Tohir, saya bertemu dengan syarat-syarat yang diajukan oleh penyair untuk mendapat gelar pemimpin sejati.
Dalam bait pertama, Thantowi memberikan semacam rambu yang mesti ada pada pemimpin sejati yakni melepas mahkota (sesuatu yang begitu dibanggakan, sesuatu yang dapat menjadikan seseorang bisa membusungkan dada), mengusung amanah (salah satu dari empat sifat rasul yang selalu melekat), titah dan tuah (bisa kita maknai sebagai sosok yang penuh kharismatik).
Bait kedua, penyair menegaskan bahwa pemimpin sejati memiliki jiwa petarung, karena tak jarang rintangan datang menjadi batu penghalang. Pemimpin sejati, tak pernah sepi dari ragam jalan terjal, oleh sebab itu seni menaklukkan masalah tampa masalah mesti dimiliki, atau dalam diksi penyair dituturkan, Banyak kerikil tajam/sekeras batu pualam/merintang jalan/benamkan saja dalam api/jadikan tulang belulang// lantaran bait kedua berisi perkara yang gawat, ianya tampak sebagai wanti-wanti dan di sisi lain tampak seperti perintah maka diksi-diksi yang melekat pada bait kedua bisa dimaklumi. Mengingat sebuah masalah dan solusi yang dihadirkan, tak bisa luput dari diksi-diksi yang tegas, yang memungkinkan menimbulkan persepsi variatif semacam menggurui, atau dengan bahasa yang lebih halus silang pendapatan namun hanya membutuhkan jawaban iya.
Dalam bait ketiga, memuat harapan seorang penyair kepada seorang pemimpin sejati yakni mesti gagah perkasa. Jika dikaji lebih dalam ini merupakan dari saripati ciri pemimpin sejati, yang ada dalam kitab suci al-Qur'an yakni azizun, harisun bikmukminina raufuurrahiem. Dengan kata lain, pemimpin sejati selalu menjadi sosok panutan dan selalu melindungi hak-hak kaum yang lebih lemah.
Penutup
Membaca puisi Thantowi Tohir dalam puisi Pemimpin Sejati, semacam merasakan permen nano-nano, semacam menikmati jalan yang penuh liku yang sangat dinikmati oleh para pembalap dalam memantik adrenalin.
Terlepas plus-minus yang lahir dari puisi ini, paling tidak kita melihat adanya kerinduan seorang Thantowi Tohir tentang sosok pemimpin sejati. Tak hanya itu, kita mendapatkan ciri-ciri pemimpin sejati berikut tantangan yang mesti ditaklukkan.

Paopale Daya, 31 Januari 2019

Selasa, 29 Januari 2019

Imam Bonjol dan PR yang Belum Selesai

(Sebuah Telaah Atas Puisi Bambang Widiatmoko Berjudul Sajadah Batu) 
Oleh Moh. Ghufron Cholid

Berbicara puisi adalah berbicara nafas lain dari waktu, yang di masa yang lain masih menjadi ingatan yang kuat dan menjadi jalan mempertajam kepekaan. Moh. Ghufron Cholid

Bertemu dan berhadapan secara langsung dengan puisi, semacam pertarungan yang tak usai. Saya kerap diserbu rasa penasaran dan tak jarang pula didekap kegelisahan.
Puisi selalu menjadi jalan kesaksian yang antik dari seorang penyair. Ianya bisa menjadi harapan, kecaman bisa pula menjadi jalan menjadikan dari lebih peka dan lebih menghargai perjuangan orang lain.
Bambang Widiatmoko dengan puisinya berjudul SAJADAH BATU, semakin mempertegas anggapan bahwa jiwa yang jawara takkan pernah sujud kepada ketakberdayaan. Jiwanya selalu memiliki pancaran cahaya yang mampu memikat sukma.
Kalau boleh saya ingin mengistilahkan puisi ini sebagai tafsir penyair atas sosok kharismatik bernama Imam Bonjol, jenisnya puisi persembahan jika meminjam istilah penyair Saifuddin Kojeh,  meski tak diimbuhkan hands (:)  selepas judul sebagai tujuan dipersembahkan pada seseorang.
Jiwa yang petarung,  selalu memiliki cara unik dan menarik untuk menunjukkan keistiqamahan dan ini dipotret secara apik oleh penyair Bambang Widiatmoko, Dulu Tuanku Imam Bonjol diasingkan/Dan melakukan salat lima waktu beralas batu//.
Saya pun telah menemukan kunci mengapa puisi ini diberi judul SAJADAH BATU, namun yang lebih penting dua larik ini juga menjadi penegas bahwa bumi adalah sajadah,  tempat seorang hamba menerjemahkan diri sebagai sosok yang memiliki Tuhan yang layak disembah. Di samping itu juga, berfungsi sebagai penegas bahwa sejatinya Allah tidak memberi kerumitan dalam beribadah. Salat bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja sesuai waktu salat yang telah ditegaskan.
Ada yang pelan-pelan membuat saya mengernyitkan dahi,  meski dua larik ini (Kini aku mencoba salat did atas batu itu/Tapi entahlah-bagaimana memaknai sejarah kelu?) menjadi semacam autokritik penyair tetap saja menjadi tamparan yang dahsyat bagi saya selaku pembaca.
Betapa cinta bukan sekedar kata, ianya mesti menjadi laku yang menggugah sukma. Betapa Imam Bonjol memang sangat layak menjadi tokoh dan ditokohkan. Dan betapa jalan cinta yang terang benderang telah dicontohkan oleh leluhur baik sebagai seorang hamba maupun seorang pejuang. Tinggal kita menentukan posisi masing-masing. Pilihan tersebut kembali kepada tiap diri dalam memaknai.
Secara keseluruhan, Bambang Widiatmoko bisa dikatakan berhasil dalam menghadirkan sosok Imam Bonjol selebihnya adalah PR kita dalam menentukan posisi baik sebagai seorang hamba maupun sebagai seorang pejuang.

People Daya, 30 Januari 2019

Sisi yang Paling Artistik dari Cinta

(Sebuah Telaah Atas Puisi Bairus Saliem Berjudul Demokrasi Cinta)
Oleh. Moh. Ghufron Cholid*

Kali ini saya memilih puisi karya Bairus Saliem berjudul Demokrasi Cinta,  sebuah puisi yang dilahirkan tahun 1999, berikut saya posting utuh puisi, agar bisa kita nikmati,
"Demokrasi Cinta"

Dari cinta aku lahir
Oleh cinta aku diasuh dan dibesarkan
Untuk cinta kemudian aku pulang ke asal aku diciptakan

Al Amien, 1999
Puisi yang dihadirkan dalam sebait berisi sebuah pengakuan tentang Cinta. Bahwa hakikatnya penyair lahir dari Cinta. Jika Nabi Adam diciptakan dari tanah maka generasi berikutnya lahir dari cinta. Cinta yang suci yang diawali restu dan doa-doa paling kasmaran.

Bisa juga kita maknai sejatinya kelahiran yang ingin dikenalkan penyair adalah kelahiran yang membahagiakan.
Kelahiran yang tak menimbulkan pengingkaran. Kelahiran yang jika diumumkan menumbuhkan rasa syukur baik dari pihak yang mengumumkan maupun yang menerima pengumuman kelahiran.
Bairus Salim​​ juga mengungkapkan bahwa penyair diasuh dan dibesarkan dengan cinta maka memandang hal demikian,  rasanya tidak berlebihan bila dikategorikan bahwa ibu madrasah pertama bagi pendidikan anak.
Bisa jadi lahirnya puisi ini sebagai bagian proses bersyukur penyair atas lahirnya ke dunia. Puisi ini pula menjadi semacam jalan ungkapan syukur,  sekaligus penegasan betapa bertuahnya cinta.
Bisa juga puisi ini berfungsi sebagai dalil tentang betapa pentingnya, cinta diperkenalkan sebagai urat nadi bagi kehidupan, agar tak ada lagi kelahiran yang terabaikan.
Di tangan Bairus Saliem dunia yang luas dirangkum dengan demikian padat dalam sebait. Jika membaca sampai tuntas puisi ini, kita seaman mendapat kode alam betapa pendidikan pesantren ikut andil dalam pembuatan puisi ini. Maknanya begitu dalam dan begitu tegas dalam pengakuan.
Puisi ini semacam mengandung saripati firman Allah yang menegaskan, "Tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah yang abadi."
Betapa prinsip ketawadluan dan ketaatan terlukis secara apik dalam puisi yang diperkenalkan oleh Bairus Saliem. Penyair telah melakukan takaran diksi yang seimbang. Barangkali tualang bathin seputar ilmu agama yang ditekuni telah meresap,  masuk menjadi tulang rusuk.
Semakin saya baca berulang puisi ini, semakin saya alami makna dari cinta yang kian dalam. Puisi ini dalam keterangbenderangan menyimpan makna yang artistik dari cinta.

Paopale Daya,  30 Januari 2019
*Pendiri Pesantren Penyair Nusantara di FB, yang juga penikmat puisi.

Selasa, 15 Januari 2019

Rupa Kematian di Mata Penyair Rini Intama



Oleh :  Moh. Ghufron Cholid

Puisi bisa juga menjadi salah satu cara seseorang penyair untuk mengabadikan seluruh perasaannya agar senantiasa abadi. Perasaan ini bisa berupa perasaan senang maupun benci, bahagia maupun sedih. Hal semacam ini menunjukkan bahwa puisi sangat dekat dengan kehidupan kita. Puisi bisa menghadirkan segala pujian maupun gugatan.


Kali ini Rini Intama hadir dengan puisi yang bertema reliji. Puisi yang melukiskan betapa kematian itu, sangat rahasia dan tak ada seorang pun yang bisa mengetahui hari kematiaannya.


Puisi kematian yang diusung kali ini, adalah puisi kematian yang tak terkesan menggurui. Puisi kematian yang hanya mencoba getar jiwa dalam memaknainya. Marilah kita sejenak meluangkan waktu untuk bersama-sama membaca dan menelaah puisi di bawah ini;



LIMA NOVEMBER



Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun

Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak

Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku



Malam, kutanya di mana ibu?

Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.



November 2010

(diambil dari buku Gemulai Tarian Naz karya Rini Intama halaman 62)


Ketika membaca judul puisi di atas awalnya saya hanya menerka-nerka apa keistimewaan November di mata batin seorang Rini Intama sehingga harus diabadikan dalam puisi.


Perlahan saya mencoba mentadabburi aksara demi aksara yang disusun dan dijadikan puisi dengan dua bait yang utuh, dua bait yang mampu menjawab pada hakekatnya segala sesuatu akan menjadi fana tanpa pernah menduganya.



Dalam bait pertama yang hanya terdiri dari empat baris, Rini Intama membuka baitnya dengan sebuah sapaan yang membuat kita tersadar dari lena hidup yang kita jalani. Lupa pada senja yang menjadi matahari merebahkan diri. Lupa pada senja yang menjadi tempat kita kembali.


Bait pertama secara utuh hanya menggambarkan suasana jiwa saat mendebarkan dalam menghadapi kematian, saat-saat yang penuh dengan kegetiran. Saat-saat yang membuat ruh merenung kembali tentang keberadaan yang dijalani. Bait pertama disampaikan secara jujur dan tidak klise dengan membumbuhi sedikit metafora.


Pada hakekatnya kematian selalu memberikan cuaca hati yang beragam, bagi yang mengalami kematian menjadi tanda pintu ketiga dalam sebuah perjalanan yang dilewati hamba telah dilalui. Pada pintu ini, biasanya seorang hamba hanya tinggal menunggu keputusan di padang mahsyar. Keputusan tentang segala amal. Dalam pintu ketiga perjalanan ini, bisa jadi penanda amal baik buruk seseorang dalam kamar baru yang dihuni. Apabila kelakuan baik yang lebih mendominasi paling tidak hamba yang berada dan telah memasuki pintu ini sangat riang gembira. Tidak merasakan gulita di kamar yang baru namun bagi yang banyak memiliki dosa menjadi tempat yang sangat menyeramkan.


Bait kedua dalam puisi ini, lebih memfokuskan pembahasannya pada kebimbangan seorang penyair dalam mencari tentang kabar keberadaan ibunya, Orang yang sangat dicintai dan sangat dirindui. Pertanyaan seperti ini wajar terjadi dan sering kita saksikan dalam hidup ini, utamanya saat kita sangat merindukan sosok ibu yang sering kita lihat, tiba-tiba hilang tanpa sebab.


Kegelisahan penyair dalam mencari sosok ibunya, yang tak kunjung mendapatkan jawaban, dari malam yang mejadi tempat pertanyaan. Malam yang menjadi tempat kesunyiaan untuk menanyakan hakekat keberaan sosok orang yang dicintai, akhirnya penyair mulai merasa lega dengan adanya jawaban tiba-tiba dari sosok bernama ayah. Ayah yang sangat memahami psikologi keadaan anak yang kehilangan ibunya sebisa mungkin akan mencari bahasa yang lebih menghibur buah hatinya, Ayah berbisik, sudah di surga nak sore tadi. Betapa indah penyair menutup baitnya.


Dari segala uraian yang telah saya paparkan, paling tidak Rini Intama dalam puisinya berjudul LIMA NOVEMBER telah berhasil menyampaikan tentang risalah kematian. Rini berbicara kematian namun tak terkesan menggurui. Kematangan penyair dalam menyampaikan imajinasi telah teruji dengan baik. Demikian kajian kematian yang bisa saya paparkan dalam puisi yang ditulis oleh penyair Rini Intama.


Terlepas dari plus minusnya penyampaian biarkan sejarah yang membahas dan menjelaskan kepada generasi berikutnya. Akhirnya saya haturkan selamat membaca, menelaah dan mengapresiasi. Untuk penyairnya saya haturkan alfu mabruk


Kamar Hati, 13 Juni 2011

PUISI DAN PENYAIR BERNAFAS CINTA

Telaah Atas Cara Penyair Mahroso Doloh (Penyair Patani) dan Penyair Kurnia Hidayati Mengungkap Cinta)
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Mahroso Doloh
Kiblat Cinta

Kemana akan kusimpan sebuah cinta
jika aksara tak menjadi kata-kata
bahkan terucap hanya terpaksa
menjadi ombak hanya ketika

dalam puisi menggunung cinta
mencari arah tak terhingga
tak ingin cinta;
yang menjadi titi neraka

dengan cinta; beribu cinta
membuat taubat di sela-sela malam
menderai gerimis hitam
menjadi secawan zamzam

dengan cinta; beribucinta
angin, panas, dan hujan
semua terasa pada telubuk kalbu
hanya mencari kiblat cinta

Patani, September 2014

Kurnia Hidayati
Batang, Suatu Malam

lengang jalan ini, senantiasa memajang lanskap muram
lampu-lampu berbaris haru
mengeram masygul dan sesunggukan, menangisi anak-anak puisi yang piatu

mobil-mobil melintas menyuguhkan suara klakson yang lekas
dirampas udara tanpa aba-aba
seperti pekik tajam bunyi yang memecah membran sunyi
ketika malam bagai lambaian tangannaik turun,
mengingkari detik jam yang berdegup
diintai mimpi

Batang, 2014
Dalam sebuah buku judul merupakan bagian inti yang menjadi sorotan oleh sebab ianya begitu memiliki peranan vital dan dalam judul pulalah seorang penyair dituntut memiliki cita rasa seni.

Ada yang mencoba peruntungan dengan memberikan judul yang sudah familiar sehingga judulnya mudah diingat oleh pembacanya, ada pula yang membuat judul yang kadang tak diambil dari puisi yang ada di dalam buku guna untuk menyedot perhatian.

Tampaknya Mahroso Doloh dan Kurnia Hidayati adalah dua penyair yang memiliki cita rasa yang sama yakni memilih salah satu puisi dari sekian puisi yang ada dalam buku untuk judul buku. Yang berbeda adalah Mahroso Doloh lebih memilih judul buku yang mudah diucapkan dan mudah diingat seperti Kiblat Cinta, sementara Kurnia Hidayati mempertaruhkan seni judul yang menarik dan mengundang penasaran sebab ianya jarang kita dengar dalam keseharian yakni Senandika Pemantik Api.

Dalam tulisan ini saya memilih satu puisi milik Mahroso Doloh sebab puisi tersebut adalah puisi yang dijadikan judul buku lewat pertimbangan bahwa Kiblat Cinta adalah puisi yang menjadi pusat atau intisari pandangan penyairnya dalam mengurai hidup dari sisi cinta. Namun dalam buku senandika pemantik api karya Kurnia Hidayati saya sengaja memilih puisi Batang, Suatu Malam sebagai bahan bahasan tulisan ini karena pertimbangan Batang adalah tanah kelahiran penyair dan saya ingin mengungkap pandangan penyair atas tanah kelahirannya.

PUISI YANG MENGUNGKAP MISTERI

KIBLAT CINTA adalah judul buku puisi Mahroso Doloh (Penyair Patani), yang kini bermukim di Purwokerto. Buku ini terdiri atas empat sub bab yakni 1. Lorong-lorong Cinta berisi 50 puisi, 2. Untukmu Patani berisi 11 puisi, 3. Untuk Pohon Cinta berisi 7 puisi, 4. Catatan Indonesia berisi 32 puisi.

Mahroso Doloh terbilang penyair yang menyorot tanah airnya Patani juga menyorot tanah rantaunya bernama Indonesia meski porsi sorotan pada Patani hanya berisi 11 puisi yang diletakkan khusus dalam sub bab Untukmu Patani dan 32 puisi membahas Indonesia yang diletakkan khusus di sub bab Catatan Indonesia secara porsi isi lebih banyak membahas rupa Indonesia dalam puisi, tak menutupi semangat juang Mahroso untuk memulihkan cinta Patani dan upaya meredakan hujan hujan airmata dengan jalan puisi.

Kiblat Cinta sengaja saya pilih sebagai bahan bahasan karena dalam hemat saya puisi ini mewakili beragam pandangan dari puisi-puisi yang dilahirkan dan diabadikan dalam buku bernama Kiblat Cinta yang memiliki misi utama untuk menebar cinta, meredakan hujan airmata dan menggugat ketimpangan yang ada.

Senandika Pemantik Api adalah buku puisi karya Kurnia Hidayati, seorang penyair perempuan kelahiran Batang. Dalam mengenalkan pandangannya, Kurnia Hidayati juga membagi puisi-puisinya ke dalam beberapa sub bab yakni 1. Senandika berisi 16 puisi, 2. Petilasan Waktu berisi 11 puisi, 3. Labirin Sunyi berisi 19 puisi, 3. Ziarah Kembang Kamboja berisi 7 puisi, 4. Tulang Rusuk Payung berisi 5 puisi.

Mahroso Doloh (Penyair Patani) dan Kurnia Hidayati (Penyair Batang), memiliki kesamaan yakni mengambil judul buku puisi dari salah satu puisi yang dimuat ke dalam buku. Kesamaan kedua membagi bukunya ke dalam empat sub pembahasan. Namun dalam pembahasan ini saya memilih puisi Kiblat Cinta karya Mahroso Doloh dan Batang, Suatu Malam karya Kurnia Hidayati atas pertimbangan, Kiblat Cinta merupakan intisari dari tema cinta yang diusung oleh Mahroso Doloh dalam bukunya, sementara Batang, Suatu Malam karya Kurnia Hidayati dipilih karena Batang merupakan tanah kelahiran penyair dan mengungkap nafas penyair akan tanah kelahirannya menjadi hal yang menarik.

Kiblat Cinta disampaikan dalam empat bait yang membahas tentang cinta berikut kemelut yang menyertainya sementara Batang, Suatu Malam oleh Kurnia Hidayati disampaikan dalam dua bait yang menggambarkan hidup di Batang beserta kegetiran yang meriasnya.

Dalam bait pertama Mahroso Doloh, penyair dari Patani menulis, Kemana akan kusimpan sebuah cinta/jika aksara tak menjadi kata-kata/bahkan terucap hanya terpaksa/menjadi ombak hanya ketika//

Ada masa getir di mana seorang manusia tak henti ditumbuhi bimbang, ianya menemukan jalan buntu dan kehilangan cara terbaik dalam mengekalkan cinta. Masa sulit tersebut membuat manusia dalam posisi serba salah. Keterpaksaan yang dipelihara hanya menimbulkan gejolak dalam jiwa dan tak ada ketenangan menerpa.

Dalam bait kedua Mahroso Doloh mengungkap kemungkinan dan harapan yang hendak diraih, ianya pun menulis, dalam puisi menggunung cinta/mencari arah tak terhingga/tak ingin cinta;/yang menjadi titi neraka//

Kemungkinan tentang adanya cinta yang menggunung diungkapkan Mahroso Doloh bermukim dalam puisi. Puisi dipercaya bisa menjadi jalan alternatif untuk menemukan dan menebarkan cinta dengan harapan tak ada lagi jalan kepedihan memanjang dan dipajang.

Bait ketiga merupakan ketegasan yang ditampakkan Mahroso Doloh dalam menepikan duka, mengusir segenap kemelut dan menukar kamar yang gelap, pengap dengan jalan cahaya, yakni menjadikan sela-sela malam sebagai waktu bertaubat. Sela-sela malam bisa kita tafsirkan waktu malam bisa pula kita tafsirkan saat melakukan kesalahan kita mengkondisikan diri untuk bertaubat, demikian yang ditegaskan oleh Mahroso agar kita tak terlalu larut dalam jalan kelam.

Bait keempat adalah bait pamungkas yang menggambarkan kehidupan manusia yang tak henti berada dalam pencarian dan yang menjadi pusat pencarian adalah kiblat cinta. Mengapa mesti Kiblat Cinta yang tak pernah usai dicari karena Kiblat Cinta adalah bagian tervital dari hidup. Jika dalam agama Islam kiblat shalat adalah ka'bah maka sejatinya kiblat cinta adalah Allah sebab ianya pusat segala cinta. Sebab ampunanNya lebih besar dari amarahNya, sebab karuniaNya tak pernah tuntas diceritakan meski laut jadi tinta dan langit jadi kertasnya.

Intisari dari puisi kiblat cinta adalah gambaran manusia dalam mencari kiblat cinta dan ketika jalan yang ditempuh sangat kelam, sangat menakutkan maka taubat bisa dijadikan jalan untuk menemukan kiblat cinta sementara kiblat cinta itu sendiri adalah Allah.

Kurnia memotret kehidupan di Batang dalam dua bait. Ada rupa perih pedih yang diperkelkan semacam suasana hidup yang muram. Ada gambaran yang menarik di samping Batang yang muram yakni lampu-lampu berbaris haru. Lalu muncul dalam benak seperti apakah lampu-lampu berbaris haru? apakah ianya kiasan tentang perjuangan di lampu merah tentang bocah-bocah yang tak menyerah pada ketakberbadayaan atau ibu-ibu yang mempertaruhkan diri berjuang demi kembali menghadirkan senyum putra-putrinya atau pula lukisan para lelaki yang tak lelah berjuang demi membahagiakan orang-orang yang dicintai sehingga ianya melahirkan haru bagi tiap mata hati yang berhasil terketuk oleh tangan takjub. Tak hanya itu, Kurnia juga mengabarkan  tentang nasib anak-anak puisi yang piatu di bait pertamanya, berikut penuturan Kurnia lengang jalan ini, senantiasa memajang lanskap muram/lampu-lampu berbaris haru/mengeram masygul dan sesunggukan, menangisi anak-
anak puisi yang piatu//

Ternyata Batang juga memiliki rupa yang dirias kesibukan  dan kehidupan yang tak pernah sepi dari pertarungan-pertarungan yang memilukan dan ratapan bocah-bocah terabaikan, yang dalam  penuturan penyair digambarkan menangisi anak-anak puisi yang piatu.

Dalam bait kedua, Kurnia menuturkan kehidupan di Batang yang sudah  modern, mobil-mobil melintas menyuguhkan suara klakson yang
lekas
dirampas udara tanpa aba-aba
seperti pekik tajam bunyi yang memecah membran sunyi
ketika malam bagai lambaian tangannaik turun,
mengingkari detik jam yang berdegup
diintai mimpi

Kehidupan modern tak bisa ditolak kiranya demikian yang hendak ditegaskan oleh Kurnia dan hal itulah yang kini dialami oleh Batang, tempat penyair Kurnia dilahirkan. Di sisi yang lain Kurnia juga mengungkap keprihatinan pada Batang sebab kemodernan menelan keakraban, harta warisan moyang yang paling mahal.

Madura, 4 Juli 2015
Biodata Penulis
Hanya seorang penikmat puisi, yang lahir dan dibesarkan di dunia pesantren.